Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih I


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu terasa begitu cepat. Sekarang adalah sehari sebelum dimulainya Turnamen Pemuda Putih. Hari ini juga pendaftaran sudah ditutup dan para peserta diminta untuk mempersiapkan diri.


Dua Minggu yang lalu, setelah kedatangan Arga dan Nilawati ke perguruan Bambu Kuning, Arga terus berlatih Ajian Serat Jiwa di ruangannya. Kali ini dia telah menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat ke tujuh dengan sempurna dan mulai memasuki tingkat ke delapan.


Sebaliknya, Nilawati terkadang keluar dari ruangan dan berkeliling perguruan Bambu Kuning serta mencari tahu informasi tentang Turnamen Pemuda Putih.


Setiap kali Nilawati mendapatkan informasi, dia selalu mengabarinya kepada Arga.


Beberapa informasi yang Nilawati dapatkan antara lain, peserta Turnamen Pemuda Putih berjumlah 350 Pendekar, dengan 300 Pendekar adalah perwakilan dari perguruan sedangkan sisanya adalah Pendekar pengembara sama seperti Arga dan Nilawati.


Informasi lainnya adalah beberapa perguruan yang mereka kenali juga ikut berpartisipasi dalam Turnamen ini antara lain, perguruan Elang Hitam dan perguruan Lembah Perawan.


Nilawati juga mendapatkan informasi bahwa ada perwakilan dari pihak Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Medang Kemulan yang akan menjadi saksi serta juri di Turnamen ini.


Kerajaan Kalingga sendiri diwakili oleh Tumenggung Bedul dan kekasihnya, Lasmini. Sedangkan Kerajaan Medang Kemulan diwakili oleh putra mahkota, Wirang Geni dan adik perempuannya, Anindita yang sebelumnya pernah diselamatkan oleh Arga dari gangguan Siluman Kerbau.


Informasi yang tidak kalah menarik juga adalah kedatangan Dewa Obat yang akan menjadi salah satu juri dan tabib yang akan mengobati Peserta yang terluka.


Arga mendengarkan semua informasi dari Nilawati. Dia menanggapinya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya dan sesekali tersenyum tipis.


"Jika benar demikian, Kita akan terus menyamar seperti ini Nila. Kita akan membuat kejutan di akhir Turnamen nanti." Ucap Arga sambil tersenyum lebar. Dia memikirkan sesuatu, tetapi tentu saja hanya dia lah yang tahu.


"Apapun yang kau inginkan, Aku pasti akan menurutinya." Jawab Nilawati dengan lugas.

__ADS_1


"Ah Nila, kau benar-benar membuatku tidak bisa berpaling darimu walaupun sebentar saja." Arga mulai menggoda Nilawati.


"Kalau begitu, hari ini pelajari Jurus Tangan Kosong yang aku berikan kepadamu beberapa hari yang lalu. Aku juga akan mempelajari Ajian Serat Jiwa." Arga kembali duduk bersila dan mempelajari Ajian Serat Jiwa.


*****


Keesokan harinya, tepat saat matahari sudah mulai terlihat dan menyinari bumi. Semua orang berkumpul di lapangan luas di puncak Gunung Mahameru. Tepat di tengah-tengahnya terdapat arena yang cukup besar dengan panjang dan lebar sekitar 50 meter. Arena itu berjumlah 10 arena.


Arga dan Nilawati sendiri berdiri di sudut lapangan, keduanya menghindari keramaian agar tidak terlihat mencolok.


Saat Arga dan Nilawati sedang berbincang-bincang dan melihat ke arah peserta dan para pendamping, seorang pria tua maju ke tengah-tengah arena itu. Pria tua itu adalah Lodaya, Ketua perguruan Bambu Kuning.


"Mohon perhatiannya, saudara-saudaraku dan para peserta Turnamen Pemuda Putih. Saya Ketua Perguruan Bambu Kuning sebagai penyelenggara Turnamen ini akan menjadi pembawa acara.


Yang kedua, perkenalkan disana ada lima orang yang sudah duduk di kursi tamu kehormatan. Mereka akan menjadi saksi serta juri dari Turnamen ini." Ketua Lodaya menunjuk ke arah lima orang yang ada di pinggir lapangan.


Orang yang pertama adalah Perwakilan dari perguruan besar aliran putih yang kali ini dipercayakan kepada Ketua perguruan Elang Hitam, Dimitra.


Di sampingnya terlihat seorang wanita paruh baya. Dia merupakan perwakilan dari perguruan besar aliran netral, Mayang Sari. Ketua perguruan Mawar Merah.


Yang ketiga adalah seorang pria tua dengan pakaian berwarna hitam-hitam. Dia adalah Dewa Obat, perwakilan dari Pendekar tanpa perguruan sekaligus tabib yang akan mengobati Peserta yang terluka.


Di sampingnya terlihat seorang pemuda dengan kepala botak sebagai ciri khasnya. Dia adalah Bedul atau yang lebih dikenal dengan Tumenggung Bedul.

__ADS_1


Dia melambai-lambaikan tangannya seperti seorang yang terkenal saat namanya disebut. Selain itu dia menunjukkan senyuman terbaiknya.


Ya begitulah seseorang, walaupun bisa menyembunyikan sifat aslinya tetapi tidak akan bisa bertahan dalam waktu yang lama. Bedul memang dikenal sebagai Tumenggung Kerajaan Kalingga yang berwibawa dan berkarisma, tetapi dia juga tidak bisa terlalu lama seperti itu, dia akan kembali dengan sifat aslinya yang konyol dan selalu bahagia.


Yang terakhir adalah pemuda yang berusia sekitar 30 tahunan, dia adalah Wirang Geni. Wirang Geni tersenyum tipis saat namanya disebut.


Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya Lodaya, Ketua Perguruan Bambu Kuning itu memanggil 10 orang pria paruh baya. Salah satunya adalah Pendekar Pedang Sunyi. Ketua dari perguruan menengah yang akhir-akhir ini sedang terkenal. Kesepuluh orang itu akan menjadi wasit dari pertandingan-pertandingan ini.


Sekitar satu menit, akhirnya kesepuluh orang itu sudah berada di atas arena masing-masing untuk menjadi wasit.


Setelah menunggu beberapa saat untuk mempersiapkan diri mereka serta mempersiapkan para peserta akhirnya pertandingan pun dimulai. Dua puluh orang maju dan memasuki arena masing-masing yang telah ditentukan.


Salah satu peserta yang mendapat giliran pertama adalah Arga yang kali ini menyamarkan namanya menjadi Raga. Dia akan menghadapi seorang peserta dari salah satu perguruan kecil aliran netral.


Dia adalah Cesena, seorang pemuda berusia 20 tahun dengan rambut pendek dan memiliki tinggi sekitar 160 cm.


Pemuda itu naik ke atas arena dengan gagahnya dan menunjukkan sikap yang arogan karena mengetahui bahwa Arga atau Raga adalah pendekar tanpa perguruan. Cesena berpikir bahwa sebaik-baik Pendekar tanpa perguruan tetap akan baik lagi Pendekar yang tergabung dalam perguruan.


Sikap angkuhnya itu tidak berlangsung lama, karena setelah wasit yang kebetulan adalah Pendekar Pedang Sunyi memulai pertandingan tiba-tiba Arga menghilang dari pandangannya dan selang beberapa saat sudah berada didepannya.


Cesena tentu saja terkejut, dia tidak mengira bahwa Arga akan menyerang terlebih dahulu dan serangannya pun tidak bisa ditebak. Akhirnya karena keterkejutannya itu, Arga berhasil mendaratkan satu pukulannya ke arah dada pemuda itu.


Arga hanya menggunakan sedikit tenaga dalamnya dan itu sudah membuat Cesena terpental dan hampir keluar dari arena. Selain itu terlihat dari pinggir bibirnya mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Semua penonton yang menyaksikan hal itu tidak bisa tidak terkejut, mereka semua terpana dan mulai mengarahkan pandangan ke arah pertarungan Arga dan Cesena. Mereka seperti melupakan ada sembilan pertandingan yang lainnya.


__ADS_2