Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Pulang


__ADS_3

Berpikir tidak ada lagi urusan di pulau Dewata, Arga langsung mengajak Widura untuk kembali ke pulau Jawa.


Menurutnya sudah cukup lama dia pergi meninggalkan pulau itu.


'Mengapa dia mengikuti kami' Arga menggelengkan kepalanya setelah merasakan bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka. Arga tahu betul bahwa orang itu adalah Kirana Larasati, putri raja siluman buaya.


Tidak tahu apa tujuan gadis itu, akhirnya Arga memilih untuk mendiamkannya saja.


Arga dan Widura melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.


*****


Tiga hari sudah berlalu, sekarang Arga dan Widura sudah sampai di kota pertama mereka mendarat di pulau Dewata.


"Saudara Widura, sebaiknya kita mengisi perut terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat ini." Ajak Arga.


"Kalau begitu ayo, aku juga sudah lapar. Selama hampir dua Minggu di Lembah Iblis Kematian membuatku merindukan makanan." Widura tersenyum canggung.


Keduanya akhirnya mendatangi warung makan yang pertama kali mereka kunjungi saat mendarat di pulau Dewata.


Sesampainya disana, seperti sebelumnya. Malika langsung menyambut para tamu yang memasuki warung mereka.


"Pendekar, kalian-" Malika menghentikan kata-katanya. Dia masih mengingat betul bagaimana Arga mengalahkan Lima Pendekar dari Gua Rang Reng dengan mudah.


"Silahkan masuk Tuan Pendekar. Maafkan kelancanganku sebelumnya." Sikap Malika menjadi begitu hormat kepada Arga dan Widura.


Baik Arga maupun Widura tentu menyadari hal tersebut. Tetapi mereka memilih tidak membahasnya lebih jauh.


Arga dan Widura memesan makanan yang cukup banyak karena mereka sudah hampir dua Minggu tidak mengisi perut.


Setelah hidangan sampai, keduanya makan dengan lahap sambil di selingi arak yang nikmat.


"Ini baru makan!" Ucap Widura setelah bersendawa.


Mendengar hal tersebut, Arga hanya tertawa-tawa kecil.


Walaupun dia tidak membuka suaranya, tetapi dia juga menyetujuinya.


Setelah selesai makan, Arga memanggil Malika. Dia membayar makanan tersebut dan memberikan bayaran lain untuk menanyakan informasi.


"Apa kau punya informasi tentang pangeran Rendra dari pulau seberang yang menikahi putri raja kerajaan Bulan Sabit ini?" Tanya Arga.


Malika sedikit terkejut mendengar pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu apa hubungan tuan Pendekar dengan hal tersebut?" Tanya Malika untuk memastikan.


Menurutnya informasi ini cukup beresiko, dia sudah melihat sendiri kemampuan Arga.


Bagaimana jika kedua pemuda ini berniat membunuh pangeran Rendra? Bukankah itu adalah sesuatu yang sangat besar.


Tentu saja Malika khawatir tentang hal tersebut. Jika pikirannya memang benar, maka dia akan dalam masalah.


Mengetahui hal tersebut, Arga tertawa kecil. Tampaknya yang dilakukannya kepada Lima Pendekar dari Gua Rang Reng membuat Ingatan yang mendalam pada Malika.


Tidak ingin membuat gadis itu salah paham, Arga langsung menjelaskan hubungan dirinya serta Widura dengan pangeran Rendra.


Walaupun Arga sudah mengatakan bahwa dia dan Widura adalah saudara angkat pangeran Rendra, Malika masih belum mempercayainya. Dia masih ragu untuk menjelaskannya.


Tetapi setelah Arga memperlihatkan sebuah giok khusus yang dibuat dengan pahatan indah dan di salah satu sisinya terdapat tulisan Anggota Kerajaan Samudra. Malika mempercayainya.


Walaupun dirinya berasal dari pulau Dewata, sebagai penyedia informasi, tentu dia mengetahui giok khusus tersebut.


Giok khusus itu adalah giok yang hanya dimiliki oleh raja kerajaan Samudra dan keturunannya. Tidak sembarangan orang bisa memilikinya.


Kali ini Malika menjadi lebih percaya kepada Arga dan Widura.


Malika mulai menjelaskan bahwa rombongan pangeran Rendra sudah meninggalkan pulau Dewata tiga hari yang lalu.


Gadis itu juga mengatakan bahwa pernikahan pangeran Rendra dan putri raja kerajaan Bulan Sabit berjalan dengan baik. Tidak ada gangguan ataupun masalah yang lainnya. Malika memberitahukan ini karena menurutnya Arga dan Widura ingin mengetahuinya.


Mendengar hal tersebut, Arga dan Widura mengangguk pelan dan berterima kasih.


"Nona Malika, kapan jadwal dari kedatangan kapal untuk kembali ke pulau seberang?" Tanya Arga kembali.


"Hem, biasanya setiap hari akan ada tiga kapal yang terbagi saat pagi, siang dan sore." Kemudian Malika memandangi langit, "Ah tampaknya sebentar lagi akan datang."


Benar saja, baru beberapa menit Malika menjelaskan sudah terdengar bunyi dari sirine kapal.


"Nona Malika, terima kasih atas semua bantuanmu. Jika Nona sedang berkunjung ke pulau Jawa, Nona bisa mencariku atau saudara Widura di kerajaan Kalingga." Ucap Arga.


Mendengar hal tersebut membuat Malika menjadi malu dan salah tingkah.


'Apa maksud Pendekar Arga ini' Malika tidak tahu, tetapi jantungnya berdebar kencang setelah mendengar perkataan Arga.


"Ten-Tentu tuan Pendekar! Ku harap saat diriku berkunjung kesana tidak akan merepotkan Pendekar!" Balas Malika dengan sedikit terbata-bata.


Mendengar hal tersebut, Arga tersenyum tipis dan mengangguk.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Widura menggelengkan kepalanya, "Saudara Arga, entah kau sadari atau tidak kau akan membawa kesalahpahaman di masa depan!" Widura bergumam di dalam hatinya.


Widura mengingat betul bahwa Arga sanggup mengorbankan nyawanya untuk mencari Bunga Mawar Hitam itu demi istrinya.


Widura juga mengingat bahwa putri raja siluman buaya juga mengikuti mereka. Widura tahu bahwa itu ada hubungannya dengan Arga. Dan sekarang, nona Malika sepertinya salah paham juga dengan ajakan Arga.


Widura hanya menghela nafasnya panjang dan berharap Arga bisa menyelesaikan masalah ini di masa depan.


Takut tertinggal kapal, akhirnya Arga mengajak Widura untuk segera pergi.


Keduanya memberi hormat kepada Nona Malika sebelum meninggalkan warung makan itu.


Setelah Arga dan Widura tidak terlihat lagi. Nona Malika bergegas menemui kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu, aku ingin mencari pengalaman di pulau seberang." Ucapnya dengan mendadak yang membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Kenapa kau tiba-tiba memiliki keinginan tersebut?" Tanya ibu Nona Malika dengan heran.


Sementara ayahnya walaupun tidak berpendapat tetapi mengangguk menyetujui pertanyaan istrinya.


Nona Malika menjadi bingung harus berkata apa, jika dia mengatakan karena ingin menyusul Arga, tentu itu tidak akan di setujui.


Akhirnya dia mengatakan untuk belajar berdagang dan mempromosikan makanan di pulau Jawa. Siapa tahu mereka bisa membuat cabang disana.


Mendengar hal tersebut membuat kedua orang tuanya menyetujui keputusan Malika. Tetapi keduanya mengatakan Malika bisa pergi dalam satu Minggu ke depan.


Karena disetujui oleh kedua orang tuanya, tanpa Malika sadari dia begitu kegirangan. Sampai-sampai dia melompat-lompat dan memeluk kedua orang tuanya itu.


Hal tersebut di saksikan oleh para pengunjung warung makan itu. Mereka hanya bisa terkejut dan membentuk huruf O di mulut mereka.


Kebanyakan pengunjung warung makan itu sudah cukup sering makan disana dan mereka tidak pernah melihat Malika besikap demikian. Itu pertama kali mereka melihatnya.


Menurut mereka, Nona Malika ini memiliki kepribadian unik.


Merasa malu karena orang-orang menatapnya. Nona Malika hanya bisa memalingkan wajahnya dan mengumpat, "Apa yang salah denganku. Apakah kalian tidak pernah merasakan jatuh cinta." Gerutunya dalam hati.


Sebenarnya sampai saat ini Malika juga masih bingung. Bagaimana dia bisa menyukai Arga. Padahal pertemuan mereka begitu singkat. Tetapi entah mengapa setelah dia melihat wajah Arga dan melihat kemampuannya. Dia langsung jatuh cinta.


Akhirnya, Malika tidak sabar menunggu satu minggu ke depan untuk pergi ke pulau Jawa.


*****


**HAI-HAI SAYA DISINI!

__ADS_1


SAYA HANYA INGIN MENYAMPAIKAN BAHWA SEBENTAR LAGI PPTN AKAN SEGERA TAMAT. MUNGKIN BEBERAPA CHAPTER LAGI. SEMOGA KALIAN MENYUKAI CERITA INI YA.


JANGAN LUPA JUGA UNTUK MENGUNJUNGI KARYA TERBARUKU, JUDULNYA Poison King of Sword GAK KALAH SERU LHO**!


__ADS_2