Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Istirahat


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, matahari pun hampir hilang dari pandangan. Semua mata memandang ke arah satu orang yang sedang berdiri di tengah-tengah arena Turnamen. Lodaya, ketua perguruan Bambu Kuning itu sedang mengumumkan aturan babak kedua.


Aturan babak kedua sama dengan babak sebelumnya, tetapi kali ini peserta tidak berhadapan ditentukan dengan mengguncang nama melainkan peserta bebas memilih lawan tandingnya.


Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya Lodaya menutup Turnamen hari itu dan akan dilanjutkan keesokan harinya.


Para penonton yang terdiri dari warga sekitar perguruan Bambu Kuning, pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan penonton yang berasal dari pendekar-pendekar mencari penginapan bahkan ada yang tidur di sekitar arena itu karena tidak mendapatkan penginapan lagi. Untuk para pendekar dari perguruan dan ketua-ketuanya menginap di perguruan Bambu Kuning.


Arga dan Nilawati sendiri kembali ke tempat yang telah disediakan untuk mereka sebelumnya. Keduanya memulai istirahat hari itu dengan membersihkan diri karena pakaian dan tubuh mereka sudah kotor dan bau keringat.


Arga mandi sebentar, dia memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum Nilawati. Karena jika gadis itu sudah mandi, butuh waktu berjam-jam baru selesai. Arga sendiri kadang bingung kenapa Nilawati mandi selama itu, tetapi dia hanya bisa tersenyum canggung dan tidak membahas lebih lanjut.


Ya begitulah wanita, bila sudah berhubungan dengan penampilan maka akan berusaha semaksimal mungkin. Apalagi bila ingin bertemu dengan kekasihnya, maka mereka akan berdandan dengan sangat sempurna.


Setelah Arga selesai mandi, dia kemudian duduk untuk menunggu makanan yang biasa diberikan oleh perguruan Bambu Kuning. Sedangkan Nilawati baru bergegas mandi dan benar saja setelah kurang lebih dua jam baru gadis itu selesai.


Arga sendiri sudah lama menunggu, dia sudah duduk di depan hidangan yang sebelumnya sudah dihantarkan oleh para pelayan dari perguruan Bambu Kuning.


"Kau sudah selesai mandi, Nilawati. Mari kita mulai mengisi perut malam ini. Kau pasti kecapekan setelah bertanding cukup lama hari ini." Arga mengangkat tangannya dan menggerakkan jarinya yang mengisyaratkan memanggil Nilawati ke dekatnya sambil tersenyum lebar.


"Maaf membuatmu menunggu lama. Seharusnya kau makan duluan saja tadi, aku tahu kau juga sudah sangat lapar." Balas Nilawati dengan tersenyum canggung sambil berjalan ke arah Arga.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa makan, bila kekasihku belum makan. Kau tahu sendiri, aku akan makan setelah kau yang mengambilkan makanan untukku." Arga kembali menatap Nilawati dengan tersenyum penuh arti.


"Aku mengerti! Maafkan aku! Jangan pernah berubah, karena sikapmu inilah yang membuatku selalu ingin bersamamu dan takut kehilanganmu." Nilawati sekarang duduk bersimpuh di dekat Arga. Dia mulai mengambil piring yang terbuat dari bambu dan sendok, kemudian mulai mengambil satu persatu makanan dimulai dengan mengambil nasi, daging dan sayurannya serta mentimun dan daun kemangi sebagai lalapannya. Tidak lupa juga Nilawati menuangkan secangkir air minum ke dalam cangkir yang terbuat dari bambu itu. Setelah selesai menyajikan makanan untuk Arga, baru dia menyajikan makanan untuknya.


Keduanya makan dengan lahap, makanan yang masuk ke dalam perut mereka terasa begitu enak dan nikmat. Memang benar, makanan apa saja yang dimakan saat perut lapar akan terasa nikmat sekalipun makanan itu sealakadarnya. Begitupun sebaliknya, seenak-enaknya makanan yang dihidangkan jika perut tidak lapar atau tidak sedang ingin makan, maka akan terasa tidak enak.


Keduanya menikmati satu persatu suapan yang masuk ke dalam mulut sambil diam. Memang Arga selalu makan mengatakan kepada Nilawati, kalau sedang makan tidak boleh bersuara, agar tidak tersendak ataupun ada makanan yang keluar dari mulut.


Arga sendiri diajarkan hal itu oleh kedua orangtuanya dan sampai akhir hayatnya akan selalu dia terapkan di kehidupannya.


Setelah selesai makan, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Arga sudah mengambil satu tempat untuknya tidur. Dia sudah membuat posisinya berbaring di atas lantai yang dilapisi tikar itu. Sedangkan Nilawati diberikan sebuah ranjang yang ada di ruangan itu.


Tetapi suasana yang dingin mulai memasuki tubuh keduanya. Nilawati sendiri tidak bisa tidur dan Arga pun sebaliknya.


Arga dan Nilawati sekarang sudah duduk berdekatan di atas sebuah tikar yang Arga gunakan sebelumnya untuk membaringkan tubuhnya.


Keduanya mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing sebelum bertemu. Memang Arga dan Nilawati sudah lama bersama, tetapi untuk menikmati hal seperti ini sangat jarang mereka rasakan. Hal itu dikarenakan setiap hari mereka akan berjalan, kadang malam pun tidak tertidur. Bila ada kesempatan untuk beristirahat, Arga biasanya tidak mengajak Nilawati untuk mengobrol, melainkan Arga selalu berlatih ilmu silat.


Jadi suasana yang seperti ini sangat-sangat Nilawati nantikan.


Keduanya mengobrol dari waktu ke waktu, sampai akhirnya Nilawati berkata kepada Arga, "Arga aku ngantuk, aku tidur dulu ya. Kau juga jangan lupa tidur karena babak selanjutnya akan lebih sulit daripada sebelumnya." Nilawati membuka mulutnya menunjukkan bahwa dia sedang menguap. Matanya pun sudah setengah terpejam. Dia kembali ke ranjangnya untuk tidur.

__ADS_1


Sementara itu Arga langsung membaringkan tubuhnya, sebenarnya dia sudah mengantuk dari tadi, tetapi demi menemani Nilawati, Arga rela untuk menyembunyikan kelelahannya itu.


Keduanya tertidur dengan pulas sampai akhirnya ayam berkokok dengan keras menandakan hari sudah pagi.


Arga yang pertama bangun dari tidurnya langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke tempat Turnamen.


Setelah beberapa saat, Arga selesai mandi dan mendapati Nilawati sedang duduk di atas ranjang dengan mata masih setengah tertutup.


"Selamat pagi Nila, ayo bangun dan segera mandi." Arga menyapa Nilawati dan menyuruh gadis itu untuk membersihkan dirinya agar lebih segar saat bertarung nantinya.


Nilawati mengangguk, dia membuka matanya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi.


"Jangan lama-lama mandinya." Suara Arga memasuki telinga Nilawati, dia menjawab perintah Arga itu dengan anggukan.


Setelah beberapa saat, akhirnya Nilawati selesai mandi. Arga kemudian mengajak gadis itu untuk mencari makan terlebih dahulu.


Memang Perguruan Bambu Kuning memberikan makanan, tetapi itu hanya berlaku untuk malam hari. Untuk pagi dan siang, mereka harus mencari sendiri.


Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya keduanya sampai di sebuah warung. Terlihat banyak orang sudah memenuhi tempat itu. Tersisa hanya beberapa meja untuk orang baru baru datang.


Arga langsung mengajak Nilawati untuk duduk di salah satu meja yang masih tersedia. Keduanya mulai memesan makanan untuk mengisi perut pagi hari itu.

__ADS_1


Setelah selesai, akhirnya Arga dan Nilawati keluar dari warung itu dan bergegas ke pergi ke arena pertarungan Turnamen Pemuda Putih. Tidak lama untuk keduanya sampai, karena mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh.


__ADS_2