Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Sampai di Kerajaan Kalingga


__ADS_3

Selama beberapa hari Arga dan Widura berada di kapal hanya mereka habiskan dengan berlatih, mengobrol, makan dan minum arak karena tidak ada lagi halangan ataupun ancaman yang menghadang jalan mereka.


Hari ini, rombongan kapal tersebut sampai di Kota Pelabuhan, pinggiran kerajaan Samudra.


"Saudara Widura, kau jadi kan ikut denganku ke kerajaan Kalingga?" Tanya Arga untuk memastikan.


"Kalau kau tidak keberatan dan tidak kerepotan dengan keberadaanku, saudara Arga!" Balas Widura sambil tersenyum tipis.


Arga mengangguk, kemudian keduanya memutuskan untuk langsung bergegas kembali ke kerajaan Kalingga.


*****


Di kerajaan Kalingga, di sebuah ruangan yang cukup besar dan megah, terlihat seorang wanita sepuh yang sedang menemani seorang wanita muda yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.


Keduanya tidak lain adalah Nyai Mawar Bidara dan Nilawati.


"Bagaimana keadaan Arga, apakah dia berhasil atau gagal? Kasihan Nila!" Gumam pelan Nyai Mawar Bidara.


Memang sebelum Arga kembali, Nyai Mawar Bidara memutuskan untuk tetap berada di kerajaan Kalingga.


Hal itu dilakukan Nyai Mawar Bidara setiap harinya. Menjaga dan merawat Nilawati serta menunggu kepulangan Arga.


Sementara itu, masih di kerajaan Kalingga, semua orang sedang berkerja sama dengan keras untuk membangun dan membenahi kembali istana kerajaan pasca perang.


Para panglima juga sedang mengadakan perekrutan prajurit baru dalam jumlah besar. Banyak pemuda-pemuda yang berasal dari kota maupun desa di daerah kerajaan Kalingga yang dijadikan prajurit.


Kemajuan pembenahan kerajaan Kalingga terbilang cepat. Baru beberapa bulan mereka hampir menstabilkan kondisi kerajaan tersebut.


Sementara raja Jatmiko dan Mahapatih Angga Reksadana serta beberapa tumenggung sedang berada di aula pertemuan saat salah satu prajurit datang menghadap.


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia." Prajurit itu menjurahkan salam kepada raja Jatmiko dan yang lainnya.


"Katakan!" Balas Raja Jatmiko singkat. Dia tentu menyadari prajuritnya itu tidak akan berani mengganggu jika tidak ada sesuatu hal yang penting.


Mendengar raja Jatmiko tidak mempermasalahkannya, prajurit itu bernafas lega. Dia kemudian menceritakan bahwa Arga sudah kembali dan membawa seorang pemuda bersamanya.


Sekarang dia sedang berada di kamar Nilawati untuk langsung memberikan tumbuhan yang di bawanya.


"Kau serius?" Tanya Raja Jatmiko memastikan.


"Hamba tidak berani berbohong Yang Mulia!" Setelah prajurit tersebut berkata demikian, raja Jatmiko langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung bergegas menemui Arga.


Kemudian di susul oleh Mahapatih Angga Reksadana dan para tumenggungnya.

__ADS_1


*****


"Selamat datang di kerajaan Kalingga saudara Widura!" Ucap Arga saat keduanya sudah berada di depan pintu gerbang istana kerajaan.


Arga cukup memperlihatkan tanda pengenalnya, para prajurit langsung membiarkannya masuk sambil ketakukan.


Bagaimana tidak, tanda pengenal yang diperlihatkan Arga sama dengan tanda pengenal dari raja Jatmiko.


Tentu itu membuatnya sangat di hormati oleh para prajurit kerajaan tersebut.


Mereka juga mengetahui nama besar dan kontribusi Arga untuk kerajaan Kalingga. Jadi hal tersebut tidaklah berlebihan.


Para prajurit itu langsung membukakan pintu dan memberi hormat.


Menyaksikan hal tersebut, Widura hanya bisa terpana dan takjub. Menurutnya Arga ini tidak henti-hentinya membuat dirinya kagum.


Sementara di sisi lain, Arga hanya tersenyum tipis dan tertawa-tawa kecil.


Tidak menunggu lagi, keduanya langsung bergegas memasuki Istana.


Sesampainya di dalam ruangan, Arga menanyakan keberadaan raja Jatmiko kepada para prajurit.


"Yang Mulia sedang mengadakan pertemuan dengan Mahapatih Angga Reksadana serta para Tumenggung, Tuan Pendekar!" Jawab prajurit tersebut.


Saat Arga meninggalkan ruangan tersebut, prajurit itu juga langsung bergerak menuju ke aula pertemuan untuk mengabari Raja Jatmiko.


*****


"Guru!" Arga langsung mengenali wanita sepuh yang sedang duduk menjaga istrinya. Memang sebelumnya Arga sudah mengetahui ruangan tersebut dari para prajurit yang ditemuinya.


"Arga! Kau berhasil mendapatkannya?" Tanya Nyai Mawar Bidara setelah dia membalikkan badannya.


"Aku berhasil guru!" Balas Arga.


Keduanya berbasa-basi sejenak dan Arga juga memperkenalkan Widura.


"Salam Nyai! Aku sudah sering mendengar nama besar Nyai dari cerita guru!" Widura menjurahkan salam.


"Oh, begitu! Siapakah gerangan guru Nak Widura?" Balas Nyai Mawar Bidara.


"Guru hamba bernama Tunggul Wulung!" Jawab Widura sambil tersenyum tipis. Tetapi siapa saja yang melihat senyumannya saat menyebutkan nama gurunya, tampak jelas kesedihan yang mendalam di wajahnya.


"Tunggul Wulung?" Nyai Mawar Bidara sedikit terkejut.

__ADS_1


Dia tentu saja mengenal Tunggul Wulung. Bisa dikatakan semasa Nyai Mawar Bidara aktif di dunia persilatan, Tunggul Wulung adalah salah satu teman baiknya.


"Ku dengar kabar burung beberapa waktu lalu Tunggul Wulung terbunuh. Apakah itu benar?" Tanya Nyai Mawar Bidara memastikan.


Memang sebelumnya dia mendengar kabar bahwa Perguruan Bunga Matahari yang menjadi tempat Tunggul Wulung bernaung di hancurkan oleh perguruan Sanca Hitam dan yang mengejutkan adalah terbunuhnya Tunggul Wulung dalam pertarungan itu.


"Kabar tersebut benar adanya, Nyai!" Jawab Widura membenarkan. Dia hanya bisa bersedih saat mengenang gurunya tersebut.


"Sudah saudara Widura, janganlah kau larut dalam kesedihan. Tentunya gurumu tidak akan tenang jika melihat muridnya seperti ini.


Kalau kau memang menghormati beliau, kau harus mendirikan kembali perguruan Bunga Matahari dan membuatnya lebih kuat daripada sebelumnya.


Ku rasa, gurumu pasti akan bangga kepadamu!" Arga mencoba menenangkan Widura.


Widura mengangguk, dia juga berjanji dalam hatinya akan membuat perguruan Bunga Matahari kembali dikenal oleh dunia persilatan dan saat itu, lebih terkenal daripada sebelumnya.


Setelah berbincang-bincang, Arga langsung mengalihkan pembicaraannya. Dia menanyakan keberadaan Dewa Obat.


"Dewa Obat sedang berada di kamarnya. Sebaiknya kau temui dia dan langsung berikan Bunga Mawar Hitam yang kau bawa tersebut." Ucap Nyai Mawar Bidara.


Sebenarnya dia masih ingin mengobrol dengan muridnya tersebut. Dia ingin menanyakan bagaimana cara Arga menemukan bunga itu, bagaimana pertemuannya dengan Widura dan kabar lain yang mengatakan Arga membuat masalah dengan Perguruan Sanca Hitam dan masih banyak lagi.


Tetapi dia sadar bahwa yang harus di utamakan sekarang adalah kesembuhan Nilawati.


Mendengar perkataan Nyai Mawar Bidara, Arga langsung membalikkan badannya dan berniat menemui Dewa Obat.


Tetapi belum sampai dia di depan pintu, Raja Jatmiko dan Mahapatih Angga Reksadana serta para Tumenggung sudah berada di depan ruangan tersebut.


"Saudara Arga, kau sudah kembali?!" Raja Jatmiko langsung bergerak menuju tempat Arga dan memeluk saudara angkatnya itu.


"Saudara Jatmiko, maaf tidak menemuimu sebelumnya. Aku terlalu terburu-buru." Balas Arga sambil tersenyum canggung.


"Kau bilang apa saudaraku! Sudah ku katakan kerajaan ini anggap saja milikmu juga!" Raja Jatmiko tertawa kecil.


Sebelum keduanya berbincang lebih lanjut, Arga mengatakan harus menemui Dewa Obat untuk mengabarkan kepulangannya.


Mendengar hal tersebut, Raja Jatmiko meminta Arga untuk tetap berada di ruangan tersebut. Sementara untuk memanggil Dewa Obat, Raja Jatmiko memerintahkan salah satu Tumenggungnya.


"Maaf merepotkanmu, Tumenggung!" Ucap Arga sambil tersenyum tipis.


"Tidak perlu sungkan Pendekar Arga!" Balas Tumenggung itu.


Kemudian dia bergegas menuju kediaman Jagad Kelana yang merupakan tempat tinggal sementara Dewa Obat.

__ADS_1


Di sisi lain, Raja Jatmiko dan Mahapatih Angga Reksadana serta Tumenggung lainnya mengobrol bersama Arga dan Widura serta Nyai Mawar Bidara di ruangan tersebut.


__ADS_2