
"Namaku adalah Seta... Bersiaplah untuk ****** ditanganku." Seta melompat dari depan pintu gubuknya.
Arga mendorong Nilawati sambil berkata, "Mundurlah, masuk ke dalam gubuk itu, bebaskan sanderanya." Kemudian Arga menyambut serangan dari Seta.
Seta tidak memperdulikan lagi Nilawati yang ingin membebaskan gadis yang diculiknya, pikirannya sudah tertuju untuk membunuh Arga.
Tangan Arga dan Seta bertemu, menghasilkan suara keras dan gelombang kejut yang sangat dahsyat.
Ledakan-ledakan akibat benturan tangan mereka tercipta sekitar keduanya.
Setelah bertukar kurang lebih sepuluh jurus, Arga maupun Seta mundur untuk mengatur nafas dan mempelajari lagi kekuatan masing-masing.
"Hem... Ilmu kanuragannya memang tinggi, sama seperti yang aku dengar dari orang-orang." Seta berkata dalam hatinya sambil terus memandang ke arah Arga.
Sementara Arga, "Siapa pendekar ini, baru kali ini aku berhadapan dengan orang yang setara denganku. Ilmu kanuragannya begitu tinggi dan tenaga dalamnya juga." Arga membatin dan menilai kekuatan lawan dihadapannya itu.
Keduanya hanya diam dan saling menatap. Kemudian Seta memecah keheningan itu, "Ternyata ilmu kanuraganmu memang seperti yang orang-orang bicarakan. Aku sangat beruntung bisa berhadapan denganmu." Seta memuji Arga, kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Tapi sayangnya kau harus ****** ditanganku." Seta tersenyum menyeringai kepada Arga.
Arga tidak menanggapi hal tersebut, dia hanya bersikap dingin dan tenang, wajahnya datar tidak menunjukkan ekspresi.
Seta kemudian kembali maju menyerang Arga, kali ini dia lebih cepat dan gesit dariapda sebelumnya.
Arga kembali menyambut serangan itu, keduanya berimbang dan saling mendaratkan satu pukulan masing-masing. Keduanya kembali mundur, dan kembali mengatur nafas.
"Arga ini lebih muda daripada aku, tapi ilmu kanuragannya... Benar yang dikatakan guru." Seta membatin, dia mengingat perkataan gurunya bahwa jika Arga adalah murid Mawar Bidara maka ilmu kanuragannya pasti tinggi.
"Kalau begitu aku akan mengeluarkan Jurus Elang Sakti Menangkap Ayam" Seta kembali membatin. Saat Seta ingin maju, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, betapa terkejutnya dia saat melihat Arga juga menggunakan Jurus yang sama.
Arga yang daritadi menatap ke arah Seta melihat gerak-gerik pemuda itu. Kemudian dia melihat gerakan dari Seta yang akan mengeluarkan, "Jurus Elang Sakti Menangkap Ayam." Pikirnya. Arga lalu mengeluarkan Jurus yang sama. Dia menggunakan Ilmu Desendria nya untuk meniru bahkan lebih sempurna gerakannya.
Keduanya bertukar serangan, mereka menggunakan Jurus yang sama. Tapi karena Arga seperti lebih menguasai Jurus itu dibanding Seta akhirnya dapat mengungguli pemuda itu dan mendaratkan satu pukulan yang cukup keras ke dadanya.
Seta terhempas, dia mengeluarkan darah segar dari pinggir bibirnya.
__ADS_1
"Keparat..." Seta murka, "Darimana kau mempelajari Jurus itu?" Dia tidak bisa tidak terkejut karena Jurus itu adalah Jurus ciptaan gurunya.
Arga tersenyum lebar, kemudian dia berkata, "Makanya kau jangan sombong dulu, ingat diatas langit masih ada langit. Ilmu kanuraganmu memang tinggi, tetapi hatimu dipenuhi dengan kebencian yang membuat ilmumu tidak bisa dikeluarkan dengan sempurna." Arga bisa sedikit tersenyum.
"Cih..." Seta meludah, "Aku tidak perlu kata-katamu." Seta kemudian kembali maju menyerang Arga.
Serangan demi serangan tercipta diantara keduanya, tapak demi tapak, kaki demi kaki selalu berbenturan dan menciptakan ledakan-ledakan kecil.
"Bukkkk..." Arga terkena pukulan dari Seta dan membuatnya terpental.
Arga tersungkur, dia terkena pukulan di bagian dadanya. Bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Kali ini aku mendapatkan lawan yang tangguh." Arga membatin dan kembali berdiri. Sementara Seta tertawa terbahak-bahak karena dia berhasil mendaratkan pukulannya kepada Arga.
"Gimana Arga, mau kita lanjutkan?" Seta bersikap angkuh dan sombongnya, padahal sebelumnya dia terkena pukulan Arga.
Arga tidak menjawab, dia hanya menunjukkan ekspresi datar, kali ini dia yang maju duluan menyerang Seta.
Serangan Arga sangat lincah dan gesit, tapi Seta juga bisa mengimbanginya tanpa kesulitan.
Seta kembali berdiri, kali ini dia mengeluarkan pedang yang ada dipunggungnya.
"Pedang Pencabut Nyawa" Gumamnya dalam hati. Arga langsung dengan mudah mengenali pedang itu karena memang ada keunikan tersendiri di pedang itu.
Bagian gagang Pedang Pencabut Nyawa terdapat corak kepala tengkorak. Pedangnya berwarna hitam pekat dan mengeluarkan aura yang haus darah yang sangat jahat.
Panjangnya sekitar 1,5 meter, mata pedangnya sangat tajam dan mengeluarkan sinar berwarna hitam pekat.
Arga mengetahui Pedang itu dari Gurunya, Nenek Mawar Bidara.
Seta masih mengangkat pedang itu ke atas, "Pedang Pencabut Nyawa?" Arga mengeluarkan suaranya, "Apa hubunganmu dengan Gading Koneng, Pendekar Pencabut Nyawa." Sambung Arga.
"Oh kau tahu guruku, berarti benar kau adalah murid Mawar Bidara, jagoan nomor satu dunia persilatan pada masanya." Balas Seta dengan tersenyum sinis, "Guruku tidak bisa membunuh gurumu karena memang ilmu gurumu lebih tinggi daripada guruku, selain itu karena guruku mencintai gurumu." Sambung Seta, "Hari ini aku akan membunuhmu."
__ADS_1
Seta maju menyerang Arga dengan Pedang Pencabut Nyawa, sedangkan Arga menyambut serangan itu dengan Pedang Tujuh Naga.
Benturan terjadi antara kedua pusaka itu, menciptakan gelombang kejut dan suara-suara keras, "Tring... Trang... Trung..."
*****
Sementara itu, Nilawati masuk menyelinap ke dalam gubuk saat benturan pertama antara Arga dan Seta terjadi.
Dia melihat ke arah tumpukan karung yang ada di dalam gubuk itu, "Nampaknya itu adalah barang yang diambil Pendekar bernama Seta itu dari warga." Nilawati membatin.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang sedang terbaring di ranjang. Gadis itu adalah gadis yang dibawa oleh Seta sebelumnya.
Nilawati mendekati gadis malang itu. Matanya tertutup dan tidak bergerak sedikitpun, hanya suara tarikan nafas yang dari waktu ke waktu berhembus. Ternyata Seta menotok peredaran darahnya dan membuatnya pingsan.
Nilawati langsung membuka totokan itu, seketika gadis itu terbangun dan dapat menggerakkan tubuhnya walaupun masih terasa sakit dimana-mana.
Gadis itu memegangi lehernya dan mengarahkannya ke kiri dan ke kanan secara bergantian.
Lalu dia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Nilawati.
"Si... Siapakah kau Nisanak?" Tanyanya dengan takut, dia langsung memundurkan tubuhnya yang masih duduk di atas ranjang itu.
Nilawati menanggapinya dengan senyuman, kemudian dia berkata, "Jangan takut Nisanak, aku akan menolongmu."
"Te... Terima kasih Nisanak..." Balas gadis itu.
"Siapakah namamu? Perkenalkan namaku Nilawati, kau bisa memanggilku Nila." Nilawati duduk di dekat gadis malang itu.
"Namaku Gendis, Nila. Terima kasih kau telah menolongku. Tapi..." Gendis berterima kasih kepada Nilawati, tapi dia langsung ketakutan dan panik, "Bagaimana dengan Pendekar yang membawaku tadi." Gendis melirik-lirik ke arah sekitarnya.
"Kau tenang saja, dia sedang berhadapan dengan temanku diluar." Jawab Nilawati. Gendis baru tersadar ternyata ada suara benturan-benturan senjata yang terdengar dari luar.
Nilawati dan Gendis berjalan keluar dan menyaksikan pertarungan antara Arga dan Seta.
__ADS_1
"Tring... Trang... Trung..." Suara benturan kedua pedang dari Arga dan Seta.