
Sekitar sehari perjalanan dari Desa Segawon, Arga dan Nilawati akhirnya sampai di depan pintu gerbang Kotaraja kerajaan Medang Kemulan.
Keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang istana. Arga dan Nilawati melihat ada sekitar empat orang prajurit sedang berjaga di depan pintu gerbang itu. Mereka mendekat dan memberi salam kepada para prajurit itu dan menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Maaf Kisanak, aku mendengar beberapa waktu yang lalu ada sebuah sayembara yang diadakan oleh raja Kerajaan Medang Kemulan. Dalam informasi itu kami mendapatkan bahwa yang mulia raja Sungsang Geni mencari orang yang bisa menolong putri Anandita."
"Hem, apakah kalian tabib atau pendekar?" Salah seorang prajurit maju untuk menjawab pertanyaan Arga.
"Kami bisa dibilang pendekar."
"Yang mulia raja memang sedang mencari tabib maupun pendekar yang bisa menolong putri Anandita. Kalian tunggu disini, aku akan melaporkannya kepada pihak kerajaan."
"Baik Kisanak."
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya datang seseorang menyambut mereka. Orang itu terlihat seperti pria yang berusia 30 tahunan. Rambutnya panjang sekitar sebahu, dengan mahkota terpasang di kepalanya.
"Maaf Kisanak, apakah benar Kisanak dan Nisanak ingin membantu Dinda Anandita." Ternyata sosok yang menemui Arga adalah pangeran Wirang Geni. Putra sulung sekaligus putra mahkota dari kerajaan Medang Kemulan.
"Salam pangeran, benar kami ingin mencoba membantu putri Anandita semampu kami." Arga dan Nilawati membungkuk memberi hormat kepada pangeran Wirang Geni.
"Kalau begitu mari ikut aku masuk." Pangeran Wirang Geni mengajak Arga dan Nilawati masuk ke dalam istana.
Memang istana kerajaan Medang Kemulan lebih kecil dibandingkan istana kerajaan Kalingga.
Kerajaan Medang Kemulan adalah salah satu kerajaan yang bernaung di bawah kerajaan Kalingga. Saat mereka mendengar berita bahwa terjadi pemberontakan di kerajaan Kalingga, sebenarnya mereka ingin memberikan bantuan. Tetapi setelah mendengar keesokan harinya Pemberontakan itu sudah selesai dan kerajaan Kalingga memenangkan pertempuran, mereka akhirnya mengurungkan niat mereka. Karena dari kerajaan Medang Kemulan ke kerajaan Kalingga saja bisa menempuh jarak seminggu lebih jika berjalan kaki.
Saat mereka memasuki sebuah ruangan, terlihat pria paruh baya sedang duduk di kursi singgasananya.
__ADS_1
Yah, pria paruh baya itu adalah yang mulia raja Sungsang Geni. Seorang pria berusia sekitar 50 tahunan, dengan tubuh yang gemuk dan memancarkan aura kepemimpinan yang tinggi.
Pangeran Wirang Geni memberi salam kepada yang mulia raja Sungsang Geni disusul oleh Arga dan Nilawati.
"Ayahanda raja, Ananda membawa kedua pendekar ini karena mereka ingin mencoba menolong Dinda Anandita." Pangeran Wirang Geni berdiri dan berjalan ke arah sebelah kanan dari tempat duduknya raja Sungsang Geni.
Raja Sungsang Geni berdiri dan menyambut dengan baik. Dia mempersilahkan Arga dan Nilawati untuk duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Dia duduk kembali dan menenangkan dirinya.
"Apakah benar Kisanak dan Nisanak ingin mencoba menolong putri yang mulia ini?" Dia menatap ke arah Arga dan Nilawati dengan mata yang memerah seperti sudah lama menahan air matanya.
Lalu raja Sungsang Geni menyambung kata-katanya, "Sebelumnya sudah ada puluhan tabib dan pendekar yang mencoba, tetapi setelah mereka memeriksa beberapa saat, kebanyakan dari mereka menolak dan tidak sanggup membantunya. Ada juga yang tewas setelah berhadapan dengan sosok yang berdiam di tubuh putriku. Sampai-sampai sudah 3 hari belum ada lagi yang menemui ku untuk mencobanya lagi." Dari penyampaian perkataannga raja terdapat kesedihan dan keputusasaan.
Memang sudah sekitar 3 hari terakhir tidak ada lagi orang yang berani mencoba menolong putri Anandita setelah mendengar banyaknya tabib dan pendekar yang tidak bisa mengobatinya bahkan ada juga yang tewas.
Bahkan tabib kerajaan Medang Kemulan sendiri juga tidak bisa menolongnya, padahal dia adalah tabib terbaik yang dimiliki kerajaan Medang Kemulan.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan kalian menemui putriku." Raja Sungsang Geni berdiri dan mengajak Arga dan Nilawati ke ruangan tempat putri Anandita berada. Pangeran Wirang Geni juga mengikuti mereka untuk melihat proses pengobatan adiknya.
Ketiganya sampai di ruangan putri Anandita berada, raja Sungsang Geni mempersilahkan Arga dan Nilawati untuk masuk. Raja Sungsang Geni juga memerintahkan para pelayan dan prajurit yang berjaga untuk keluar dari rungan itu.
Putri Anandita adalah gadis yang cantik, walaupun matanya sedang tertutup tetapi matanya sangat indah untuk dilihat. Tubuhnya sangat kurus, dan dia hanya terbaring kaku seperti mayat hidup.
"Kalian jaga jarak agak jauh dari sini." Arga memberi peringatan kepada Nilawati, raja Sungsang Geni dan pangeran Wirang Geni. Ketiganya menurut dan memberi ruang untuk Arga.
Arga kemudian duduk bersila di depan putri Anandita. Dia mencoba mencari tahu makhluk apa yang merasuki tubuh gadis itu. Arga memejamkan matanya, dia mengeluarkan Ajian Gineng.
Setelah beberapa saat Arga berhasil melihat sosok itu dengan mata batinnya, sosok siluman itu berwujud seperti kerbau, bertanduk panjang dan matanya berwarna merah serta memiliki taring yang panjang.
__ADS_1
"Siapa kau?" Siluman Kerbau itu membentak Arga dan marah karena mengganggunya.
"Kau yang siapa? Kenapa kau mengganggu dan merasuki tubuh wanita ini? Apa yang kau inginkan darinya?" Arga mencoba berbicara kepada Siluman Kerbau itu dengan baik-baik dan bersikap tenang.
"Namaku Setan Kojer, tuan." Siluman Kerbau itu berubah menjadi hormat kepada Arga karena dia mengetahui Arga memiliki Ajian Gineng setelah melihat tubuh Arga memancarkan cahaya berwarna hijau di sekujur tubuhnya.
"Aku mengganggunya karena aku ingin balas dendam. Dia menolak cintaku beberapa waktu yang lalu." Setan Kojer berusaha jujur kepada Arga, karena dia mengetahui orang yang memiliki Ajian Gineng bukanlah orang biasa.
"Tidak... Kembalilah kau ke duniamu, disini bukan tempatmu. Kau memang tidak cocok dan tidak bisa bersama dengan gadis itu."
"Tidak tuan, aku tidak mau kembali sebelum mendapatkannya." Setan Kojer tetap bersikeras ingin mempertahankan keinginannya.
"Kalau begitu kenapa tidak langsung kau bawa saja dia, dengan kekuatanmu kau pasti dengan mudah bisa membawanya."
"Tidak tuan... aku memang mencintainya tapi aku tidak ingin membawanya ke dunia siluman."
"Kalau begitu kau harus mengubur dalam-dalam perasaanmu, karena kalian tidak akan bisa bersama."
"Tapi tuan..." Setan Kojer serba salah, dia sadar tidak akan bisa melawan Arga tetapi dia juga tidak ingin melepaskan putri Anandita.
"Pulanglah, aku tidak ingin melenyapkanmu. Atau begini saja, kau bisa menjadi penjaganya tidak perlu mengganggunya."
"Tidak tuan... aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membiarkan dia menikah dengan manusia." Setan Kojer tetap bersikeras mempertahankan keinginannya.
"Kalau begitu maafkan aku, aku terpaksa melenyapkanmu. Kau sudah menyalahi aturan kehidupan."
Arga menggunakan Ajian Melepas Roh yang didapatkan dari Kakek Pengemis.
__ADS_1