
Hari mulai gelap, matahari hampir tenggelam dan digantikan dengan rembulan malam. Di dekat sebuah gua berdiri dua orang laki-laki yang sedang saling menatap satu sama lain. Yang satu berumur belasan tahun lebih tepatnya tujuh belas tahun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Arga. Sementara itu di sisi lain seorang laki-laki tua yang berusia sekitar 70 tahunan dengan memakai topeng untuk menutupi wajahnya.
Keduanya sudah saling tatap selama kurang lebih satu jam tanpa ada yang berbicara. Tekanan dari keduanya mengakibatkan udara menjadi lebih dingin, dan angin berhembus kencang. Hewan-hewan biasa yang ada disana akan mati sedangkan pendekar tingkat tinggi sekalipun akan kesulitan bernafas.
Arga menatap laki-laki itu dengan waspada dan penuh selidik sedangkan laki-laki tua itu menanggapinya dengan senyuman.
Waktu berjalan dengan cepat, kali ini keduanya sudah hampir dua jam bertatapan tanpa berbicara sedikitpun.
"Siapa Pendekar sebenarnya?" Arga memecah keheningan di antara keduanya tetapi tidak sedikitpun dia menurunkan kewaspadaannya.
"Namaku adalah Brama Sakti..." Jawab sosok misterius itu dengan lantang, walaupun dia menggunakan topeng tetapi Arga bisa melihat dengan jelas laki-laki itu sedang tersenyum ke arahnya.
"Brama Sakti...?" Arga terkejut, dia tidak menduga bahwa sosok dihadapannya itu adalah pemilik dari ilmu kanuragan tingkat tinggi yang sedang di carinya itu, yaitu Ajian Serap Jiwa.
"Hahaha... Kau pastinya terkejut bukan? Melihat ekspresimu itu aku tahu bahwa kau pernah mendengar namaku bukan?" Kali ini sosok misterius itu membuka topengnya dan melangkah maju ke arah Arga dengan perlahan-lahan.
Brama Sakti adalah Pendekar tingkat tinggi, dia hidup di zaman sebelum Joko Samudro muncul ke dunia persilatan. Dia sudah seratus tahun lebih dahulu hidup daripada Joko Samudro.
Brama Sakti adalah pencipta Ajian Serap Jiwa. Ajian yang menggemparkan dunia persilatan pada masanya. Ajian nomor satu di dunia persilatan pada masanya.
__ADS_1
Dengan Ajian Serap Jiwa, Brama Sakti dapat menguasai dunia persilatan, semua orang yang menhadapinya hampir semuanya mati ditangannya. Namanya begitu ditakuti oleh Pendekar aliran hitam sedangkan untuk pendekar aliran putih namanya selalu disanjung-sanjung. Apalagi di kalangan manusia biasa, nama Brama Sakti sangat terkenal dan dipuja-puja. Karena dia selalu memberantas kejahatan.
Brama Sakti sendiri dikenal dengan sebutan Pendekar Sakti Penyerap Jiwa. Julukan itu disematkan kepadanya karena ilmu yang diciptakannya itu.
Brama Sakti sebenarnya sudah moksa, yang dihadapan Arga adalah bayangannya saja yang bisa terlihat seperti wujudnya sebenarnya.
Alasan Brama Sakti menemui Arga secara langsung karena memang dia sudah mengetahui bahwa Arga akan datang mencari kitab itu.
Brama Sakti mengatakan bahwa Arga adalah manusia pilihan para dewa yang ditugaskan untuk menjaga Maya Pada ini.
Arga yang mendengar hal itu menjadi terkejut, matanya melotot dan alisnya terangkat sambil diiringi senyuman pahit.
Arga tidak menjawab ataupun menyangkal pernyataan itu, sebenarnya Joko Samudro juga mengatakan hal itu juga sebelumnya kepada Arga tetapi saat itu dia hanya mengganggap perkataan Joko Samudro adalah berlebihan. Tetapi setelah mendengar Brama Sakti mengatakan hal itu juga, tidak ada alasan untuk Arga tidak mempercayainya.
Tak lama kemudian, Brama Sakti memegang pundak Arga dan berkata, "Ayo ikuti aku..." Setelah berkata demikian, Brama Sakti membawa Arga terbang dan masuk ke dalam gua.
Setelah berada di dalam gua, Brama Sakti melepaskan pegangannya dan melepaskan tekanannya. Kali ini Arga bisa bergerak leluasa seperti sebelumnya.
"Kau tahu, apakah yang menyebabkan tenaga dalammu berkurang saat ingin keluar gua ini?" Brama Sakti tersenyum tipis ke arah Arga. Sedangkan Arga menanggapinya dengan gelengan kepala, dia sama sekali tidak mengetahuinya dan baru kali ini dia merasakan hal seperti itu.
__ADS_1
"Itu karena kitab Ajian Serap Jiwa yang menyerap jiwamu. Kitab Ajian Serap Jiwa akan melakukan hal itu kepada orang yang berjodoh dengannya."
"Kau tahu kenapa kau tidak menemukan apapun disini termasuk kitab Ajian Serap Jiwa?" Lagi-lagi pertanyaan Brama Sakti dijawab dengan gelengan kepala dari Arga.
"Itu karena aku yang menyembunyikan kitab pusaka itu." Sambungnya.
"Kau bisa bertemu dengan wanita yang aku bawa sebelumnya jika kau sudah bisa menguasai Ajian Serap Jiwa sepenuhnya. Sementara waktu kau harus tinggal di dalam gua ini dan mempelajari Ajian Serap Jiwa dengan baik. Aku tidak akan menunjukkan dimana tempat kitab itu berada, kau harus mencarinya sendiri. Aku akan pergi dari sini dan tenang saja aku akan membuat sihir pelindung agar kau bisa belajar dengan baik tanpa ada yang mengganggu." Setelah selesai berkata demikian, Brama Sakti menghilang dari pandangan Arga. Brama Sakti berdiri di depan gua dan mengibaskan tangannya, seketika itu juga, gua yang ditempati Arga menghilang dari pandangan. Setelahnya, Brama Sakti pergi meninggalkan tempat itu.
*****
Masih di hutan bukit Duri, seorang laki-laki muda yang hanya berusia beberapa tahun lebih tua daripada Arga. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Seta. Dia sedang terbang mencari suara pertarungan yang didengarnya sebelumnya.
Setelah cukup lama dia berkeliling mencari suara pertarungan yang didengarnya akhirnya dia sampai. Dia sampai di tempat pertarungan Arga dengan Siluman Kera sebelumnya.
"Kelihatannya aku sedikit terlambat." Seta mengerutkan keningnya, walaupun hari sudah malam tetapi dia bisa melihat dengan jelas bekas pertarungan itu. Memang bulan pada malam itu bersinar sangat terang dan di sisi lain Seta adalah Pendekar tingkat tinggi, jadi tidak sulit untuknya melihat di kegelapan.
Seta menebak pertarungan itu adalah pertarungan Pendekar tingkat tinggi, hal itu bisa dilihat dari banyaknya pohon yang tumbang, tanah-tanah yang berlubang dan batu-batu yang hancur.
Seta memeriksa area sekitar itu, dia ingin mencari jejak, siapa yang bertarung itu. Cukup lama dia mencari tetapi tidak menemukan apa-apa. Tetapi saat dia berjalan ke suatu arah, dia merasakan adanya dinding yang menghalanginya. Itu adalah pagar gaib yang dibuat oleh Brama Sakti sebelumnya.
__ADS_1
Seta yang penasaran akan hal itu mencoba untuk membukanya. Dia mengeluarkan tenaga dalam yang sangat besar untuk membukanya, tetapi tetap saja dia tidak berhasil. Percobaan itu dilakukan selama berjam-jam, Seta berdecak kesal tetapi ada juga rasa kagum, dia mengetahui jelas bahwa orang yang membuat pagar gaib itu adalah orang yang berilmu tinggi. Setidaknya jauh lebih tinggi daripada ilmunya maupun gurunya.
Setelah dia mencoba terus menerus dan tidak ada hasilnya, Seta menghentikan tindakannya itu dan memutuskan untuk mencari tempat istirahat di dekat situ. Dia ingin memulihkan kondisinya dan juga sekaligus menunggu apa yang akan terjadi kepada pagar gaib itu.