
Nilawati, Raja Sungsang Geni dan Pangeran Wirang Geni yang sejak tadi menyaksikan dari awal hanya berdiam diri. Tidak ada yang bergerak maupun bersuara sedikitpun, agar tidak mengganggu konsentrasi Arga.
Ketiganya melihat tubuh Arga mulai memancarkan cahaya berwarna hijau di seluruh tubuhnya. Mereka terus mengamati Arga sampai tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan yang keras dari dalam ruangan tempat mereka berada. Tidak ada wujud dari penyebab ledakan itu, hanya terlihat cahaya berwarna hijau dan merah saling berbenturan.
Beberapa saat sebelumnya, Arga yang menggunakan Ajian Melepas Roh langsung berubah menjadi cahaya berwarna hijau. Di sisi lain Setan Kojer berubah menjadi cahaya berwarna merah.
Keduanya bertarung dengan dahsyat, Arga dan Setan Kojer saling berbalas serangan. Tapak Arga bertemu dengan tapak Setan Kojer menghasilkan suara-suara gelombang kejut dan ledakan-ledakan yang besar.
Tidak salah banyak tabib-tabib maupun pendekar-pendekar yang tidak sanggup menghadapinya maupun tewas ditangannya, karena memang kekuatannya sangat dahsyat.
Setelah bertukar jurus beberapa puluh, Setan Kojer keluar dari ruangan tempat putri Anandita berada, dia berniat kabur dari Arga. Tetapi Arga tidak membiarkannya, Arga tidak ingin mengambil resiko bahwa setan Kojer akan kembali lagi mengganggu putri Anandita ataupun gadis lain.
Cahaya berwarna merah dan berwarna hijau kembali bertarung di halaman depan ruangan putri Anandita, Benturan-benturan keras kembali terjadi.
Nilawati, Raja Sungsang Geni dan Pangeran Wirang Geni mengikuti kedua cahaya itu. Mereka terus menyaksikan pertarungan yang terjadi.
Setan Kojer menyerang Arga dengan golok yang diciptakan dari sihirnya. Dia maju dengan gesit dan cepat, tetapi Arga menyambutnya dengan menunjukkan wajah yang tenang dan datar.
Akhirnya Arga berhasil memukul mundur Setan Kojer dengan Jurus Cakar Besi Mengoyak Langit yang digunakannya.
Setan Kojer kembali bangkit, kali ini dia mengeluarkan api berwarna merah kebiru-biruan dari tangan kanannya. Dilepaskannya api itu ke arah Arga, tetapi Arga bisa menghindarinya.
Tidak sampai disitu, Setan Kojer kembali melemparkan api itu, tetapi kali ini api itu bertambah cepat dan bertambah banyak. Satu serangan api berhasil mendarat ke tubuh Arga. Arga terpental dan mengeluarkan darah segar dari bibirnya.
Setan Kojer tertawa karena hal itu, "Hahaha... Ku kira kau cukup kuat untuk melenyapkanku, ternyata aku terlalu khawatir akan hal itu." Setan Kojer memasang wajah sinis dan meremehkan Arga.
"Cih... Sudah kuduga kau tidak berniat baik kepada putri itu, akan kulenyapkan kau." Arga mengelap darah dari bibirnya dan meludahkannya.
__ADS_1
Arga bangkit, dia kembali menyerang Setan Kojer. Kali ini dia menggunakan pedangnya. Arga mengeluarkan jurus pertama dari pedang itu.
"Pedang Naga Membelah Samudra." Arga bergerak ke arah Setan Kojer dengan cepat. Setan Kojer menyambut serangan itu dengan golok ditangannya. Suara keras langsung mengisi udara akibat benturan dari kedua senjata itu.
Setelah sekitar lima menit, akhirnya Arga berhasil membuat Setan Kojer terpojok dan goloknya pun terlepas dari tangannya.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menebaskan pedangnya ke Setan Kojer dan langsung Setan Kojer pun berubah menjadi api berwarna merah dan akhirnya lenyap tiada tersisa.
Arga menghela nafasnya dan mengelap keringat dari wajahnya. Melawan Setan Kojer sangat melelahkan baginya dan menguras stamina serta tenaga dalamnya.
Arga kembali ke raganya, dan tidak lama kemudian dia membuka kedua matanya.
Nilawati, Raja Sungsang Geni dan Pangeran Wirang Geni yang telah melihat cahaya berwarna merah menghilang langsung masuk ke dalam ruangan putri Anandita.
Mereka menemukan Arga sudah membuka matanya dan perlahan berjalan ke arah mereka.
Raja Sungsang Geni kemudian mengajak Arga dan Nilawati untuk melihat putri Anandita. Ternyata putri Anandita daritadi sudah membuka matanya.
"Ayahanda, apa yang terjadi kepadaku?" Putri Anandita memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
Raja Sungsang Geni menceritakan semua yang terjadi kepada putri Anandita, dia hanya mengangguk mendengar cerita dari ayahnya itu.
Saat Raja Sungsang Geni menceritakan bahwa Arga lah yang membantunya dan Raja Sungsang Geni berniat menikahkan putrinya itu dengan Arga, putri Anandita langsung berterima kasih kepada Arga.
Di sisi lain, Arga langsung berkata, "Yang mulia, untuk hadiahnya, aku tidak bisa menerimanya. Aku hanya bermaksud menolong putri Anda." Arga menolak dengan sopan, dia langsung melirik ke arah Nilawati yang sedang berdiri dengan wajah yang sedikit masam.
"Aku sudah memiliki pujaan hatiku sendiri." Sambung Arga sambil tersenyum lebar kepada Nilawati. Nilawati yang melihat dan mendengar hal itu langsung tersenyum lebar juga membalas senyuman Arga.
__ADS_1
"Tapi..." Belum sempat Raja Sungsang Geni menyelesaikan perkataannya, putri Anandita langsung memotongnya.
"Ayah, tidak perlu memaksa pendekar Arga. Lagipula kita harus berterima kasih kepadanya karena telah menolongku." Sebenarnya putri Anandita bergembira saat Raja Sungsang Geni ingin menikahkannya dengan Arga, tapi setelah dia mendengar jawaban Arga hatinya sedikit terluka dan dia mengatakan itu untuk membuat ayahnya tenang.
Akhirnya Raja Sungsang Geni mengangguk dan menerima keputusan Arga. Dia mengganti hadiah itu dengan satu peti koin emas dan beberapa pusaka kerajaannya.
Tetapi Arga hanya mengambil satu peti koin emas itu, sedangkan senjata dia menolaknya. Arga hanya mengatakan dia sudah memiliki senjata dan tidak berniat menggantinya.
Arga kemudian pamit bersama Nilawati, dia memegang tangan gadis itu dengan erat dan melangkah keluar istana.
Raja Sungsang Geni, Pangeran Wirang Geni dan Putri Anandita hanya terus berterima kasih dan mengantar mereka ke pintu gerbang istana.
Arga dan Nilawati naik ke atas kuda mereka dan memacunya. Keduanya melambaikan tangan tanda perpisahan.
Setelah Arga dan Nilawati tidak terlihat lagi, Raja Sungsang Geni menghela nafasnya. Dia melihat ke arah Putri Anandita yang terlihat memasang wajah yang sedih. Dia mendekat dan berkata, "Sudah sayang, dia bukan jodohmu. Lagipula kedua pendekar itu memang cocok." Raja Sungsang Geni berusaha menghibur putrinya itu.
Putri Anandita hanya menganggukkan kepalanya dan mengelap air matanya yang perlahan mulai jatuh membasahi pipinya.
Setelah berjalan beberapa waktu, Arga dan Nilawati akhirnya sampai di pasar Kotaraja. Mereka berhenti dan menambatkan kuda mereka di sebuah pohon.
"Semuanya dengarkan aku." Arga berteriak dengan kencang, sehingga membuat semua orang melihat ke arahnya dan memperlihatkannya.
"Silahkan kalian berbaris rapi dan antri, aku akan membagikan sedikit koin emas kepada kalian." Sambung Arga.
Semua orang yang berada disana akhirnya berkumpul dan berbaris panjang, baik itu pedagang maupun pembeli dan pengunjung yang berada disana tanpa terkecuali. Mereka bersemangat karena mendengar Arga akan membagikan koin emas kepada mereka.
Arga dan Nilawati pun memulai membagikannya, masing-masing warga mendapatkan 5 keping koin emas. Mereka memberi hormat dan mendoakan kebaikan kepada Arga dan Nilawati.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, masih tersisa setengah peti lagi walaupun mereka sudah membagikannya kepada banyak orang. Akhirnya mereka memasukkan koin emas itu ke kantong kain berwarna hitam agar lebih mudah membawanya. Keduanya lalu pergi dari sana dan melanjutkan perjalanan mereka.