
Di dekat Gunung Mahameru terletak sebuah perguruan silat. Perguruan ini bernama perguruan Bambu Kuning, salah satu perguruan besar aliran putih.
Perguruan Bambu Kuning menggunakan senjata tongkat yang terbuat dari bambu berwarna kuning. Bambu itu bukanlah sembarang bambu, karena bambu yang digunakan adalah bambu yang kuat dan keras seperti baja tetapi juga lentur.
Ketua perguruan Bambu Kuning bernama Lodaya, seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahunan dengan memakai pakaian berwarna kekuning-kuningan dan terdapat kalung yang melingkari lehernya dengan bambu unik sebagai bandulnya. Dikatakan unik, bambu itu berwarna kuning, pendek sekitar 5 cm, tetapi cabang atas dan cabang bawahnya bertemu. Bambu seperti itu biasanya disebut dengan 'Bambu Petuk'.
Di dunia persilatan, Lodaya lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Tongkat Bambu.
Saat ini Lodaya sedang berdiri di hadapan orang-orang di sebuah ruangan yang cukup besar di Perguruan Bambu Kuning. Ya, saat ini Lodaya sedang memimpin pertemuan antara para ketua perguruan aliran putih dan netral untuk membahas rencana pengadaan Turnamen Pemuda Putih yang akan dilaksanakan kurang lebih tiga Minggu lagi.
Pertemuan itu dihadiri sekitar seratus lebih ketua baik dari perguruan kecil, menengah maupun besar. Sepuluh perguruan besar, tiga puluh perguruan menengah dan sisanya adalah perguruan-perguruan kecil.
"Wah... Wah... Ternyata Ketua Sanjaya juga datang kesini?" Salah satu Ketua dari perguruan menengah aliran netral angkat bicara. Memang laki-laki yang dipanggil Ketua Sanjaya itu terlihat mencolok dari yang lain.
Semua orang melihat ke arah yang disebut oleh ketua dari perguruan kecil itu dan terlihat laki-laki tua yang berusia sekitar enam puluh tahun dengan baju yang terbuat dari kulit harimau berwarna loreng dan ikat kepalanya pun terbuat dari kulit harimau. Laki-laki tua itu bernama Sanjaya atau di dunia persilatan lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Cakar Maut. Sanjaya sendiri adalah ketua perguruan besar aliran putih yaitu perguruan Harimau Loreng.
"Ketua Segara juga berada disini, sungguh kehormatan bertemu dengan Anda." Kali ini Ketua dari perguruan menengah aliran putih yang angkat bicara.
Semua orang kembali mengalihkan pandangan mereka dan terlihat laki-laki tua yang berusia sekitar enam puluh tahun dengan pakaian berwarna hitam-hitam dengan rambut panjang sekitar sebahu yang terurai. Laki-laki itu bernama Segara atau di dunia persilatan lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Cambuk Penghukum. Segara sendiri berasal dari perguruan besar aliran netral.
"Ku dengar Perguruan Pedang Sakti baru saja berganti Ketua. Kelihatannya kabar itu benar." Salah satu ketua dari perguruan besar aliran putih angkat bicara.
Semua mata memandang ke arah laki-laki paruh baya yang berusia sekitar empat puluh tahun, matanya tajam seperti mata elang, rambutnya pendek dan memakai pakaian berwarna putih-putih. Dia merupakan ketua baru dari perguruan menengah aliran putih yaitu perguruan Pedang Sakti. Laki-laki itu bernama Jagabaya atau lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Pedang Sunyi. Diberi gelar sedemikian rupa karena Jagabaya sendiri bersifat dingin dan pendiam, dia hanya berbicara seperlunya dan disaat yang penting saja. Dia lebih senang berbicara menggunakan pedangnya daripada mulutnya.
"Senang bertemu dengan Anda, saya sudah mendengar sepak terjang Ketua Jagabaya beberapa tahun ini dan saya rasa Anda cocok untuk menyandang gelar ketua itu." Ketua dari perguruan besar aliran putih itu kembali angkat bicaranya.
__ADS_1
Jagabaya hanya tersenyum dan mengangguk kepada Ketua dari perguruan besar aliran putih itu.
"Seperti kabar Pendekar Pedang Sunyi itu benar, hahaha... Hahaha." Ketua perguruan besar aliran putih itu tertawa lantang.
Setelah menunggu beberapa saat dan mempersilahkan semua ketua untuk bertegur sapa, akhirnya Ketua Lodaya angkat bicara.
"Baiklah, pembicaraan saya ambil alih dari sekarang. Terima kasih saudara-saudaraku sudah berkenan hadir dipertemuan ini." Semua orang diam dan memperhatikan perkataan Ketua Lodaya.
"Hari ini kita akan membahas tentang perencanaan Turnamen Pemuda Putih. Ada pertanyaan sebelum kita memulainya?" Ketua Lodaya kembali angkat bicara.
Para hadirin yang ada disana saling melihat sebentar sebelum menggelengkan kepalanya semua.
"Baiklah kalau tidak ada, langsung saja saya akan menjelaskan semuanya." Ketua Lodaya menjelaskan apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan itu.
Selanjutnya Ketua Lodaya menjelaskan bahwa murid yang boleh mengikuti Turnamen ini berusia tujuh belas sampai dua puluh lima tahun baik itu laki-laki maupun perempuan dan peserta hanya boleh dua perwakilan dari masing-masing perguruan.
Turnamen Pemuda Putih juga boleh menggunakan jurus dan senjata mereka asalkan tidak membunuh atau membuat lumpuh.
Selanjutnya mereka membahas tentang keamanan dari Turnamen Pemuda Putih, keamanan tentunya harus sangat ketat apalagi mereka akan mengikutsertakan Pendekar yang tidak memiliki perguruan atau Pendekar pengembara.
Setelah semuanya selesai, mereka menutup pertemuan itu dengan jamuan yang disajikan oleh perguruan Bambu Kuning dan perbincangan-perbincangan biasa.
*****
Arga dan Nilawati kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah mandi. Keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh.
__ADS_1
Setelah sekitar enam jam dalam perjalanan, keduanya akhirnya menemukan sebuah Desa. Arga dan Nilawati memutuskan untuk singgah disana untuk membeli topi caping dan topeng untuk menyamarkan identitas mereka.
Setelah bertemu dengan Tiga Pendekar Macan Putih, Arga yakin bahwa namanya dan Nilawati sudah cukup terkenal di dunia persilatan. Untungnya banyak Pendekar dari dunia persilatan belum mengenali dan mengetahui wajahnya dan Nilawati, jadi masih cukup memudahkan bagi keduanya untuk menyamar. Arga juga sudah mempersiapkan nama samarannya dan Nilawati selama di Turnamen Pemuda Putih nanti. Arga akan mengganti namanya menjadi Raga sedangkan Nilawati menggunakan nama Gendis. Selain membeli topi caping, Arga juga membeli topeng yang menutup setengah wajahnya sebelah kanan sedangkan Nilawati membeli topeng yang menutupi setengah wajahnya sebelah kiri.
Keduanya terlihat seperti pendekar biasa-biasa saja bahkan bisa dibilang keduanya seperti penduduk biasa yang menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya yang mungkin buruk rupa atau penuh luka. Hal itu didukung juga dengan jurus mereka yang bisa menyembunyikan sesuatu ke dalam tubuh jadi keduanya tidak membawa apa-apa.
Setelah selesai, Arga dan Nilawati memutuskan untuk mengisi perut mereka. Keduanya singgah ke sebuah warung makan yang ada di Desa itu. Keduanya duduk di sebuah meja yang telah disiapkan.
Pengunjung warung makan itu cukup sepi. Dari sepuluh meja yang tersedia hanya terisi satu meja selain Arga dan Nilawati. Dan itu adalah seorang warga Desa itu.
Memang Desa tempat Arga dan Nilawati singgah sekarang adalah Desa kecil yang cukup terpencil.
*****
**Hai... Hai para readers!!!
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti perjalanan Arga. Jangan lupa like, komen, favoritkan, rate bintang 5 dan share agar karya ini terus berkembang.
Terima kasih juga yang selama ini sudah memberikan vote poin untuk novel ini, itu membuat author sangat senang dan menambah semangat author.
Terima kasih juga buat Bang Santo Jaya, Anda adalah orang yang pertama memberikan saya tips Koin, semoga saja banyak lagi readers yang memberikan tips untuk saya.
Akhir kata, selamat menikmati ceritanya, semoga bisa menghibur kalian semua.
Stay At Home! Keep Strong, Keep Smile and Keep Your Spirit**.
__ADS_1