
Penduduk desa hanya bisa mengikuti apa yang disampaikan oleh Ki Luwuh.
Selama sebulan pertama mereka masih bersikap biasa saja dan mengumpulkan upeti yang diperintahkan Ki Luwuh. Tetapi di bulan-bulan berikutnya mereka mulai mengeluh dan menambah kecurigaan mereka kepada Ki Luwuh.
Penduduk desa sepakat untuk mendatangi kediaman Ki Luwuh dan memintanya untuk menjelaskan secara rinci tentang masalah upeti.
Puncaknya terjadi hari ini, seluruh penduduk desa mendesak Ki Luwuh untuk menemui Adipati Anom untuk mengembalikan pengambilan upeti seperti bulan-bulan yang biasanya saat awal-awal Ki Luwuh menjabat.
"Ki Luwuh, berikan kami kejelasan tentang hal ini. Kami sudah tidak sanggup lagi membayar upeti bulan-bulan terakhir ini. Kalau kau tidak mau menemui Adipati Anom biarkan kami yang menemuinya dan meminta penjelasan darinya." Ucap seorang penduduk desa yang sedang memikul cangkul dipundaknya.
"Aku akan menemanimu menemui Adipati Anom, Amiroto." Teriak penduduk desa lain yang sedang memegang golok di tangannya.
"Saudara-saudaraku sekalian, kebijakan ini memang benar dikeluarkan dari Adipati langsung. Beliau mengatakan bahwa di Kotaraja saat ini sangat membutuhkan upeti yang banyak."
"Bukannya aku tidak mau menemui Adipati Anom, tetapi memang itu sudah keputusannya. Walaupun kalian menemuinya secara langsung, maka jawabannya akan sama seperti ini. Jika kalian pergi ke kadipaten pun kalian akan pulang dengan hasil yang kosong." Jawab Ki Luwuh menenangkan penduduk desa
Penduduk desa yang mendengar hal itu tentu masih tidak percaya dengan ucapan Ki Luwuh mereka terus mendesak Ki Luwuh untuk menemui Adipati Anom.
Tetapi Ki Luwuh hanya menjawab berulangkali apa yang dikatakannya barusan.
"Baiklah jika kalian tidak percaya kepadaku, silahkan kalian saja yang menemui Adipati Anom."
Penduduk desa belum meninggalkan halaman rumah Ki Luwuh, mereka berdiskusi tentang siapa yang akan dikirim untuk menemui Adipati Anom di kadipaten.
Akhirnya ada tiga orang yang bersedia untuk menemui Adipati Anom di kadipaten. Mereka adalah Amiroto, Mudin dan Marto. Ketiga sepakat akan pergi esok siang. Karena jarak dari desa Mergosari ke kadipaten Tubun memang lumayan jauh, jika di tempuh dengan kuda memerlukan tiga hari perjalanan dan jika jalan kaki akan membutuhkan seminggu perjalanan.
__ADS_1
Arga yang telah menyaksikan kejadian itu dari awal hanya diam dan tak bertindak apa-apa. Dia sembunyi di atas pohon yang berada cukup jauh dari halaman rumah Ki Luwuh. Karena dia seorang pendekar tentu instingnya pendengarannya saat kuat. Kita mendengarkan semua percakapan antara Ki Luwuh dan penduduk desa. Dia saat yakin bahwa Ki Luwuh ini menyembunyikan sesuatu.
Setelah menetapkan siapa yang akan menemui Adipati di kadipaten, penduduk desa akhirnya membubarkan diri dari halaman rumah Ki Luwuh dan pulang ke rumah masing-masing.
Setelah penduduk pergi dari halaman rumahnya, Ki Luwuh hanya melamun dan memasang wajah bersalah. Dia memejamkan matanya dan menghela nafasnya, dia sempat berpikir untuk berhenti menjadi kepala desa, akan tetapi pemikiran itu segera ditepis olehnya, karena bagaimanapun dia ingin membuat desa nya menjadi desa yang makmur di bawah kepemimpinannya.
Arga terbang turun dari pohon tempat persembunyiannya. Dia melayang di udara sebelum tiba di halaman rumah Ki Luwuh. Ki Luwuh yang melihat hal tersebut menjadi siaga dan was was sambil memegangi keris yang ada di pinggangnya.
Setelah Arga menginjakkan kaki di halaman rumahnya, Ki Luwuh bersikap sopan dan bertanya apakah maksud kedatangan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
"Maaf kisanak, apa yang kisanak inginkan dari diriku?". Ki Luwuh bertanya sambil memandangi semua tubuh anak muda dihadapannya itu.
"Maaf Paman jika kedatanganku membuat paman terkejut dan waspada, tetapi aku hanya ingin menolong paman. Arga memperkenalkan diri kepada Ki Luwuh dengan tenang." Ucap Arga membalas pertanyaan Ki Luwuh.
"Membantuku? Memangnya apa yang akan kau lakukan untuk membantuku? dan apakah kau tau apa masalah diriku ini?". Ki Luwuh menatap tajam Arga.
Ki Luwuh mematung sejenak sebelum menyetujui dan mengajak Arga masuk ke dalam rumahnya. Ki Luwuh mempersilahkan Arga duduk dan meminta istrinya untuk menyuguhkan arak kepadanya.
Setelah Arga selesai meminum secangkir arak, dia lalu meminta Ki Luwuh untuk menceritakan masalahnya.
Ki Luwuh mulai bercerita semua yang terjadi kepadanya dan keluarganya.
Arga yang mendengarkan cerita Ki Luwuh sesekali mengerutkan dahinya. Dia sangat merasa iba kepada kepala desa itu. Arga berjanji akan menyelamatkan anak Ki Luwuh dan membumi hanguskan lima iblis dari bukit Jali.
Ki Luwuh yang mendengar hal itu sangat antusias dan berterima kasih. Dia juga berjanji akan memberikan imbalan kepada Arga.
__ADS_1
Arga langsung mematung dan menatap tajam Ki Luwuh, dia tidak meminta imbalan sedikitpun karena memang dia berniat ikhlas membantu Ki Luwuh.
Ki Luwuh yang melihat Arga seperti tidak senang ketika dia menyebutkan akan memberikan imbalan, dia langsung tersadar bahwa dia melakukan kesalahan.
"Maaf kisanak, apakah penawaranku kurang menarik untuk kisanak?". Ki Luwuh tiba-tiba bertanya kepada Arga.
"Ah maaf Paman, bukannya begitu tetapi aku tidak terlalu senang saat paman mengatan akan memberikan imbalan kepadaku. Karena aku hanya berniat ikhlas membantu paman dan tidak meminta imbalan."
Ki Luwuh yang mendengar jawaban Arga kembali mematung sejenak dan mulai berkata dalam hati "Pemuda ini memiliki hati yang sangat baik, di usianya yang masih muda seperti ini saja dia sudah memikirkan orang lain. Semoga dia menjadi pendekar yang berbudi luhur dan melakukan kebaikan."
"Jika itu yang membuat kisanak tidak nyaman maka maafkanlah paman ini, tetapi paman tetap harus memberikan imbalan kepada kisanak."
Arga tidak mau berdebat lebih jauh, dia hanya mengangguk kepada Ki Luwuh dan mulai menanyakan dimana letak persembunyian lima iblis bukit Jali.
Ki Luwuh memaparkan semua yang dia ketahui. Setelah selesai Ki Luwuh juga menyarankan agar Arga menginap di rumahnya.
Arga setuju, karena dia juga ingin beristirahat dan kalaupun Ki Luwuh tidak memintanya menginap di rumah Ki Luwuh maka Arga akan mencari penginapan di desa ini.
Ki Luwuh mengantarkan Arga ke kamar tamu yang disediakan. Dia meminta istrinya untuk membersihkan kamar itu terlebih dahulu.
Keesokan harinya, Arga berniat mencari lima iblis bukit Jali tetapi Ki Luwuh menahannya dan mengatakan bahwa Arga cukup menunggu saja selama seminggu, karena sebentar lagi pengumpulan upeti bulanan akan segera dilakukan.
Arga mengangguk dan dia hanya berlatih ilmu-ilmu silat sembari menunggu kedatangan lima iblis bukit Jali.
Ketiga penduduk desa yang ditetapkan untuk menemui Adipati Anom akhirnya berangkat menggunakan kuda untuk menemui Adipati Anom di kadipaten.
__ADS_1
Setelah tiga hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di kadipaten. Mereka tiba di pintu gerbang untuk menemui Adipati Anom. Tetapi mereka di hadang oleh penjaga yang ada pintu gerbang.