
"Bagaimana pengalaman di pulau seberang, saudara Arga?" Yang pertama raja Jatmiko tanyakan adalah pengalaman yang Arga dapatkan. Karena dia juga sudah mengetahui bahwa Arga sudah mendapatkan Bunga Mawar Hitam.
"Pertama aku sampai disana bersama saudara Widura, kami berdua sudah membuat keributan besar. Kami membunuh jagoan disana." Arga lalu menceritakan garis besar kejadian yang terjadi kepadanya dan Widura.
Mendengar cerita Arga tersebut, raja Jatmiko dan yang lainnya hanya bisa berdecak kagum. Nyai Mawar Bidara sendiri pun berhasil dibuatnya kagum.
"Lalu bagaimana awal pertemuanmu dengan pendekar Widura?" Tanya raja Jatmiko lagi.
"Ah pertemuan kami berdua bisa di bilang rumit. Mungkin saudara Widura bisa menceritakannya." Jawab Arga sambil melirik ke arah Widura.
"Tentu saja!" Tegas Widura.
Widura lalu menceritakan bahwa awal pertemuan keduanya saat Arga membantunya melawan tetua dari perguruan Sanca Hitam. Dan Arga berhasil membunuh mereka dengan begitu singkat.
"Kalau itu tidak perlu diragukan lagi. Saudara Arga bahkan mampu dua kali menyelamatkan kerajaan Kalingga ini bersama dengan Mahapatih Angga dan yang lainnya." Ujar raja Jatmiko.
"Yang Mulia terlalu berlebihan!" Balas Arga sambil tertawa kecil.
Mereka terus bercerita sampai akhirnya tiga orang masuk ke dalam ruangan itu, di antaranya dua laki-laki dan satu perempuan yang sedang menggendong seorang bayi. Mereka tidak lain adalah Dewa Obat, Jagad Kelana dan Ayu.
*****
Ayu begitu bersemangat saat seorang prajurit datang ke kediaman mereka sambil mengatakan bahwa Arga sudah kembali. Dia langsung bergegas menemui Dewa Obat yang sedang meracik obat-obatan bersama suaminya Jagad Kelana. Ketiganya langsung bergegas menuju ruangan Nilawati berada karena dari yang prajurit itu sampaikan, Arga berada disana.
"Arga!" Sapa Dewa Obat.
"Kakang!" Sapa Jagad Kelana dan Ayu.
"Paman Dewa Obat, Jagad, Ayu!" Arga membalas sapaan ketiganya.
Arga lalu mempersilahkan mereka bergabung. Setelah berbasa-basi sejenak, Arga langsung membahas Bunga Mawar Hitam.
Arga seketika mengeluarkan bunga itu dari ruang hampa, dia lalu menyerahkannya kepada Dewa Obat.
__ADS_1
"Apakah benar ini tanamannya Paman?" Tanya Arga untuk memastikan.
Dewa Obat tidak langsung menjawab, dia mengambilnya dari tangan Arga dan memeriksanya.
Setelah beberapa saat meneliti akhirnya Dewa Obat mengangguk pelan.
"Tidak salah lagi, ini memang benar Bunga Mawar Hitam. Aku akan langsung membuat penawar untuk Nila." Dewa Obat langsung permisi kepada semuanya untuk meracik obat tersebut.
'Tidak kusangka Arga bisa mendapatkannya.' Gumam Dewa Obat. Sebelumnya dia agak pesimis bahwa Arga bisa menemukan Bunga Mawar Hitam. Dia bahkan sudah mengira bahwa nyawa Nilawati tidak akan tertolong lagi. Tanpa pikir panjang lagi, Dewa Obat mengambil satu tempat untuk meracik obat itu sementara Arga dan yang lainnya melanjutkan untuk bercerita.
*****
Selama beberapa jam Dewa Obat meracik obat-obatan, selama itu juga Arga dan yang lainnya habiskan dengan bercerita.
"Selesai!" Ujar Dewa Obat. Dia kemudian berdiri dan melangkah ke arah Arga dan yang lainnya.
Arga yang pertama kali menyadari bahwa Dewa Obat sudah selesai dalam pekerjaannya. Dia langsung menoleh dan mendapati Dewa Obat tersenyum lebar ke arahnya. Senyuman yang membuat hati Arga merasa lega.
"Sebaiknya kita langsung memberikannya kepada istrimu untuk melihat khasiatnya." Balas Dewa Obat.
Mereka langsung bergegas ke tempat Nilawati berada sementara raja Jatmiko, Patih Angga dan para Tumenggung memilih untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.
Hanya ada Nyai Mawar Bidara, Ayu, Jagad, Widura, Dewa Obat, Arga dan bayi kecil Aji yang berada di dalam ruangan tersebut.
Tanpa menunggu waktu lama, Dewa Obat langsung meminumkan sebuah ramuan obat kepada Nilawati. Dan ajaibnya, ramuan itu langsung bekerja, wajah Nilawati yang awalnya pucat kini sudah lebih berwarna. Tubuhnya pun juga demikian.
Akhirnya perlahan-lahan mata Nilawati berhasil terbuka, "Arga!" Sosok yang pertama kali dia lihat adalah Arga yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Nila, sayang!" Arga langsung berlutut di hadapan Nilawati dan tanpa menghiraukan mereka yang ada di ruangan tersebut, Arga langsung memeluk erat tubuh istrinya tersebut.
"Terima kasih sayang!" Ujar Nilawati. Dia langsung bisa mengingat apa yang terjadi kepadanya sebelumnya. Sehingga dia memahami bahwa selama dia tidak sadarkan diri pastinya Arga dan yang lainnya melakukan segala cara untuk menyelamatkannya.
"Paman Dewa Obat yang menyembuhkanmu, kau harus berterima kasih kepadanya!" Ucap Arga yang masih terus memeluk erat tubuh Nilawati itu.
__ADS_1
"Tentu saja, terima kasih Paman Dewa Obat!" Nilawati melirik ke arah Dewa Obat sambil tersenyum lebar.
Mereka yang ada di ruangan tersebut juga tidak kalah senangnya karena Nilawati berhasil diselamatkan. Mereka lalu memberikan selamat kepada Nilawati. Hal tersebut berlangsung sampai malam hari tiba.
*****
Butuh waktu seminggu untuk Nilawati memulihkan kondisinya sepenuhnya. Selama itu juga Arga tidak pernah pergi dari sisinya.
Dewa Obat juga setiap hari memberikan ramuan serta pil untuk mempercepat pemulihan kondisinya.
"Sayang, sekarang kau sudah sembuh sepenuhnya, sudah saatnya kita kembali ke gunung Ambar. Aku akan menemui guru dan mengajaknya." Ucap Arga sambil mengelus rambut Nilawati yang sedang terbaring di pangkuannya.
"Iya, sayang!" Ucap Nilawati sambil tersenyum tipis. Dia langsung merubah posisinya duduk dan mencium kedua pipi suaminya tersebut secara bergantian.
"Itu hadiah untukmu!" Nilawati tersenyum tipis dan langsung menyuruh Arga segera menemui Nyai Mawar Bidara.
Arga tersenyum lebar karena hal tersebut, "Karena kau sudah sembuh, nanti aku juga akan memberikanmu hadiah. Saat itu tiba kau harus menyiapkan semuanya, terutama staminamu. Karena hadiah dariku akan menguras tenaga yang sangat banyak." Ucap Arga sambil tersenyum menyeringai penuh arti.
Di sisi lain, Nilawati yang mendengar perkataan Arga tersebut langsung tersedak nafasnya. Dia yang mulanya tersenyum langsung memoncongkan bibirnya.
"Sayang, kau-" Nilawati tidak menyelesaikan kata-katanya, dia hanya mengangguk dan berjanji akan meladeni permainan Arga nantinya.
Beruntung tidak ada orang lain yang mendengar percakapan keduanya itu. Jika ada orang yang mendengarnya, maka mereka akan berpikiran liar.
"Kau tunggu disini, aku akan menemui semuanya." Setelah berkata demikian, Arga langsung meninggalkan Nilawati.
Setelah Arga tidak terlihat lagi, Nilawati menghela nafasnya panjang, "Tampaknya sebentar lagi aku akan bekerja dengan keras!" Gumamnya pelan sambil memikirkan apa yang akan Arga lakukan kepadanya nanti.
"Aku juga tidak keberatan, karena kami berdua sudah cukup lama tidak melakukannya." Ujarnya lagi. Dia kemudian duduk dan menunggu Arga kembali.
*****
Orang yang pertama Arga temui adalah Nyai Mawar Bidara dan Widura yang sedang berada di kediaman Ayu. Memang Nyai Mawar Bidara dan Widura sebelumnya memutuskan untuk meninggalkan Arga dan Nilawati bedua. Karena mereka sadar bahwa Arga dan Nilawati membutuhkannya.
__ADS_1