Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Informasi Penting


__ADS_3

Ternyata pada saat sebelum Siluman laki-laki berhasil Arga taklukkan, Nilawati sudah berhasil menaklukkan Siluman wanita. Tapi Nilawati tidak ingin membunuh siluman wanita itu sebelum mendapatkan perintah dari Arga.


Nilawati memilih menonton pertarungan Arga dengan Siluman laki-laki, sedangkan Siluman wanita sibuk memulihkan kondisinya dan juga dia terus mengamati pertarungan Arga dengan suaminya.


Akan tetapi setelah beberapa saat, Siluman laki-laki sudah bisa Arga taklukkan dan sekarang Arga akan mendaratkan pukulan terakhirnya kepada Siluman laki-laki. Tentu saja Siluman wanita sangat panik dan takut.


Dengan kondisinya yang luka parah, dia berteriak sebelum Arga mendaratkan pukulan terakhirnya, "Tunggu pendekar!" Itulah ucapan yang keluar dari mulutnya.


Siluman wanita berdiri sambil memegangi dadanya yang sakit dan berkata, "Pendekar muda, saya tahu kalian berdua adalah manusia yang bijaksana. Saya mohon lepaskan suami saya, sebagai gantinya kalian berdua boleh membunuh saya.


Mohon pikirkan bangsa kami pendekar, jika tidak ada suami saya, maka bangsa dan kerajaan kami akan hancur dan bisa terjadi perang saudara." Siluman wanita itu sudah bersujud kepada Arga dan Nilawati.


Arga dan Nilawati yang mendengar hal itu tersentuh hatinya, mereka tidak menyangka Siluman wanita itu menyerahkan nyawanya sendiri demi suaminya.


Di sisi lain, Siluman laki-laki memandangi siluman wanita, dia sangat beruntung memiliki istri yang setia kepadanya.


Tetapi dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Pendekar muda, jangan dengarkan dia, bunuh saja aku. Tolong lepaskan istriku." Siluman laki-laki pun bersujud kepada Arga dan Nilawati.


Arga berpikir sebentar sebelum berkata, "Aku akan melepaskan kalian berdua!" Nilawati menengok ke arah Arga tetapi tidak berkata apa-apa. Dia menyerahkan semua keputusan kepada kekasih yang sangat dicintainya itu, karena dia tahu bahwa apapun yang Arga putuskan itulah yang terbaik.


Sementara itu Siluman laki-laki dan Siluman wanita saling berpandangan sebelum berkata, "Apa... Apakah benar Pendekar berdua akan melepaskan kami."

__ADS_1


"Kalau boleh tahu siapakah nama kedua Pendekar?" Siluman wanita memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu kepada Arga.


"Namaku Arga dan dia kekasihku Nilawati." Arga menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum tipis. Lalu dia menyambung kata-katanya "Aku akan melepaskan kalian berdua, tapi dengan syarat!" Arga berkata kepada kedua Siluman itu.


"Apa syaratnya Pendekar?" Pasangan suami istri Siluman itu bertanya bersamaan.


"Yang pertama, kalian tidak boleh mengganggu bangsa manusia, hiduplah kalian berdampingan dengan bangsa kami. Yang kedua, kalian bisa menjamin bangsa kalian tidak mengganggu bangsa Manusia. Yang ketiga, jadilah Raja dan Ratu yang baik untuk wargamu. Jika kalian berjanji maka aku akan melepaskan kalian. Ingat, janji harus ditepati, walaupun kalian berdua siluman tetapi pastinya kalian tahu bahwa pendekar memegang kata-katanya. Jika kalian melanggar, maka aku sendiri yang akan mendatangi kalian dan memusnahkan bangsa kalian." Arga berkata pelan, tetapi sangat cukup untuk didengar oleh kedua siluman itu dan membuat tubuh mereka bergetar hebat.


Kedua siluman itu diam sebentar sebelum berkata, "Baik... Baik Pendekar, terima kasih. Kami akan menepati janji kami. Dan tuan dan nyonya Pendekar sekarang adalah keluarga kami. Ambil ini!" Siluman laki-laki itu menyerahkan sebuah cincin berwarna merah muda. Cincin itu mengeluarkan kekuatan yang sangat dahsyat. Sedangkan siluman wanita menyerahkan sebuah kalung. Lalu siluman laki-laki itu menyambung kata-katanya, "Jika kalian bertemu dengan bangsa kami, kalian cukup menunjukkan cincin dan kalung itu, maka bangsa kami akan menghormati kalian dan menuruti semua perintah kalian.


"Baiklah, terima kasih. Kalian boleh pergi." Arga mengangguk dan mempersilahkan kedua siluman itu pergi.


Kedua siluman mengangguk dan berkata, "Jangan lupa mampir ke kerajaan kami tuan dan nyonya Pendekar." Kemudian keduanya menghilang dari pandangan Arga dan Nilawati.


*****


Waktu terasa begitu cepat, siang pun telah berganti menjadi malam. Arga dan Nilawati kini sedang berada di atas sebuah pohon. Keduanya memutuskan untuk bermalam di dalam hutan itu dan melanjutkan perjalanan.


Untunglah hari sangat cerah, bulan dan bintang pun bersinar terang. Tidur Arga dan Nilawati ditemani suara kicauan burung dan benturan-benturan ranting pohon. Seakan-akan suara-suara itu adalah suara musik yang sangat indah, yang membuat semakin nyenyak tidur.


Suara lolongan serigala pun juga terdengar, tetapi Arga dan Nilawati tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Pada keesokan harinya, keduanya bangun pagi-pagi sekali. Mereka melanjutkan perjalanan, tidak ada tujuan, keduanya hanya melangkah mengikuti arah angin membawa kemana. Mengikuti suara hati membawa kemana. Dan selalu mencari tempat kejahatan. Dimana ada kejahatan, maka Arga dan Nilawati akan berada disana. Itulah janji yang mereka buat.


Tetapi tetap saja, walaupun mereka sudah banyak menumpas kejahatan, kejahatan tidak akan ada habisnya. Tetapi itulah yang membuat dunia ini berwarna dan berimbang. Bayangkan saja jika di dunia ini hanya ada kebaikan, maka tidak akan ada tantangan dalam kehidupan, tidak akan ada orang yang berusaha menjadi lebih baik lagi.


Di dunia ini memang sudah seperti itu diciptakan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada kebaikan ada kejahatan dan begitu juga yang lainnya.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di sebuah Kadipaten. Nama Kadipaten itu adalah Kadipaten Purwodadi.


Arga dan Nilawati memutuskan untuk singgah ke sebuah warung disana. Arga dan Nilawati masuk, lalu memesan makanan.


Saat sedang menunggu pesanan mereka siap, keduanya mendengarkan percakapan-percakapan orang-orang disana. Memang, Arga dan Nilawati tahu bahwa mereka kebanyakan adalah Pendekar, terlihat dari pakaian dan senjata yang mereka bawa.


Saat ini Arga memusatkan pendengarannya kepada sekelompok orang yang sedang mengobrol di sebelahnya dan Nilawati.


Dari obrolan mereka, Arga bisa mendengar bahwa mereka sedang membicarakan sebuah kitab pusaka dan turnamen Jiwa Pemuda Putih yang akan dilaksanakan satu bulan lagi.


Sesuai namanya, turnamen Jiwa Pemuda Putih adalah turnamen yang diadakan oleh perguruan-perguruan silat aliran putih. Peserta yang boleh mengikuti turnamen ini adalah usia 15 tahun sampai 25 tahun, baik dari aliran putih maupun netral baik dari perguruan maupun pendekar-pendekar pengelana yang tidak memiliki perguruan.


Kitab Pusaka itu sedang terkenal di daerah sana dan sedang menjadi rebutan kalangan dunia persilatan.


Kitab itu bernama Kitab Pusaka : Ajian Serat Jiwa.

__ADS_1


Saat Arga mendengar Ajian itu, dia sangat terkejut, bagaimana tidak Ajian itu adalah Ajian yang sangat dahsyat. Ajian itu adalah salah satu Ajian terkuat di dunia persilatan.


Arga mengetahui Ajian itu dari cerita Mawar Bidara. Darinya jugalah Arga mengetahui bahwa Ajian itu sudah lama menghilang lebih lama daripada pedang pusaka Arga sekarang yaitu Pedang Tujuh Naga.


__ADS_2