Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Bergerak


__ADS_3

"Dimana Aku?"


"Dimana ini?"


"Apa yang terjadi? Siapa kalian?"


"Ah kepalaku pusing."


Kata-kata itu keluar dari mulut para anggota Kelompok Topeng Ungu. Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi.


Saat mereka larut dalam pertanyaan tentang apa yang terjadi kepada mereka semua, tiba-tiba seorang pemuda muncul di hadapan mereka.


*****


Arga keluar dari tenda perkemahan Kelompok Topeng Ungu, dia berjalan dengan tegap dan gagah sambil tersenyum menyeringai.


Dia berhenti setelah berada di depan Nilawati dan anggota Kelompok Topeng Ungu berada dan berkata, "Ketua kalian sudah ku bunuh." Arga berbicara lantang sambil dialiri tenaga dalam yang membuat suaranya terdengar oleh semua orang.


"Ketua?" Semua anggota Kelompok Topeng Ungu terkejut dan menanyakan hal yang sama, mereka tidak mengerti dengan yang dikatakan Arga.


"Cepat pergi dari sini atau kalian akan menyusulnya! Ingat! Pergilah dan berubah menjadi manusia yang baik lagi. Aku mengampuni kalian, karena aku tahu kalian tidak sepenuhnya sadar melakukan semua itu.


Tapi jika aku masih melihat kalian lagi di daerah kerajaan Kalingga ini..." Arga menghentikan kata-katanya sebentar.


"Tidak ada kesempatan untuk kalian dan aku akan membunuh kalian dengan cara yang paling kejam." Arga menutup kata-katanya.


Para anggota Kelompok Topeng Ungu bertambah kebingungan dengan apa yang dikatakan Arga, mereka benar-benar tidak mengerti!


Melihat kebingungan dari mereka, Arga langsung menjelaskan bahwa mereka terkena ilmu sihir ilusi dari Ketua Kelompok Topeng Ungu dan dikendalikan.


"Terima kasih Pendekar! Kami janji akan berubah." Anggota Kelompok Topeng Ungu memberi hormat kepada Arga dan Nilawati sebelum pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang masih menampakkan kebingungan.


Setelah tidak ada lagi yang tersisa, Nilawati mendekati Arga dan menanyakan alasan suaminya itu mengampuni anggota Kelompok Topeng Ungu.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, mereka terkena sihir ilusi. Ketua Kelompok Topeng Ungu itu bisa menggunakan sihir ilusi untuk menjadikan mereka budak."


"Mari kita kembali ke kerajaan Kalingga. Tenaga kita sangat dibutuhkan disana." Keduanya terbang dan menuju istana kerajaan Kalingga.


*****


Dua Minggu kemudian, di kerajaan Singaparna

__ADS_1


Terlihat empat sosok dengan tiga laki-laki dan satu perempuan, keempatnya sedang bertekuk lutut menghadap ke arah sosok pria paruh baya yang berusia sekitar 50 tahunan.


Keempat orang itu adalah Tetua-tetua dari Kelompok Topeng Ungu.


"Ampun Yang Mulia Raja Jentalu." Tetua yang memiliki umur paling tua diantara keempatnya akhirnya membuka suaranya.


Keempatnya ternyata sedang menghadap kepada Raja Jentalu, Raja dari kerajaan Singaparna.


Raja Jentalu berusia sekitar 50 tahunan, tubuhnya tinggi dan berisi serta tampan dan berkarisma. Matanya tajam seperti mata elang, kulitnya sawo matang dan berkumis tipis. Tidak lupa mahkota kerajaan terletak di kepalanya dengan dihiasi permata berwarna merah terang.


"Katakan apa yang terjadi?" Suara Raja Jentalu akhirnya keluar dari mulutnya.


"Yang Mulia, Kelompok Topeng Ungu sudah binasa! Hanya kami berempat yang tersisa." Tetua yang sebelumnya bicara tadi kembali bicara.


"Ketua Kelompok Topeng Ungu, Kakang Lembu Ireng tewas di tenda perkemahan dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Sedangkan untuk anggota kami, sebagian mereka mati di luar perkemahan dan sisanya kami tidak tahu dimana?" Tetua itu menutup perkataannya, sebenarnya dia tidak percaya ini terjadi, tetapi dia sendiri menyaksikan hal itu.


Sebelumnya keempat para tetua Kelompok Topeng Ungu sedang menjalankan tugas mereka masing-masing. Alangkah terkejutnya mereka ketika kembali ke perkemahan akan melihat tubuh-tubuh anggota mereka yang telah membusuk, bahkan ada yang tercabik-cabik seperti di makan sesuatu.


Yang membuat keempatnya bertambah terkejut adalah melihat Ketua mereka sudah tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya, hal itu membuat dugaan mereka bahwa kelompok mereka telah diserang beberapa waktu yang lalu.


Keempatnya tidak tahu lagi harus kemana, karena itulah mereka memutuskan untuk kembali ke kerajaan Singaparna.


*****


Akhirnya sosok pria tua angkat bicara, usianya sekitar 70 tahunan dengan menggunakan pakaian kesatria.


"Berarti rencana kita sudah diketahui Yang Mulia."


"Kau benar Patih Trenggano." Balas Raja Jentalu.


Ternyata pria tua itu adalah Patih dari kerajaan Singaparna, Patih Trenggano.


"Lalu, langkah apa yang harus kita lakukan?" Sambung Raja Jentalu.


"Kita harus mengabarkan kepada kerajaan Jenggala untuk cepat melaksanakan perang terbuka dengan kerajaan Kalingga Yang Mulia." Jawab Patih Trenggano.


"Kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Kalingga sudah setengahnya memihak kepada kita. Sedangkan setengahnya memilih tidak terlibat." Sambung Patih Trenggano menjelaskan kepada Raja Jentalu.


"Lagipula ini saatnya untuk para pendekar hebat ini menunjukkan kemampuan mereka." Patih Trenggano tersenyum lebar ke arah tiga orang Pendekar tua di hadapannya.


Tiga orang itu terdiri dari dua orang laki-laki dan seorang perempuan.

__ADS_1


*****


Mendengar mereka disinggung oleh Patih Trenggano, ketiga Pendekar tua itu saling bertatapan sebelum akhirnya seorang dari mereka berdiri dan berkata, "Patih Trenggano benar Yang Mulia. Tidak perlu takut jika kami ada disini."


Ketiga orang itu adalah Gading Koneng, Parwati, dan Sembada, Guru dari Tiga Pendekar Macan Putih yang sebelumnya Arga bunuh.


Memang berkumpulnya mereka adalah untuk membalas dendam kepada Arga.


Mendengar hal itu Raja Jentalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, "Baiklah, segera persiapkan pasukan."


Setelah titah dari Raja Jentalu keluar, semua orang melaksanakan tugasnya masing-masing.


*****


Arga dan Nilawati sendiri sekarang sudah berada di kerajaan Kalingga. Tidak ada halangan yang berarti menghadang mereka di jalan, hanya beberapa kelompok Perampok yang hanya terdiri dari manusia biasa yang mereka temui.


Keduanya saat ini sedang beristirahat di ruangan yang telah disediakan khusus untuk mereka.


"Nila, setelah ini Kita pergi ke gunung Ambar." Arga mengelus-elus rambut istrinya itu yang sedang berbaring di pangkuannya.


Nilawati mendongakkan kepalanya dan berkata, "Selagi itu masih bersamamu, kemana saja pergi aku akan ikut dengan senang hati." Nilawati tersenyum ke Arga.


"Istri yang baik! Setelah ini berakhir, kita akan hidup bahagia di gunung Ambar. Merawat guru, merawat anak-anak kita nanti dan mengajari mereka ilmu kanuragan." Arga mencium kening Nilawati.


"Aku juga sudah menantikan hal itu." Nilawati mengganti posisinya dari berbaring menjadi duduk di pangkuan Arga dan mencium balik suaminya itu.


*****


Di gunung Ambar, tepatnya di sebuah gubuk terlihat wanita tua sedang duduk bersila, dia adalah Mawar Bidara.


Dua hari yang lalu, muridnya Ayu mengabarinya dan meminta bantuannya.


"Tidak kusangka, setelah puluhan tahun aku memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan,. akhirnya aku akan kembali." Mawar Bidara membuka matanya, dan setelah itu dia berdiri.


"Baiklah, dunia aku kembali!" Setelah berkata demikian, Mawar Bidara melesat terbang meninggalkan puncak Gunung Ambar.


*****


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2