Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih III


__ADS_3

Setelah bertukar puluhan jurus dengan berimbang, akhirnya Nilawati bisa mendaratkan satu pukulannya kepada Priamitra. Hal itu membuat Priamitra mundur beberapa langkah untuk menstabilkan tubuhnya.


Nafas keduanya memburu, mereka menggunakan semua kemampuan yang dimiliki.


Sebenarnya Priamitra berdecak kagum karena Nilawati yang menyamar dengan nama Gendis itu dapat mengimbangi serangannya.


"Gadis ini semakin membuatku tertarik." Priamitra membatin, dia tersenyum tipis ke arah Nilawati.


Sementara itu, Nilawati juga membatin dalam hatinya, "Walaupun Jurus Pedangnya tinggi, tetapi masih jauh dibawah Arga sedangkan untuk tenaga dalamnya bukanlah masalah bagiku."


Setelah mengambil jarak beberapa saat untuk menstabilkan nafas, keduanya kembali beradu serangan. Kali ini Nilawati menggunakan kipasnya untuk menghadapi pedang Priamitra.


Semua orang terkejut ketika melihat Nilawati dapat mengeluarkan sebuah kipas dari udara. Karena belum pernah mereka dengar ada yang bisa melakukan hal seperti itu. Memang Jurus Ndhelikake Soko yang Brama Sakti turunkan kepada Arga dan Nilawati adalah jurus ciptaannya sendiri dan belum pernah dia ajarkan kepada orang lain sebelumnya.


Salah satu orang yang terkejut adalah Lasmini. Dia kemudian menanyakan hal itu kepada Arga, "Arga bagaimana Nila bisa melakukan hal seperti itu?"


"Ah itu, itu adalah jurus baru yang aku dan Nilawati dapatkan." Arga tersenyum canggung dan melirik ke arah Lasmini.


"Luar biasa... Baru beberapa waktu kita tidak bertemu, kemampuan kalian berdua semakin bertambah dengan cepat, terutama Kau, Arga." Lasmini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia hanya bisa tersenyum pahit menyaksikan hal itu.


Sementara itu, Ketua-ketua perguruan yang berada disana mengerutkan dahi. Mereka sangat penasaran dengan apa yang barusan Nilawati lakukan. Terutama Lodaya, Ketua Perguruan Bambu Kuning, Dia sampai-sampai berdiri dari tempat duduknya ketika melihat Nilawati dapat mengeluarkan sesuatu dari udara.


"Gadis itu adalah teman dari pemuda yang bisa menguasai Jurus Desendria itu. Kelihatannya sudah dipastikan keduanya akan menjadi finalis dari Turnamen ini." Lodaya tersenyum pahit saat melihat kemampuan yang ditunjukkan Arga dan Nilawati.


Sebenarnya Jurus Pedang yang Priamitra tunjukkan sudah sangat bagus, tetapi hal itu tertutupi oleh kemampuan yang ditunjukkan oleh Nilawati.

__ADS_1


*****


Di arena lain, terlihat seorang gadis sedang berhadapan dengan seorang pemuda. Gadis itu adalah Sekar Wangi, murid perguruan Lembah Perawan yang Arga dan Nilawati temui beberapa waktu lalu.


Dia sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang berusia sekitar 24 tahun dengan kulit hitam gelap. Tubuhnya gemuk dan rambutnya panjang terurai sampai ke bahu. Tingginya sekitar 150 cm dengan kumis dan jenggot yang tebal menghiasi wajahnya. Pemuda itu adalah Gembung, murid dari perguruan menengah aliran netral yaitu perguruan Golok Suci.


Perguruan Golok Suci adalah perguruan yang terletak di daerah perbatasan antara kerajaan Kalingga dan kerajaan Medang Kemulan. Perguruan itu mendalami ilmu beladiri dengan golok sebagai senjatanya.


Jurus yang paling terkenal dari perguruan itu adalah jurus Golok Pembantai. Jurus itu mengutamakan kecepatan dan kelincahan dengan pola-pola yang rumit dan sulit ditebak.


Saat ini Gembung sedang memegang sebuah golok besar yang panjangnya sekitar satu setengah meter. Golok itu adalah salah satu golok terkuat yang dimiliki oleh perguruan Golok Suci. Yang mana senjata itu adalah senjata kelas atas.


Sedangkan Sekar Wangi sedang memegangi pedang yang biasa digunakannya.


Keduanya sedang mengambil jarak untuk mengatur nafas mereka yang terputus-putus setelah bertukar puluhan jurus.


"Tring... Trang... Trung..." Setiap benturan dari kedua senjata mereka menghasilkan suara-suara keras dengan ledakan kecil disekitar mereka.


Gembung bergerak dengan gesit terlepas dari golok besar yang digunakannya. Dia terlihat tidak kesulitan sedikitpun menggunakan senjata itu.


Di sisi lain, Sekar Wangi juga menunjukkan kecepatan dan kelincahan dengan pedang yang terpegang di tangannya. Pedang itu memiliki panjang sekitar satu meter dan memiliki lebar sekitar 5 cm.


Benturan demi benturan tercipta diantara keduanya. Kali ini nafas mereka kembali terputus-putus karena butuh tenaga dalam yang cukup besar untuk menggunakan jurus-jurus mereka. Selain itu, pertarungan ini menguras jiwa dan pikiran mereka.


Tetapi benar kata orang-orang, kesalahan dalam pertarungan walaupun itu hanya sedikit dan kecil tetapi sudah bisa membuat pertarungan menjadi berubah drastis.

__ADS_1


Hal itu ditunjukkan pada pertarungan ini. Entah apa yang dipikirkan oleh Gembung, tetapi serangannya menjadi tidak teratur seperti sebelumnya dan itu tentu saja tidak disia-siakan oleh Sekar Wangi. Dia memanfaatkan kesempatan itu dan berhasil menggoreskan beberapa sayatan pedangnya ke tubuh Gembung.


Sekar Wangi yang berhasil memojokkan Gembung tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menyerang Gembung bertubi-tubi dan tidak lama kemudian Sekar Wangi berhasil menggoreskan beberapa sayatan lagi, kali ini di bagian dada dan pipi Gembung. Dan pertarungan itu mencapai akhirnya pada saat Sekar Wangi berhasil membuat Golok Gembung terlepas dari tangannya.


Gembung yang telah kehilangan senjatanya menjadi kehilangan nafsu bertarung. Memang bagaimanapun juga, seorang pendekar yang kehilangan senjatanya dalam pertarungan sama saja dia kehilangan nyawanya.


"Aku menyerah!?" Gembung berteriak dengan lantang. Setelah itu dia maju beberapa langkah dari tempatnya sebelumnya dan berkata kepada Sekar Wangi, "Terima kasih saudari Sekar sudah memberikan petunjuk kepada saudara ini." Gembung memberi hormat dan tersenyum pahit.


"Sekar tidak berani menerima penghormatan itu. Saudara Gembung sebenarnya sangat kuat. Sebuah keberuntungan bagiku bisa menang. Terima kasih juga telah memberikan petunjuk kepada saudari ini." Sekar Wangi membalas penghormatan Gembung itu.


Dengan demikian, wasit yang memimpin pertandingan itu mengumumkan bahwa Sekar Wangi memenangkan pertandingan itu.


"Sangat bagus Dinda! Kau menunjukkan kemampuan yang sangat tinggi." Pandan Wangi memberikan selamat kepada adik kandungnya itu.


"Ini semua berkat petunjuk Kakak dan para Guru." Balas Sekar Wangi sambil tersenyum lebar kepada Pandan Wangi.


Sementara itu didekat keduanya berdiri seorang pemuda yang tidak lain adalah Yasha. Dia juga memberi selamat kepada Sekar Wangi, "Selamat atas kemenanganmu saudari Sekar." Yasha tersenyum ke arah Sekar Wangi.


"Terima kasih saudara Yasha. Saudari ini yakin, saudara Yasha juga akan memenangkan pertarungan nanti."


*****


Sementara itu Rara Murni yang merupakan adik seperguruan Yasha sedang bertarung dengan seorang gadis yang berusia sekitar 23 tahun.


Gadis yang menjadi lawan Rara Murni itu memiliki kulit berwarna kuning langsat dengan rambut panjang menjuntai sampai ke punggungnya. Alisnya tebal dan bulu matanya sangat lentik yang membuat senyumannya sangat enak dipandang dan akan membuat semua orang menyukainya. Hal itu dapat didengar dari teriakan-teriakan penonton yang menyaksikan pertandingan itu.

__ADS_1


Memang selain peserta dan para ketua perguruan, penonton juga dipersilahkan dari manusia biasa ataupun dari para pendekar-pendekar yang ingin menyaksikan Turnamen ini.


Memang Turnamen ini terbuka dan dapat disaksikan oleh siapa saja bahkan oleh Pendekar dari perguruan aliran hitam sekalipun.


__ADS_2