
Berita tentang pemberontakan yang dilakukan pangeran Andiko dengan cepat menyebar pada hari pertama pemberontakan itu juga, bahkan sampai ke telinga ketua-ketua perguruan aliran putih yang ada di wilayah kerajaan Kalingga.
Di kerajaan Kalingga sendiri terdapat 3 perguruan besar, 4 perguruan menengah dan 5 perguruan kecil aliran putih.
Saat mereka mendengar berita pemberontakan itu, semua perguruan aliran putih mengirim bantuan kepada kerajaan.
Tiga perguruan besar antara lain adalah perguruan Tapak Suci, perguruan Elang Hitam dan perguruan Kuda Putih.
Sedangkan perguruan menengah antara lain, perguruan Belibis Putih, Perguruan Teratai, Perguruan Mawar Merah dan perguruan Bukit Telaga.
Dan perguruan kecil antara lain, perguruan Tapak Tilas, perguruan Bambu Kuning, perguruan Macan Putih, perguruan Tiga Pedang dan perguruan Kalajengking Merah.
Ketua-ketua perguruan aliran putih mengadakan pertemuan singkat dan cepat untuk membahas pengiriman bantuan kepada pihak kerajaan.
"Saudara-saudaraku, hari ini kita berkumpul untuk membahas pengiriman bantuan kepada kerajaan melawan para pemberontak. Kita harus membantu kerajaan bertahan, kalau kita tidak mengirim bantuan, jika kerajaan menang maka kita akan di tendang dari wilayah ini. Dan yang lebih buruk lagi jika pihak kerajaan kalah, maka selain di usir kita akan di serang." Ucap pria sepuh yang memimpin pertemuan itu.
Semua orang setuju, mereka akan mengirim bantuan kepada pihak kerajaan. Mereka tentunya tidak ingin kerajaan Kalingga jatuh kepada orang-orang aliran hitam. Mereka juga berpikir ini adalah ajang untuk murid-murid mereka mencatatkan namanya atau mendapatkan gelar di dunia persilatan.
Hasilnya, mereka akan mengirim sekitar 5000 murid gabungan dari 12 perguruan itu. Dan masing-masing mengirim 2 pendekar tingkat tinggi.
***
Pertempuran terus berlanjut, baik antara prajurit dan murid aliran hitam maupun pendekar-pendekar tingkat tinggi.
Dua Tumenggung dari kerajaan yaitu Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara sudah tergeletak di tanah tak bernyawa. Sedangkan di pihak pemberontak terlihat Katiwanda sudah menempel di atas pohon dengan golok menancap di dadanya.
Di sisi lain raja Kertikeyasinga dan Patih Angga masih berhadapan dengan Parwati. Ketiganya bertarung secara sengit dan cukup berimbang.
Tetapi karena Parwati bertarung menggunakan racun, akhirnya raja Kertikeyasinga terkena serangan racun itu. Tidak ada lagi obat penawar racun yang tersisa dan pada akhirnya raja Kertikeyasinga berhasil terbaring di tanah.
Semua orang yang melihat raja Kertikeyasinga terbaring menjadi murka terutama pangeran Jatmiko.
"Ayahanda..." Pangeran Jatmiko berteriak kencang melihat raja Kertikeyasinga yang tergeletak di tanah. Dia dan Jagad meninggalkan pertarungannya melawan pangeran Andiko dan Kelabang Hitam.
"Yang Mulia." Teriak Patih Angga yang masih berhadapan dengan Parwati. Dia terus menyerang Parwati dan menghindari tapak Parwati yang mengandung racun.
__ADS_1
Setelah sampai disana, pangeran Jatmiko hendak memegang tubuh raja Kertikeyasinga tetapi dilarang oleh Jagad.
"Tunggu pangeran! Jangan sentuh tubuh yang mulia, racun itu bisa menular." Teriak Jagad menghentikan langkah pangeran Jatmiko.
Pangeran Jatmiko melihat ke belakang dan bertanya, "Jagad, apakah kau bisa membantu ayahanda raja?" Ucap pangeran Jatmiko dengan mata yang memerah dan memelas.
Jagad tidak menjawab, dia melihat ke arah raja Kertikeyasinga yang tubuhnya sudah berubah warna menjadi hijau.
"Racun Kelabang Hijau." Batin Jagad sambil mengerutkan dahinya.
Setelah Jagad mengamati keadaan raja Kertikeyasinga, dia menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang memberi tanda bahwa raja Kertikeyasinga tidak bisa tertolong.
"Tidak...tidak mungkin! Tidak mungkin!
Ayahanda...ayahanda belum mati.
Tidakkkkk." Pangeran Jatmiko berteriak sekeras-kerasnya.
"Kalian...kalian akan dikubur bersama Ayahanda." Ucap pangeran Jatmiko sambil menunjuk ke arah musuh-musuhnya, terutama pangeran Andiko.
Di sisi lain, di dalam istana, permaisuri dan selir-selir raja Kertikeyasinga sudah mendengar kematian suami mereka.
Sesuai dengan adat dan tradisi, bila suami mereka mati dalam perang maka mereka juga akan ikut bunuh diri untuk menemaninya.
Permaisuri dan selir-selir raja Kertikeyasinga mengangkat pisau di tangan mereka masing-masing dan menusukkan ke perut mereka. Akhirnya kelima wanita itu mati bersama.
Selang beberapa jam, akhirnya bantuan dari perguruan aliran putih tiba.
"Kacau...ini sungguh kacau diluar perkiraan ku." Ucap salah seorang pria sepuh yang menjadi pemimpin dari pihak bantuan saat melihat mayat-mayat dan pertarungan dimana-mana.
"Semuanya dengarkan aku, serang para pemberontak dan bantu pihak kerajaan." Sambung pria sepuh itu.
Akhirnya pihak bantuan menyerang pihak pemberontak, murid-murid dari aliran putih bekerja sama membantu prajurit kerajaan.
Sedangkan pendekar-pendekar dari aliansi perguruan aliran putih membantu menyerang pendekar dari aliran hitam.
__ADS_1
Tumenggung Bahurekso dan Tumenggung Jenggala yang bekerja sama berhasil membunuh Mahesa Semar. Keduanya kemudian menyerang Suryawi dan Saksono dengan bantuan pendekar dari pihak aliansi perguruan aliran putih.
Pangeran Jatmiko dan Jagad juga berhasil membunuh pangeran Andiko dan Kelabang Hitam dengan bantuan pendekar dari pihak aliansi perguruan aliran putih.
Ayu, Nilawati dan Bedul juga berhasil menaklukkan musuh-musuh mereka dibantu pendekar aliansi aliran putih.
Ayu menyuruh Nilawati dan Bedul untuk membantu prajurit melawan murid-murid perguruan aliran hitam.
Sedangkan dia membantu Patih Angga melawan Parwati.
Pertarungan tak berlangsung lama, Ayu dan Patih Angga berhasil memukul mundur Parwati, tetapi tidak bisa membunuhnya.
Parwati berhasil kabur untuk menyelamatkan dirinya setelah mengeluarkan bubuk racun untuk membuat serangan Patih Angga dan Ayu menjadi terhambat.
Beruntung bubuk racun itu tidak terlalu berbahaya, Patih Angga dan Ayu meminta bantuan Jagad untuk menyembuhkannya.
Di sisi lain Arga sedang bertarung sengit melawan Topeng Setan. Tidak ada yang mengganggu pertarungan mereka, karena Arga melarang siapapun membantunya.
Arga menyerang Topeng Setan dengan gesit dan lincah, dia mengeluarkan jurus-jurus dari Pedang Tujuh Naga.
Sebenarnya Arga sudah beberapa kali berhasil memotong kepala Topeng Setan tetapi selalu saja Topeng Setan menggunakan ilmu Rawa Beningnya.
Tetapi pada akhirnya Arga berhasil membuat Topeng Setan tersangkut di atas sebuah pohon setelah dia mengeluarkan jurus Pedang Tujuh Naga yang bisa menjadi tujuh.
Sebelum darah maupun Topeng Setan jatuh ke tanah, Arga mengeluarkan jurus pukulan penghancur langit.
Akhirnya tubuh Topeng Setan hancur tiada sisa, dan pertempuran pun selesai.
Arga menghela nafasnya, akhirnya dia bisa membalaskan kematian kedua orangtuanya.
Tetapi perjalanannya tidak sampai disini saja, dia berjanji akan menghapus kejahatan dari muka bumi ini selamanya.
Arga melihat pertempuran antara yang lainnya, kekacauan dimana-mana. Mayat-mayat pun bergeletakan baik dari pihak kerajaan maupun pihak aliansi perguruan aliran hitam yang membantu pangeran Andiko.
Dia mengerutkan dahinya melihat pangeran Jatmiko menyerang lawan dengan membabi buta, tetapi dia juga memakluminya karena bagaimanapun juga kehilangan orang tua adalah hal yang sangat menyedihkan dan menakutkan.
__ADS_1