
"Ampun... Ampun, Tuan Pendekar!" Tetua bertubuh pendek yang tersisa mengubah posisinya dari berbaring kini menjadi berlutut.
Sebenarnya Tetua bertubuh pendek itu sudah sadar tidak lama keempat rekannya berhadapan dengan Arga, tetapi dia memutuskan untuk pura-pura tidak sadarkan diri karena tidak ingin ikut bertarung dengan Arga.
"Jika kau memberikan informasi yang memuaskan, mungkin aku akan mengampunimu." Arga berjalan ke arah Tetua itu.
Setelah kurang dari satu langkah lagi, Arga menghentikan langkahnya dan berkata, "Berdiri!" Dengan cepat Tetua itu berdiri mengikuti perintah Arga.
Tidak membuang waktu lama, Arga menotok Tetua itu di bagian dada dan lehernya yang membuat Tetua itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya kecuali mata dan mulutnya.
"Sebaiknya kau dalam posisi seperti ini selama menunggu Saudara Widura menyembuhkan dirinya." Arga kemudian duduk di dekat sebuah pohon dan menyenderkan kepalanya.
Selama satu jam Arga dan Tetua bertubuh pendek itu menunggu Widura memulihkan kondisinya.
Akhirnya Widura membuka matanya, dia menelisik ke berbagai Arah untuk mencari, "Saudara...!" Hal yang pertama kali Widura lakukan adalah mencari keberadaan Arga.
Arga yang mendengar ada yang memanggil namanya membuka matanya, dia menemukan itu adalah Widura.
"Saudara Widura, kau sudah selesai memulihkan dirimu." Arga berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Widura.
"Berkat dirimu aku sudah pulih sepenuhnya." Widura menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Arga.
"Tidak perlu sungkan!" Arga menggelengkan kepalanya sambil memegangi bahu Widura.
Keduanya berbincang-bincang sedikit dan Arga memperkenalkan dirinya sebelum Widura mengalihkan pandangannya ke arah Tetua perguruan Sanca Hitam bertubuh pendek yang bernama Jigur itu.
Widura belum menyadari bahwa Arga adalah Pendekar yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga. Tepatnya dia tidak berpikir untuk mengaitkannya dengan pemuda di hadapannya itu.
"Saudara Arga, dimana Tetua perguruan Sanca Hitam yang lainnya. Apakah mereka berhasil melarikan diri?" Raut wajah Widura sedikit buruk, karena dia tidak menemukan Tetua perguruan Sanca Hitam yang lainnya.
Arga tersenyum tipis sebelum menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu takut Saudara Widura, tidak ada lagi tubuh yang tersisa dari keempat Tetua perguruan Sanca Hitam itu. Bukankah begitu Tetua Jigur?" Arga menoleh ke arah Tetua Jigur yang masih tidak bergerak karena totokan Arga.
"Be... Benar Pendekar Widura, Pendekar Arga ini sudah membuat Saudara-saudaraku hancur tanpa sisa." Tetua Jigur ketakutan, bahkan dia tidak berani lama-lama memandang wajah Arga.
"Pendekar Arga, bolehkah aku menanyakan satu hal?" Tetua Jigur memberanikan dirinya.
__ADS_1
"Silahkan!"
"Apakah hanya kebetulan saja, atau memang Anda adalah Pendekar yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga?"
Arga diam sejenak, lalu dia menatap Tetua Jigur sejenak, tatapan itu berhasil membuat kaki Tetua Jigur lemas dan jantungnya berdetak dengan kencang dan rasanya ingin copot.
Sementara itu, Widura juga memandangi Arga dengan tatapan penuh penasaran.
Arga menghela nafasnya kemudian dia mengangguk dan berkata, "Kebanyakan orang-orang menyebutku demikian." Arga kembali tersenyum tipis.
Tidak ada kata-kata lagi yang terucap oleh mulut Tetua Jigur setelah itu. Dia hanya berharap Arga akan melepaskannya.
Di sisi lain, Widura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia memandangi Arga sekali lagi, kali ini perasaan takjub dan kekaguman yang lebih tinggi lagi dia rasakan kepada Arga.
"Aku... Aku tidak menyangka saudara Arga adalah orang yang sama dengan Pendekar Pedang Tujuh Naga." Widura menjadi sedikit canggung, bagaimanapun dia sudah banyak mendengar sepak terjang Arga. Dan baru-baru ini lagi, Arga membuat namanya kembali di perbincangkan dunia setelah membunuh pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya. Di tambah lagi ada informasi Arga juga menghadapi Pendekar Pencabut Nyawa dan Sembada yang lebih dikenal dengan Pendekar Tombak Iblis.
"Tidak perlu bersikap seperti itu Saudara Widura. Perasaanku jadi sedikit terganggu." Arga tertawa kecil.
"Ah, baiklah kalau begitu." Widura mengangguk, "Lalu, apa yang akan Saudara Arga lakukan kepadanya?" Widura menunjuk Tetua Jigur.
"Aku ingin mencari beberapa informasi darinya." Arga berjalan perlahan-lahan mendekati Tetua Jigur, sedangkan jantung Tetua Jigur bertambah cepat saat Arga mendekatinya.
Tatapannya itu bukanlah tatapan biasa, tetapi karena ada sosok yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan di atas pohon itu.
*****
Seorang pemuda yang berusia sekitar 30 tahun awal menahan nafasnya saat tiba-tiba dia melihat Arga menatap ke arahnya.
"Apakah dia menyadari keberadaan ku?" Pemuda itu bertanya dalam hatinya, dia adalah mata-mata dari perguruan Sanca Hitam. Kemampuannya sangat terkenal tinggi sebagai mata-mata, mungkin hanya ada kurang dari dua puluh orang yang akan menyadari keberadaannya.
"Sebaiknya aku pergi dan melaporkan semua ini kepada Ketua, atau aku akan mendapatkan masalah." Pemuda itu dengan cepat meninggalkan tempat itu dan jantungnya masih terus berpacuh dengan cepat.
Satu hal yang menggangu pikirannya adalah, dia tidak berhasil mengetahui nama pemuda yang dilihatnya mempunyai kemampuan sangat tinggi itu.
*****
__ADS_1
"Yang pertama ingin aku tanyakan adalah, kenapa kalian menyerang Saudara Widura?"
"Ah itu Pendekar, Ketua kami menginginkan kitab pusaka yang ada di tangan perguruan Bunga Matahari."
"Lalu apakah kalian mengetahui keberadaan kitab itu?"
"Tidak Pendekar, kami tidak mengetahui keberadaannya, tetapi kami mengetahui bahwa kitab pusaka itu dibawa oleh Pendekar Widura, sebab itulah kami mengejarnya."
Arga menatap Tetua Jigur, mencari tahu apakah dia berbohong atau tidak, tetapi dia melihat Tetua Jigur berkata benar.
Sementara Widura hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
"Selanjutnya, apakah kau mengetahui tentang Bunga Mawar Hitam?" Kali ini Arga bertanya lebih serius.
"Maaf Pendekar, tetapi aku tidak mengetahuinya." Jawab Tetua Jigur sambil ketakutan.
Di sisi lain, Widura menggaruk-garuk kepalanya, dia mengingat-ingat sesuatu.
"Ah, sekarang aku mengingatnya."
"Mengingat apa saudara Widura?" Arga menoleh Widura yang berada disampingnya.
"Tentu saja tentang Bunga Mawar Hitam, saudara Arga." Widura tersenyum lebar, dia merasa ini adalah kesempatan untuknya membantu Arga.
"Benarkah itu Saudara Widura?" Kali ini perhatian Arga sepenuhnya sudah kepada Widura.
"Iya, benar Saudara Arga." Jawab Widura.
"Kalau begitu, kau tidak diperlukan lagi." Arga menoleh ke arah Tetua Jigur.
"Melepaskanmu akan menambah masalah, jadi sebaiknya aku membunuhmu." Arga tersenyum lebar dan penuh arti.
"Tunggu... Tunggu Pendekar Arga, jangan bunuh aku. Bukankah kau sudah berjanji sebelumnya." Tetua Jigur menjadi panik dan ketakutan.
Arga menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak, aku tidak pernah berjanji akan melepaskanmu, bukankah tadi aku berkata mungkin." Arga menyeringai.
__ADS_1
"Tetapi anggaplah aku melepaskanmu, tetapi aku tidak yakin saudara Widura demikian, setelah kalian ingin membunuhnya." Arga tersenyum penuh arti kepada Widura.
Widura mengangguk, dia mencabut pedang dari sarungnya dan menebas leher Tetua Jigur.