Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Satu Lawan Dua


__ADS_3

Sekelompok manusia berpakaian prajurit lengkap sedang berjalan, dari bendera yang mereka bawa, mereka berasal dari kerajaan Medang Kemulan.


Di tengah-tengah kerumunan itu terdapat kereta besar nan megah yang diangkut menggunakan empat ekor kuda perkasa berwarna putih.


"Paman Patih, kapan kita sampai ke Kerajaan Kalingga?" Ternyata sosok yang menghuni kereta mega itu adalah Wirang Geni, putra mahkota kerajaan Medang Kemulan. Dia ditugaskan langsung oleh Sungsang Geni, ayahnya sekaligus Raja kerajaan Medang Kemulan untuk membantu kerajaan Kalingga bersama Patih dan 5000 prajuritnya.


Memang sebelumnya, tepatnya seminggu yang lalu, Raja Jatmiko mengirimkan surat melalui pesuruhnya untuk disampaikan kepada Raja Sungsang Geni. Isinya tidak lain adalah permohonan bantuan melawan para pemberontak.


Setelah membaca surat itu, langsung saja Sungsang Geni mengirim pasukannya, karena lebih cepat lebih baik, begitu pikir Raja Sungsang Geni.


Alasan kerajaan Medang Kemulan membantu kerajaan Kalingga dengan cepat yang pertama karena Raja Sungsang Geni adalah sahabat baik dari mendiang Raja Kerajaan Kalingga sebelumnya, Raja Kertikeyasinga. Alasan lain adalah, Raja Sungsang Geni berpikiran jika kerajaan Kalingga ditaklukkan dan runtuh, bukan tidak mungkin kerajaan Medang Kemulan target berikutnya.


Dengan bekal pemikiran itulah, Raja Sungsang Geni dengan cepat mengirim bantuan kepada kerajaan Kalingga.


*****


Mendengar pangeran Wirang Geni bertanya padanya, Patih Warin menghentikan laju kudanya yang membuat para prajurit dibelakangnya juga berhenti.


Setelah itu dia membalikkan kudanya dan menjawab pertanyaan pangeran Wirang Geni, "Jika kita terus berjalan dengan kecepatan seperti ini, kemungkinan dalam dua jam lagi kita akan sampai Yang Mulia Pangeran."


"Kalau begitu mari kita lanjutkan, jangan tunda lagi."


Menanggapi hal tersebut, langsung saja Patih Warin memberi isyarat kepada pasukannya untuk segera kembali berangkat. Tanpa mereka sadari, kerajaan Kalingga memang sudah bertempur beberapa jam sebelumnya.


*****


Nyai Mawar Bidara terus berhadapan dengan Gading Koneng. Pertukaran jurus dari kedua orang sepuh itu berhasil membuat tanah disekitar mereka menjadi berlubang, sedangkan pepohonan banyak yang tumbang.

__ADS_1


Tetapi yang menarik, kali ini Nyai Mawar Bidara sedang bertekuk lutut dan memegangi dadanya.


Sebelumnya, Gading Koneng berhasil mendaratkan pukulan yang cukup telak ke arah dada wanita sepuh itu dengan tenaga dalam yang cukup besar yang bisa membuat pendekar biasa mati dengan sekali serangan saja.


"Sudah aku bilang Bidara, kau memang kuat tetapi itu dulu, puluhan tahun yang lalu. Semenjak kau meninggalkan urusan dunia persilatan dan duniawi, tentu saja kau berhenti bertarung walaupun kau terus berlatih, kau tentu menyadari bahwa dengan pertarungan sesungguhnya lah latihan seseorang akan sempurna." Gading Koneng tersenyum pahit, sebenarnya dia juga terkena pukulan Nyai Mawar Bidara, tetapi tidak separah yang wanita sepuh itu derita.


Nyai Mawar Bidara setuju dengan Gading Koneng, dia hanya bisa mendengus kesal dan tidak lama kemudian, dia memuntahkan darah segar.


"Aku tidak akan membunuhmu, istirahat lah kau." Gading Koneng menatap Nyai Mawar Bidara yang sedang bertekuk lutut.


"Tetapi aku tidak berjanji akan mengampuni muridmu itu." Gading Koneng mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan Arga dengan Sembada. Setelah itu dia meninggalkan Nyai Mawar Bidara dan menuju ke arah Arga.


Si sisi lain, Nyai Mawar Bidara hanya bisa mengepalkan tangannya, dia tidak bisa bangkit dari tempatnya. Satu hal yang dipikirkannya sekarang adalah, Arga dalam bahaya!


*****


Tetapi dalam hal ini, Arga diunggulkan, Sembada sekarang sedang mengatur jaraknya dengan Arga dan sesekali mengelap darah segar yang mengalir dari pinggir bibirnya. Bukan hanya itu, tubuhnya kini dipenuhi luka dari sayatan pedang Arga.


Saat Sembada sedang bingung ingin melakukan apa, menyerang Arga atau memilih bertahan? Tiba-tiba saja Gading Koneng mendekat ke arahnya.


Sesampainya pria tua itu, membuat hati Sembada sedikit tenang, karena dia berpikir Gading Koneng akan membantunya.


Pemikiran Sembada tidaklah salah, memang kedatangan Gading Koneng untuk membantu Sembada!


Sementara itu Arga mengerutkan dahinya, sebelah alisnya terangkat dan berkedut, kedatangan Gading Koneng menandakan gurunya, Nyai Mawar Bidara telah dikalahkan!


Arga menggelengkan kepalanya pelan, dia yakin kedatangan Gading Koneng untuk mengeroyoknya.

__ADS_1


"Melihat kau sudah berada disini, aku yakin guruku telah kau kalahkan." Arga tersenyum kecut, dia masih bisa bersikap tenang.


"Kau benar anak muda, tetapi kau tenang saja, aku masih berbaik hati dengan mengampuninya. Tetapi untuk kau..." Gading Koneng menghentikan perkataannya sebentar dan mengambil nafas dalam-dalam, "Aku tidak akan membiarkanmu hidup, ini adalah hari terakhirmu melihat matahari." Teriak lantang Gading Koneng sambil menunjuk ke arah Arga. Tatapannya dingin dan matanya penuh amarah kepada Arga.


"Sembada, mari kita sama-sama melawan pemuda itu." Gading Koneng berkata kepada Sembada dengan pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Arga.


"Baik Kakang." Jawab singkat Sembada.


*****


Arga berdiri tegak dengan gagah dan tenang walaupun dihadapannya berdiri dua orang pria tua yang berniat membunuhnya. Arga selalu bersiap siaga dan menaikkan kewaspadaannya sampai tingkat maksimal.


Tidak lama kemudian, terjadilah pertarungan satu lawan dua antara Arga melawan Gading Koneng dan Sembada.


Arga memang sudah menarik pedangnya saat berhadapan dengan Sembada sendirian sebelumnya, kali ini dia juga menggunakan pedangnya karena lawannya adalah dua orang dengan kemampuan tingkat tinggi. Arga memilih untuk bertahan terlebih dahulu.


Sementara itu, Gading Koneng dan Sembada bergerak maju menyerang Arga, Pedang dan Tombak melaju dengan cepat ke arah pemuda itu, tetapi baik Gading Koneng maupun Sembada yakin serangan keduanya ini tidak akan sulit ditangkis oleh Arga.


Benar saja, Arga menyambut serangan keduanya dengan tenang dan tidak kalah cepatnya, bahkan lebih cepat daripada keduanya.


Gading Koneng menyerang ke arah bagian atas tubuh Arga, dia menyerang leher dan kepala pemuda itu, sedangkan di sisi lain Sembada menyerang ke arah perut dan kaki Arga. Kombinasi serangan keduanya terbilang cukup baik walaupun bisa di lihat mereka berdua baru kali ini melakukan kombinasi seperti ini.


Tetapi siapa Arga? Dia bukanlah pemuda yang berusia tujuh belasan tahun biasa, dia adalah Pendekar muda dengan kemampuan paling tinggi di generasinya bahkan generasi-generasi sebelumnya, tentu saja serangan itu tidak sulit dia hadapi.


Arga menggerakkan pedangnya untuk menangkis pedang Gading Koneng, disaat yang bersamaan dia juga memundurkan tubuh bagian bawahnya untuk menghindari serangan tombak Sembada.


Arga bergerak dengan lincahnya, menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Gading Koneng dan Sembada. Pertarungan antara tiga orang ini sangat cepat untuk ditangkap oleh mata manusia biasa, hanya Pendekar tingkat tinggi yang bisa menyaksikannya.

__ADS_1


Serangan demi serangan tercipta diantara Arga maupun Gading Koneng dan Sembada, kedua belah pihak secara bergantian, terkadang Arga yang menyerang terkadang juga dua orang pria sepuh itu yang menyerang, begitupun sebaliknya terkadang Arga bertahan terkadang juga kedua pria sepuh itu yang bertahan. Pertarungan ketiganya menciptakan lubang-lubang besar disekitar mereka dan pepohonan tumbang serta hancur dibuatnya.


__ADS_2