
Arga yang terus didesak oleh Nilawati akhirnya mengangguk, entah apa yang merasuki kedua pemuda-pemudi pada malam itu. Keduanya melakukan perbuatan yang hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah.
Arga dan Nilawati bercumbu mesra dengan nafas keduanya memburu, mereka sama-sama baru pertama kali melakukan itu. Arga dan Nilawati jatuh dalam kenikmatan dan tidak memikirkan apapun. Pada malam itu Arga melepas kelajangannya dan Nilawati melepas keperawanan.
Keduanya terus melakukannya sampai kelelahan. Akhirnya keduanya tertidur dengan posisi berpelukan dan dalam keadaan tidak memakai pakaian sedikitpun.
Keesokan harinya mereka bangun dan membersihkan diri untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Tidak lupa mereka memesan makanan terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka pagi itu.
Setelah selesai Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Arga memacuh kudanya dengan cepat dan kencang.
Tiga hari kemudian, perjalanan Arga dan Nilawati terhenti di sebuah hutan. Keduanya melihat seorang pria tua yang sedang dikepung oleh 3 orang pria yang jauh lebih muda darinya. Pria tua itu berusia sekitar 70 tahunan, dengan janggut, kumis dan rambut serta alis matanya panjang dan berwarna putih.
Sedangkan 3 orang yang mengepungnya itu berusia sekitar 30 sampai 40 tahunan. Ketiganya memakai pakaian berwarna merah dengan ikat kepala berwarna hitam.
Satu orang dari mereka berbadan gemuk dan gempal serta terlihat yang paling tua diantaranya. Satu orang lainnya berbadan kekar dan berisi serta memiliki tubuh yang cukup tinggi. Dan satu orang lagi berbadan kurus kering tetapi badannya tinggi menjulang.
Arga dan Nilawati terbang ke atas pohon untuk menyaksikan semuanya. Dengan pendengaran Arga yang sangat tajam, Arga dapat mendengar apa yang mereka katakan.
"Hei pak tua, serahkan lukisan itu kepada kami." Teriak pria yang berbadan gemuk dan gempal.
"Jangan keras kepala pak tua, cepat serahkan atau kau akan mati disini." Timpal pria berbadan kekar.
"Kami sudah lama mengejarmu pak tua, jadi serahkan saja lukisan itu maka kami akan mengampuni nyawamu."
__ADS_1
Pria tua itu tidak memperdulikan perkataan dari tiga orang itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ambil sendiri jika kalian mampu. Lagipula jika lukisan ini kuberikan kepada kalian, kalian juga tidak akan melepaskanku." Pria tua itu memasang kuda-kuda, dia sudah siap menerima serangan dari ketiga orang itu.
Ketiganya berdecak kesal karena perkataan pria tua itu. Mereka tidak menunggu lama lagi, akhirnya menyerang pria tua itu.
Serangan ketiganya cukup teratur, hal itu menunjukkan bahwa ketiganya memang sudah sering bertarung bersama. Akan tetapi pria tua itu tidak gentar sedikitpun, dia tetapi bersikap tenang dan menyambut serangan demi serangan dari ketiga pria itu.
Tapak demi tapak, pukulan demi pukulan berbenturan dari keempat orang itu. Pertarungan mereka sangat sengit dan cukup berimbang.
Tetapi lama kelamaan, pria tua itu menyadari bahwa dia tidak bisa lebih lama lagi menghadapi ketiga orang itu, karena staminanya yang sudah cukup berkurang akibat usianya yang sudah senja.
Akhirnya ketiga orang itu berhasil mendaratkan pukulan kepada pria tua itu. Saat mereka hendak mendaratkan serangan terakhir, tiba-tiba ada seorang pemuda menyerang mereka.
*****
Tetapi lama-kelamaan mereka sadar bahwa stamina pria tua itu sudah mulai habis dan nafasnya sudah memburu. Arga melirik ke arah Nilawati dan berkata, "Nila, kau bawa kuda kita ke arah sana, aku akan menemuimu setelah membantu menyelamatkan kakek tua itu." Setelah mengatakan itu Arga langsung terbang ke arah pertarungan itu tanpa melihat balasan dari Nilawati.
Nilawati menuruti perintah Arga, dia naik ke atas kuda dan memacuhnya ke arah yang diperintahkan Arga.
Di sisi lain, Arga melesat dengan cepat, kebetulan sekali kedatangannya disaat yang sangat tepat. Saat ketiga orang yang memakai pakaian berwarna merah-merah itu sedikit lagi mengenai pria tua, Arga menendang ketiganya dan berhasil membuat mereka terpental karena tidak siap menerima serangan Arga yang secara tiba-tiba.
Arga tidak menunggu lama lagi, dia menarik tangan pria tua itu dan membawanya terbang bersamanya.
Ketiga pria itu berdecak kesal kepada Arga, mereka tidak bisa melihat wajah dari sosok yang membuat mereka terpental itu. Tapi melihat bentuk tubuhnya dari belakang, mereka menebak sosok itu adalah pria yang masih muda, jauh lebih muda daripada mereka.
__ADS_1
Ketiganya memegangi dada, karena tendangan Arga cukup kuat dan dialiri tenaga dalam yang cukup besar. Mereka hanya bisa menyaksikan Arga membawa pria tua itu pergi bersamanya dan membawa lukisan yang selama ini mereka kejar.
Saat Arga dan pria tua itu sudah terbang cukup jauh dan Arga melihat kebelakang ketiga pria itu tidak mengikuti mereka, akhirnya Arga turun dan membaringkan tubuh pria tua itu di bawah sebuah pohon. Pria tua itu mengalami luka parah, akibat serangan ketiga pria yang menjadi lawannya.
Tidak lama kemudian akhirnya Nilawati menemukan Arga dan pria tua itu. Dia langsung turun dari kudanya dan memegang pundak Arga sambil bertanya, "Arga, apa yang terjadi kepada kakek ini?" Dia mengerutkan dahinya melihat luka yang diterima oleh pria tua.
"Aku tidak tahu, tetapi aku melihat beliau terkena pukulan dari ketiga lawannya tadi." Arga menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apa yang terjadi. Pria tua itu sudah pingsan akibat luka parah yang dideritanya.
Arga menyuruh Nilawati mengubah posisi pria tua itu menjadi duduk dan memeganginya. Arga akan mencoba mengalirkan tenaga dalamnya.
Nilawati mengangguk, dia langsung memegangi kedua pundak pria tua itu.
Arga mengalirkan tenaga dalamnya dari belakang pria tua itu, tidak lama kemudian kakek tua itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Akhirnya pria tua itu sadar, tetapi kondisinya masih sangat lemah.
"Terima kasih, Kisanak, Nisanak. Kalian sudah menolong pak tua ini." Pria tua itu mengarahkan pandangannya kepada Arga dan Nilawati.
"Kisanak, Nisanak, usiaku tidak akan lama lagi. Aku melihat kalian adalah orang yang baik. Aku ingin kalian menerima lukisan ini, anggap saja sebagai bayaran kalian telah menyelamatkanku. Di dalam lukisan itu terdapat rahasia semua ilmu kanuragan yang aku miliki." Sambung pria tua itu sambil memberikan lukisannya kepada Arga.
"Tapi..." Arga belum menyelesaikan kata-katanya, tetapi pria tua itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Arga menghela nafasnya, dia akhirnya menutupkan mata pria tua itu yang masih terbuka. Dia melirik Nilawati dan menggendong tubuh pria tua itu untuk dikuburkan dengan layak.
Setelah mereka selesai menguburkan pria tua itu, keduanya berjanji akan menjaga dan mempelajari lukisan itu. Keduanya juga berterima kasih kepada pria tua itu dan mendoakan agar pria tua itu tenang di alam seberang sana.
__ADS_1