
Seminggu setelah penyerangan Kerajaan Jenggala dan sekutunya, kerajaan Kalingga terlihat sudah memulai aktivitas seperti biasa. Mereka juga mulai membenahi kondisi sekitar kerajaan yang hancur berantakan.
Sementara itu masih di istana, Nyai Mawar Bidara memutuskan untuk merawat Nilawati, dia akan menunggu sampai Arga kembali.
Dalam seminggu itu, setiap hari Dewa Obat selalu memeriksa tubuh Nilawati dan meminumkannya ramuan dan pil yang dibuatnya.
Jagad Kelana dan Ayu juga beberapa kali mampir untuk sekedar menemui Nyai Mawar Bidara dan menjenguk Nilawati. Mereka juga membawa Aji Putra Kelana untuk menemui Nyai Mawar Bidara.
"Anak kalian berdua akan menjadi seorang pendekar yang gagah seperti Paman dan Kakeknya." Nyai Mawar Bidara mengelus pipi mungil Aji Putra Kelana.
"Semoga saja begitu Guru." Ayu membalas dengan senyum lebar.
Sedangkan Jagad Kelana hanya mendengarkan percakapan antara Guru dan murid itu dan sesekali dia juga memeriksa keadaan Nilawati.
Raja Jatmiko yang didampingi oleh Patih Angga Reksadana juga pernah sekali menjenguk Nyai Mawar Bidara dan Nilawati, bagaimanapun juga hubungan mereka sangat erat apalagi antara Raja Jatmiko dan Arga yang sudah seperti saudara kandung.
Tidak lupa juga, Tumenggung Bedul dan Lasmini menyempatkan waktu mereka untuk menemui Nyai Mawar Bidara dan Nilawati. Bagaimanapun juga, Nilawati adalah teman pertama Tumenggung Bedul selain Arga.
Di sisi lain, Lasmini yang ikut Tumenggung Bedul membesuk Nilawati juga berniat untuk meminta petunjuk kepada Nyai Mawar Bidara tentang ilmu beladirinya. Bagaimanapun juga Nyai Mawar Bidara adalah Pendekar sakti yang pernah menduduki peringkat pertama di dunia persilatan sejauh yang Lasmini ketahui.
Nyai Mawar Bidara memanglah pernah menduduki peringkat pertama di dunia persilatan, tetapi sebenarnya itu hanya di pulau Jawa, sedangkan di pulau lain mereka juga memiliki pendekar-pendekar yang mumpuni.
Mendengar Lasmini ingin meminta petunjuk kepadanya, Nyai Mawar Bidara tidak menolaknya, dia dengan senang hati melayani gadis itu.
"Belajar ilmu silat bukan hanya semata-mata memperkuat diri dan mempertinggi tenaga dalam, tetapi harus menggunakan hati dan pikiran. Percuma memiliki kemampuan yang tinggi, tanpa itu, semua akan sia-sia."
Beberapa kalimat kata yang dikeluarkan oleh Nyai Mawar Bidara itu berhasil membuat Lasmini mendapatkan pencerahan. Dia berterima kasih dan berjanji akan selalu mengingatnya.
*****
Sementara itu di tempat yang berbeda, Arga terlihat sedang berjalan dengan gagah dan tenang. Walaupun demikian, sebenarnya dalam hatinya sedang bertanya-tanya.
"Sebenarnya sudah berada dimana aku ini?" Arga berhenti sejenak, dia mengelus-elus dagunya dan tampak kebingungan.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Dia baru pertama kali kesini jadi tentu tidak mengetahui seluk-beluk dari lokasi yang dia tempati ini.
"Sebaiknya aku mencari Desa atau Kota terdekat, dan mencari informasi disana." Arga bergumam pelan, satu-satunya yang masuk akal untuk dia lakukan adalah mencari informasi.
Dia langsung bergegas berjalan kembali, kali ini dia tidak terbang karena stamina sudah berkurang cukup banyak selama seminggu ini dan belum menerima asupan nasi. Hanya memakan beberapa buah-buahan yang ditemuinya di hutan, itupun tiga hari yang lalu.
Sekitar tiga jam lamanya, akhirnya Arga menemukan sebuah Desa kecil.
Arga langsung mendekat dan dia bisa melihat di pintu gerbang Desa ada tulisan yang terpajang rapi di atasnya.
"Desa Parangan." Gumam Arga pelan dan langsung memasuki Desa itu.
Arga berhenti di depan sebuah warung, dan dia langsung memasukinya.
Saat Arga memasuki warung itu, langsung saja dia disambut oleh seorang pria paruh baya yang tersenyum lebar kepadanya, dia menebak pria itu adalah pemilik warung ini.
Dan benar saja, tebakan Arga memang tepat, pria paruh baya itu adalah Pemilik dari warung makan itu.
Arga tersenyum tipis, dia sangat senang dengan tingkah laku yang diperlihatkan oleh pemilik warung itu.
Sudah jelas pria paruh baya itu adalah orang yang baik dan memiliki budi pekerti, karena Arga sendiri hanya terlihat seperti warga biasa dan pakaiannya pun seperti pengemis. Memang Arga belum sempat mengganti pakaiannya setelah bertarung, bahkan noda darah masih ada sedikit di baju dan celananya, selebihnya sudah dia bersihkan di sungai sebelumnya.
"Aku pesan nasi ayam dan daging Paman. Jangan lupa juga hidangkan sebotol arak."
"Kalau begitu Kisanak bisa duduk disana dan menunggu. Kami akan segera menghidangkannya." Pemilik warung menunjuk ke arah meja yang kosong yang berada di pojok ruangan.
Warung makan itu cukup besar, terdapat sekitar sepuluh meja disana dan semuanya sudah terisi kecuali meja yang ditunjukkan oleh pemilik warung sebelumnya.
Arga berjalan ke meja itu dan duduk disana dengan santai sambil menunggu Pemilik warung menghidangkan pesanannya.
"Kenapa aku merasakan banyak orang yang menatapku tajam?" Arga bergumam dalam hati, dia memang merasakan banyak orang yang menatap tajam ke arahnya.
Sebenarnya itu adalah hal yang wajar, karena pengunjung warung makan itu semuanya adalah pendekar. Arga bisa melihat hal itu dari senjata-senjata yang mereka bawa.
__ADS_1
Mereka menatap Arga jelas sekali karena mereka menganggap Arga hanyalah manusia biasa dari pakaiannya.
Dan benar saja, baru beberapa saat dia duduk, sudah ada dua orang pria yang bertubuh besar mendekat ke arahnya.
"Hei anak muda!" Salah satu dari mereka memukul meja dengan keras. Dia terlihat seperti berusia awal 40 tahunan.
"Apakah Kau sebelumnya tidak melihat kaca sebelum datang kesini." Sambung pria paruh baya itu.
Sementara Arga kebingungan dengan pertanyaan Pria paruh baya itu, dengan polosnya Arga bertanya, "Apa hubungannya aku berkaca dengan datang kesini Kisanak?" Arga bersikap sopan, sebisa mungkin dia tidak ingin mengacaukan tempat ini.
"Sudah jelas bukan?" Kali ini pria paruh baya yang satunya yang mengangkat suara.
"Pengemis sepertimu tidak layak makan disini. Pasti kau mau makan habis itu pergi tanpa membayar." Pria paruh baya bertubuh kekar itu terkekeh-kekeh mengejek Arga.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini, jangan merusak selera makanku." Pria paruh baya yang pertama kali berkata kepada Arga kembali berkata lagi dan menunjuk ke arah pintu masuk dan keluar warung makan itu. Jelas sekali mereka mengusir Arga.
Saat kedua pria paruh baya itu terus menerus mengejek dan mengusir Arga, Pemilik warung sampai ke tempat mereka untuk menghidangkan makanan.
"Tidak apa-apa para pendekar terhormat. Biarkan dia makan di tempat ini." Pemilik Warung memang sudah mendengar keributan itu dari tempatnya semula.
Dia merasa iba kepada Arga dan berpikir jika dia tidak membantu Arga, maka Arga dalam bahaya.
"Kau diam Ki Matra." Pria paruh baya itu menunjuk muka Pemilik warung yang ternyata bernama Ki Matra.
Dengan cepat Ki Matra menundukkan kepalanya, bagaimanapun dia adalah seorang manusia biasa yang tidak akan mungkin bisa melawan Pendekar.
Tidak sampai disitu, pria yang bertubuh kekar maju dan mencekik leher Ki Matra, "Jangan ikut campur atau kau mati disini."
Arga geram dengan perlakuan kedua orang itu, sebenarnya jika mereka hanya menghina dirinya, dia tidak akan ambil hati karena sebisanya dia tidak ingin bertarung, tetapi jika itu menyangkut nyawa orang yang tidak bersalah, jangan salahkan Arga jika dia membunuh mereka.
"Hentikan!" Arga berseru lantang dan mengeluarkan aura bertarungnya, seketika itu juga tempat itu menjadi dingin dan udara menipis membuat kesulitan bernafas.
Kedua Pendekar itu barulah menyadari bahwa Arga adalah seorang pendekar, bukan hanya itu, Kemampuan Arga di atas keduanya. Mereka hanya bisa mengumpat dan berpikir untuk meminta maaf kepada Arga.
__ADS_1