Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih VIII


__ADS_3

Seorang gadis yang cantik, berusia 20 tahun, dengan memakai pakaian berwarna ungu yang bergaya seperti tabib.


Rambutnya terurai panjang sampai ke bahu, alis matanya tebal dan terlihat lesung pipi saat dia tersenyum.


Rara Wulan, itu namanya. Seorang gadis yang berasal dari perguruan Giok Hijau. Namanya sudah cukup terkenal di dunia persilatan, terutama di dalam dunia pengobatan. Rara Wulan adalah tabib yang sangat berbakat.


Tak hanya berbakat dalam pengobatan, Rara Wulan juga berbakat dalam berlatih ilmu silat. Terbukti, tidak ada yang berani meremehkan ataupun menghinanya.


Kini dia sedang berdiri di atas arena dengan tegap setelah namanya disebut Pendekar Pedang Sunyi. Dia sedang menunggu siapakah yang akan menjadi lawannya.


Memang sebelumnya, pertarungan antara Sumitra melawan Segoro Jaya telah selesai. Pertarungan yang sengit nan memukau itu pada akhirnya dimenangkan oleh Sumitra dengan susah payahnya. Bagaimana tidak? Sumitra mendapatkan luka-luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Ada luka yang parah dan ada juga yang biasa-biasa saja.


Tetapi Segoro Jaya lebih buruk daripada Sumitra. Segoro Jaya mengalami luka bakar di arah dadanya. Tidak lupa juga di arah wajahnya. Beruntung, disana ada seorang Dewa Obat yang ilmu pengobatannya sudah sampai pada tahap yang sangat sulit untuk orang lain raih. Akhirnya, Sumitra maupun Segoro Jaya bisa diselamatkan dan disembuhkan.


*****


Pendekar Pedang Sunyi mengambil lagi sebuah gulungan untuk menjadi lawan dari Rara Wulan.


Perlahan-lahan Pendekar Pedang Sunyi membukanya, yang membuat semua orang penasaran.


Selesai sudah Pendekar Pedang Sunyi membuka gulungan itu, lalu dia langsung meneriakkan sebuah nama, "Gendis..." Itulah nama yang tertera di dalam gulungan itu.


Semua orang yang mendengar hal itu menjadi semakin bersemangat. Bagaimana tidak? Dari awal Turnamen, Gendis selalu membuat semua orang terkejut dan terpana melihat pertunjukannya. Dan kini, dia akan berhadapan dengan Rara Wulan yang tidak kalahnya hebatnya. Tentu pertarungan ini akan sangat dahsyat dan sangat sengit.


*****


Nilawati yang mendengar nama samarannya disebut akhirnya terbang ke atas arena setelah mencium pipi Arga, "Itu adalah tanda semangatku, kau boleh menghapusnya jika aku kalah, tetapi kalau aku menang kau tidak boleh menghapusnya sampai istirahat nanti." Itulah kata-kata Nilawati setelah mencium pipi Arga.

__ADS_1


Arga tentu saja terkejut mendengar hal itu, dia kemudian memegang tempat yang sebelumnya Nilawati cium.


Terkejut lah dia, Arga mendapati jarinya kini berwarna merah, ternyata itu adalah pewarna bibir yang Nilawati gunakan.


Sekarang Arga mengerti apa maksud dari perkataan gadis itu. Dia hanya tersenyum pahit dan mengangguk tanda setuju.


"Kau membuat tantangan kepadaku, tentu saja aku akan membalasnya." Begitulah pikir Arga.


Nilawati kini sudah berada di atas arena. Dia mengarahkan pandangannya kepada Pendekar Pedang Sunyi dan setelah itu kepada Rara Wulan.


"Gendis memberi hormat kepada saudari Wulan. Mohon petunjuknya." Nilawati memberi hormat seperti biasanya.


"Tidak perlu sungkan, saudari Rara Wulan memberi hormat. Kita lihat saja nanti." Rara Wulan tersenyum tipis, dia memang penasaran dengan Nilawati. Sebelumnya dia memang berharap untuk berhadapan dengan gadis yang sekarang ada di hadapannya itu.


Melihat hal itu, Pendekar Pedang Sunyi langsung memulai pertandingannya.


Di sisi lain Rara Wulan menunjukkan hal yang sama. Walaupun dia adalah seorang tabib, tetapi dia juga cukup mahir menggunakan senjata cambuk. Dia juga langsung menggunakan cambuknya.


Cambuk Rara Wulan sendiri terbuat dari baja yang dirangkai seperti rantai. Tidak lupa di ujungnya terdapat simpul seperti bola yang dihiasi dengan duri-duri tajam. Tentu saja semuanya terbuat dari baja.


Nilawati maupun Rara Wulan tidak menunggu waktu lama, keduanya langsung bertukar serangan pertama.


Ujung cambuk dan kipas Nilawati berbenturan. Tetapi anehnya kipas Nilawati tidak rusak sedikitpun. Tentu saja, itu bukanlah kipas biasa melainkan kipas yang terbuat dari bahan khusus yang memang dibuat untuk Pendekar, ditambah dengan aliran tenaga dalam Nilawati membuat kipas itu sekeras baja juga.


Setelah pertukaran serangan pertama keduanya, udara menjadi sedikit lebih dingin, dan angin berhembus lebih kencang daripada biasanya.


Bagaimana tidak? Nilawati sekarang sedang menggunakan jurus kipasnya yang bernama 'Jurus Kipas Menerpa Hujan' Sebuah jurus yang diturunkan langsung oleh gurunya. Jurus itu juga yang menjadi salah satu jurus yang menemani gurunya mencapai nama besar dunia persilatan pada masanya.

__ADS_1


Inti dari jurus itu adalah menarik semua angin yang berada didekatnya dan dapat dikendalikan olehnya. Selain itu membuat orang yang didekatnya kesulitan bernafas yang tentu saja akan membuat kesulitan bergerak juga.


Di sisi lain Rara Wulan memukul-mukulkan cambuknya ke arah Nilawati, dia juga sedang mengeluarkan jurusnya.


Jurus ini bernama 'Jurus Cambuk Sakti Membelah Samudra'. Sebuah jurus yang dipelajari di perguruan Giok Hijau.


Jurus Cambuk Sakti Membelah Samudra memiliki pola yang menyerang lawannya dengan cepat. Selain itu juga bisa membuat udara yang ada didekatnya masuk ke dalam pusaran cambuk itu saat di gerakkan secara melingkar.


Itulah yang membuat semua penonton merasakan kesulitan bernafas. Tetapi tentu saja itu untuk para manusia biasa. Sedangkan pendekar? Mereka menggunakan tenaga dalam untuk meredam hal itu.


Serangan demi serangan tercipta diantara keduanya, kadang kipas Nilawati dan cambuk Rara Wulan saling berbenturan, kadangnya juga tapak dan tendangan mereka yang berbenturan.


Tetapi dengan tenaga dalam yang digunakan, tentu saja akan menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.


Jurus demi jurus telah digunakan keduanya. Tak terasa sudah hampir satu jam keduanya bertukar serangan.


Nafas keduanya pun tidak beraturan lagi. Nafas mereka memburu, membuat serangan-serangan yang tercipta agak sedikit melambat temponya.


Walaupun demikian, tentu saja para penonton menikmati pertarungan itu.


Selain karena ilmu kanuragan yang mereka tunjukkan tentu saja dari hal lain, penonton juga menikmati pemandangan yang indah,. Melihat wajah Rara Wulan yang sangat cantik, tentu saja merupakan keuntungan juga, terutama untuk para laki-laki. Jarang sekali mereka bisa melihat gadis-gadis yang cantik berkumpul dalam satu keadaan.


Pertarungan kembali terjadi diantara keduanya, sorak-sorai dari penonton juga menghidupkan suasana.


Banyak yang meneriakkan nama Rara Wulan, tetapi tidak sedikit juga yang meneriakkan nama Gendis, yaitu nama samaran Nilawati.


Arga sedikit terpana melihat hal itu, walaupun dia menunjukkan ilmu kanuragan tingkat tinggi tetapi penggemarnya tidak sebanyak Nilawati, begitu pikir Arga.

__ADS_1


Dia hanya bisa tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya. Menurutnya memang di dunia ini hanya ada tiga yang membuat manusia bahagia dan lupa diri, harta, tahta dan wanita.


__ADS_2