Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
3 Setan dari Gua Sangkar Musnah


__ADS_3

Di Kerajaan Kalingga, Kediaman Ayu dan Jagad.


Ayu sedang duduk memperhatikan Jagad Kelana membuat obat-obatan. Dia menahan dagunya dengan tangan, matanya ke arah Jagad tapi pikirannya berada di tempat yang berbeda. Tatapannya kosong dan terlihat jelas kesedihan di wajahnya.


Jagad yang melihat hal itu menghentikan kegiatannya. Dia berdiri dan berjalan mendekati Ayu.


"Kau merindukan Arga lagi, Dinda." Jagad duduk disamping Ayu yang masih murung.


Ayu tidak menjawab, dia hanya mengangguk kemudian langsung memeluk Jagad. Jagad juga membalas pelukan itu dengan erat lalu berkata, "Jangan terlalu kau pikirkan, kesehatanmu saat ini sangat penting untuk calon bayi kita. Nanti kalau bayi kita lahir, Arga pasti akan menemui kita dan keponakannya." Jagad berusaha mengibur Ayu yang masih sedih, dia mencium kening istrinya itu dengan lembut.


"Semoga saja begitu." Ayu mengangguk dan melepaskan pelukannya.


Jagad berdiri kembali untuk membuat obat-obatan, setelah dia berhasil menghibur Ayu. Tetapi sebelum dia duduk, tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu dan memanggil dia dan Ayu.


Bedul sedang berada di kediamannya, dia sekarang sudah menjadi Tumenggung kerajaan Kalingga.


"Hem... Aku ingin berkunjung ke Kediaman Jagad dan Ayu." Batin Bedul, dia berdiri dan beranjak pergi menjenguk Jagad dan Ayu.


"Tok... tok... tok..." Bedul mengetuk pintu rumah Jagad dan Ayu, "Jagad! Ayu!" Sambungnya.


"Iya... iya sebentar Dul." Jagad berjalan ke arah pintu dan membukanya, "Ada apa Dul?" Sambung Jagad sambil terlihat kebingungan dengan kedatangan temannya itu.


"Ah... aku ingin mencari teman berbincang. Ku rasa kau dan Ayu bisa menemaniku, hehehe." Bedul menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan botak itu.


"Ah kau Dul, sudah menjadi Tumenggung masih saja kelakuanmu seperti itu." Jagad tertawa meledek temannya itu.


"Ya kan ini kalau bersama kalian saja." Bedul menjawab dan terkekeh.


"Ya sudah, ayo masuk. Atau kau mau berdiri disana semalaman!?".

__ADS_1


Akhirnya Jagad mengajak Bedul ke dalam rumahnya. Ayu sudah menunggu keduanya dan sudah menyiapkan minuman.


"Silahkan di minum Tuan Tumenggung." Ayu menunjuk minuman yang telah dia hidangkan sambil tertawa-tawa kecil.


"Ah kau mengejekku, Yu." Bedul menyadari temannya itu sedang mempermainkannya. Akhirnya ketiganya mengobrol bersama-sama sampai larut malam.


*****


Di sisi lain, Arga masih berhadapan dengan Logender dan Sengkuni. Dia berhasil membuat kedua orang itu terpojok.


Arga tidak membiarkan mereka, dia kembali maju dan menyerang keduanya dengan cepat dan lincah. Kali ini dia sudah mencabut pedangnya dari punggungnya, karena dia tidak ingin bermain-main lebih lama.


Sedangkan Nilawati sudah berhasil mendaratkan beberapa pukulan kepada Lasmini. Sebaliknya Lasmini juga berhasil mendaratkan selendangnya kepada tubuh Nilawati. Darah pun sudah mengalir di beberapa bagian tubuh mereka. Tapak demi tapak, pukulan demi pukulan terjadi antara keduanya.


"Bukkk..." Nilawati berhasil mendaratkan satu pukulan lagi kepada Lasmini ke arah dadanya yang membuatnya terpental mundur dan mengucurkan darah segar dari mulutnya.


Setelah Arga menggunakan pedangnya, Benturan demi benturan keras terjadi antara pedang Arga dengan golok Logender dan Sengkuni. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena perbedaan kualitas senjata yang dimiliki Arga berbeda jauh dengan milik Logender dan Sengkuni.


"Krakkkk..." Golok Logender dan Sengkuni patah menjadi dua. Hal itu membuat keduanya mengerutkan dahi dan mundur ke belakang untuk mengatur nafas mereka kembali.


"Kakang, bagaimana ini? Selain ilmu kanuragannya yang tinggi ternyata senjatanya juga tidak bisa diremehkan." Sengkuni berbicara kepada Logender sambil tetap memokuskan tatapannya kepada Arga.


"Aku juga tidak tau, Adik." Logender menjawab pertanyaan adiknya itu.


Disaat mereka berdua sedang berbincang dan mencari cara agar bisa mengalahkan Arga, Arga kembali maju menyerang mereka. Keduanya menghindari serangan-serangan Arga yang lincah dan gesit itu. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena mereka sudah tidak memiliki senjata lagi untuk menangkis dan menghindari seluruhnya.


"Akhhhh..." Logender dan Sengkuni berteriak secara bersamaan." Akhirnya Arga berhasil membuat Logender terluka cukup dalam di bagian dadanya sedangkan Sengkuni terluka di bagian perutnya. Darah mengalir dengan cepat dari sekujur tubuh mereka. Tidak lama kemudian Logender dan Sengkuni menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kakang!!! Tidak!!!". Lasmini melihat kedua kakaknya sudah terbunuh tidak bisa berkonsentrasi lagi. Dia kemudian menyerang Nilawati tidak teratur.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Nilawati berhasil membuat Lasmini terbaring lemas di atas tanah.


Saat Nilawati ingin mendaratkan serangan terakhirnya, tiba-tiba Arga mendarat didekatnya dan menghentikannya.


"Tahan Nila, jangan bunuh dia!" Arga melirik ke arah Nilawati dan Lasmini secara bergantian.


"Hem, kenapa kau menghentikanku? Apakah kau tertarik padanya?" Nilawati mengangkat alisnya dan wajahnya emosi karena Arga menghentikannya.


"Hem, bukan itu maksudku." Arga menggaruk kepalanya, dia sadar tindakannya itu membuat Nilawati marah kepadanya. Tapi saat dia hendak berbicara lagi, keduanya melihat Lasmini berdiri dan berlari ke arah Logender dan Sengkuni yang sudah terbunuh.


"Kang Loge, Kang Uni, bangun!!! Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku ingin ikut bersama kalian." Lasmini menggoyang-goyangkan tubuh Logender dan Sengkuni, air mata sudah mengalir membasahi pipinya.


Lasmini berdiri kembali dan menatap ke arah Arga dan Nilawati sebelum berkata, "Bunuh aku! Aku tidak ingin hidup lagi." Lasmini berlari ke arah Arga dan Nilawati. Sebenarnya dia ingin bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tetapi dia berpikir kembali dan lebih memilih terbunuh secara pendekar.


"Bunuh aku! Aku tidak akan melawan. Bunuh aku Kisanak." Lasmini memukul-mukul tubuh Arga. Air matanya terus mengalir di pipinya, dia berteriak histeris.


Arga dan Nilawati yang menyaksikan semua itu menjadi kasihan kepada Lasmini. Mereka menduga bahwa Lasmini terpaksa melakukan semua itu.


"Nisanak, aku melihat kau sepertinya terpaksa dan tidak punya pilihan lain lagi selain menjadi seperti ini. Jika kau mau merubah jalan hidupmu menjadi lebih baik, aku bisa memberikanmu kehidupan yang layak dan membantumu." Arga memegang pundak Lasmini.


Arga melirik ke arah Nilawati, Nilawati mengangguk, dia juga menjadi kasihan kepada Lasmini.


"Untuk apa aku hidup, aku tidak punya siapa-siapa lagi." Lasmini terduduk di hadapan Arga dan Nilawati sambil terus menangis.


"Nisanak, siapa namamu?" Nilawati mengangkat Lasmini dan membantunya berdiri. "Kami bisa membantumu asal kau berjanji akan merubah hidupmu dan mau menceritakan semua tentangmu. Kau juga bisa mendapatkan keluarga baru." Nilawati jadi tersentuh dan sedikit bersalah. Sebagai wanita dia kasihan kepada Lasmini. Dan sebagai sesama manusia, Lasmini harus diberikan kesempatan kedua untuk memulai hidup baru dan menjadi lebih baik.


"Aku..." Lasmini menjadi lebih tenang dan tersentuh oleh perkataan Arga dan Nilawati. Memang dia adalah perampok dan pemeras, tetapi dia juga adalah seorang wanita yang memiliki perasaan lembut.


"Tidak apa-apa, ceritakan saja. Kami akan mendengarkannya." Arga tersenyum kepada Lasmini dengan lembut. Karena dia kasihan dan iba kepada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2