
"Memang kebanyakan para pendekar yang mati karena tidak mengetahui batas kemampuan mereka sendiri dan musuhnya." Arga menatap dingin ke arah kedua pria bertubuh besar itu sebelum menaikkan alisnya yang membuat tubuh kedua Pendekar itu bergetar hebat.
Lalu Arga menyambung kata-katanya, "Aku tidak mengganti pakaianku karena tidak sempat, setelah membinasakan pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya." Arga berkata seolah-olah biasa-biasa saja.
Tetapi di sisi lain, kedua Pendekar bertubuh besar itu langsung bersujud kepada Arga, bukan hanya mereka tetapi semua orang yang ada disana memilih untuk pergi dari warung makan itu karena mereka tidak ingin ikut campur.
"Maafkan atas kelancangan kami Pendekar." Pria bertubuh kekar mulai meminta maaf kepada Arga setelah Arga mengeluarkan aura bertarungnya.
"Ampuni kami Pendekar, sebelumnya kami tidak mengetahui kebesaran nama Pendekar." Pria bertubuh besar satunya juga mulai menjilat Arga dan berharap pemuda itu tidak mengambil hati atas sikap keduanya sebelumnya.
Keduanya bersikap demikian bukanlah tidak ada alasan, keduanya cukup pintar dan sudah hidup puluhan tahun, jadi keduanya mengerti dengan apa yang Arga katakan sebelumnya.
Mengatakan membinasakan pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya, hanya ada satu yang melakukannya yaitu Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga.
Memang sehari setelah gagalnya penyerangan Kerajaan Jenggala dan sekutunya terhadap kerajaan Kalingga, berita itu langsung menyebar ke seluruh tanah Jawa. Tidak terkecuali ke telinga kedua Pendekar paruh baya itu.
"Setelah kalian mengetahui identitas ku, barulah kalian berpikir untuk meminta maaf." Arga kembali menatap dingin kedua Pendekar paruh baya yang sedang bersujud kepadanya itu.
"Jika aku hanya manusia biasa atau lebih lemah daripada kalian, tentunya kalian tidak akan melepaskanku bukan?" Arga memukul meja dihadapannya, seketika itu juga meja itu terbelah menjadi dua.
Pemilik warung yang ingin menghidangkan makanan kepadanya sudah lama meninggalkan tempat itu dan kembali ke dapur setelah Arga memberi isyarat kepadanya.
"Bu... Bukan begitu Pendekar." Pendekar bertubuh kekar mencoba mencari alasan, "Kami... Kami hanya berpura-pura." Hanya itu yang bisa dia jadikan alasan.
Tentu saja Arga tidak mempercayainya, dia bukanlah anak ingusan yang bisa dibodoh-bodohi dan dibohongi. Arga begitu cerdas, di generasinya mungkin dia yang tercerdas bahkan di generasi-generasi sebelumnya.
"Sudahlah, aku tidak berniat membunuh orang kali ini. Kalian pergi dari sini secepatnya dan jangan pernah memperlihatkan wajah kalian di hadapanku lagi.
Dalam hitungan ketiga, jika kalian tidak keluar dari warung ini, jangan salahkan aku jika kalian keluar hanya tinggal nama dan jasad saja." Arga berkata dingin.
__ADS_1
Keduanya Pendekar bertubuh besar itu langsung ingin membalikkan badannya, tetapi belum sempat keduanya membalikkan badan, tiba-tiba Arga berteriak kencang, "Tiga!"
Mendengar teriakkan Arga itu, kedua Pendekar bertubuh besar itu langsung tunggang langgang berlari, mereka tidak perduli lagi satu sama lain. Yang mereka pedulikan saat ini adalah nyawa mereka yang hanya ada satu.
Keduanya berpikir Arga akan membunuh mereka, tetapi sampai keduanya keluar dari warung, Arga tidak mengejar mereka. Keduanya hanya bersyukur Arga tidak membunuh mereka dan mengumpat dalam hati karena teriakan Arga berhasil hampir membuat jantung mereka copot.
Tanpa keduanya sadari, Arga yang berada di dalam warung makan itu sedang tertawa terbahak-bahak melihat keduanya berlari tunggang langgang, sampai-sampai menabrak meja dan pintu yang ada di warung itu.
Setelah semuanya selesai, Arga memanggil pemilik warung makan dan meminta pesanannya untuk segera dihidangkan kembali.
Pemilik warung itu tidak menolak, tetapi juga ada ketakutan yang amat dahsyat dari wajahnya, tubuhnya pun bergetar hebat karena takut kepada Arga.
Arga tentu saja menyadari hal itu, dia tersenyum tipis dan berkata, "Tidak usah takut Ki, aku bukanlah orang yang jahat."
"Maaf... Maafkan aku Tuan Pendekar." Pemilik warung yang bernama Ki Matra itu sebelumnya sudah besikap sopan dan hormat kepada Arga, setelah melihat kemampuan Arga dia berkali-kali lipat hormat kepada pemuda itu.
Selesai makan, dia kemudian meminum arak yang sebelumnya dia pesan juga. Disaat itu juga Arga kembali memanggil pemilik warung.
"Ki Matra." Panggil Arga dengan nada yang sopan.
Mendengar namanya dipanggil, Ki Matra segera bergegas mendekati Arga, khawatir pemuda itu akan marah jika menunggu lama.
"Ada apa Tuan Pendekar?" Ki Matra menundukkan kepalanya.
Arga menjadi salah tingkah dan serba salah melihat Ki Matra yang bersikap seperti itu kepadanya, tetapi dia memilih mendiamkannya dan lebih fokus kepada uang yang harus dibayarnya.
"Berapa yang harus saya keluarkan untuk membayar makanan dan meja yang sebelumnya saya hancurkan." Arga tersenyum tipis kepada Ki Matra.
"Tuan Pendekar cukup membayar makanan Tuan saja, untuk meja yang hancur tidak usah dibayar." Tentu saja Ki Matra bukan bersikap terlalu baik, hal itu karena dia masih mengingat kekuatan yang diperlihatkan Arga sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak... Tidak... Jangan begitu, aku akan mengganti rugi akan hal itu." Mengeluarkan 10 keping emas dan memberikannya kepada Ki Matra.
"Pendekar ini..." Ki Matra tidak tahu harus berkata apa, makanan yang dipesan Arga sebelumnya hanya bernilai 10 koin perunggu. Dan jikapun Arga mengganti rugi meja yang dihancurkannya, hal itu tidak lebih dari 50 koin perunggu.
Ki Matra berniat mengembalikannya kepada Arga, tetapi belum sempat dia mengangkat suaranya, Arga sudah lebih dulu bersuara, "Anggap saja itu untuk membayar makanan pengunjung yang sebelumnya pergi tanpa membayar."
Memang benar, pengunjung yang makan di warung itu langsung pergi begitu saja setelah mendengar Arga adalah Pendekar tingkat tinggi, mereka jelas-jelas tidak ingin ikut campur ataupun terlibat dalam masalah.
Sementara Arga tersenyum lebar, Ki Matra di sisi lain tetap ingin mengembalikan uang yang diberikan Arga, "Tuan Pendekar, walaupun demikian tetap saja uang ini terlalu banyak."
"Kalau begitu anggap saja itu bayaran untuk informasi." Arga kemudian teringat bahwa dia ingin mencari informasi mengenai lokasi dia berada saat ini.
Ki Matra sedikit kebingungan sebelum berkata, "Informasi apa yang pendekar inginkan?" Dia bertanya dengan sopan.
"Pertama, dimanakah kita sekarang ini?"
"Pendekar belum pernah kesini?" Arga hanya bisa tersenyum kecut menggapai hal itu dan menggelengkan kepalanya.
Ki Matra langsung menjelaskan bahwa sekarang ini Arga berada di daerah kerajaan Kawah Putih. Sebuah kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Kalingga.
"Ki Matra tahu jalan menuju ke pulau seberang?" Arga tidak menutupi tujuannya.
"Aku mengetahuinya sedikit Tuan Pendekar. Tuan Pendekar harus berjalan ke arah Timur sekitar dua Minggu. Tuan Pendekar akan memasuki kerajaan bernama kerajaan Samudra, di daerah sanalah ada sebuah lautan yang membatasi pulau ini dengan pulau seberang." Ki Matra menjelaskan karena sebelumnya dia pernah sekali kesana saat mengunjungi kerabatnya.
Arga mengangguk pelan dan setelah itu dia memutuskan untuk segera pergi, lebih cepat lebih baik untuk kondisi Nilawati, begitu pikirnya.
Arga pamit dan memberi hormat kepada Ki Matra sebelum dia bergegas meninggalkan warung makan itu dan terbang dengan kecepatan tinggi setelah berad diluar warung.
Ki Matra hanya bisa menatap Arga yang perlahan-lahan mulai menjauh, dia menghela nafasnya dan bergumam pelan, "Pemuda yang baik. Semoga umurnya panjang!" Ki Matra mendoakan Arga seperti itu karena tidak banyak manusia di dunia ini yang memiliki hati seperti Arga.
__ADS_1