
Ketiga pemeras itu pergi meninggalkan Arga, mereka berdecak kesal karena Arga ikut campur urusan mereka. Mereka berkata dalam hati akan mengadukannya kepada Werku Alit.
Ayu, Nilawati, Jagad dan Bedul mendekati Arga, setelah dia berhasil mengusir pemeras-pemeras itu.
"Kakang, kenapa tidak kau bunuh saja mereka. Bagaimana jika mereka datang kembali dan membawa lebih banyak orang lagi." Ayu mempertanyakan keputusan yang diambil oleh Arga dengan membiarkan pemeras itu pergi.
"Ayu, tidak semua orang yang bersalah harus kita hukum dan bunuh secara langsung, mereka juga berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan kedua." Balas Arga menjawab pertanyaan dari Ayu.
"Yang dilakukan oleh Arga sudah benar Ayu, dan kalaupun mereka kembali lagi kita akan memberi mereka pelajaran lagi." Jagad ikut berkomentar.
"Weleh...weleh sudah toh ngobrolnya, aku sudah lapar ini, mau makan. Ayo kita singgah ke warung makan terlebih dahulu." Bedul berkata sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.
"Plakkk." Nilawati memukul kepala Bedul.
"Makan saja yang ada dipikiranmu Dul."
"Sudah...sudah, kebetulan aku juga sudah lapar nih, mari kita makan." Ucap Arga menengahi pertengkaran antara Nilawati dan Bedul.
"Tapi sebelum itu ada yang mau kutanyakan dulu kepada pedagang disini." Sambung Arga sambil melirik kepada pedagang daging yang baru saja ditolongnya.
Kelimanya mendekati pedagang daging itu dan Arga mulai bertanya kepadanya.
"Ki, kenapa pihak Kotaraja tidak ada yang mengirim orang untuk memberantas para pemeras itu?".
"Maaf Raden, saya sendiri kurang tahu. Tapi yang kami dengar bahwa di dalam istana sedang terjadi konflik internal antara raja dan putra mahkota."
"Konflik apakah yang itu Ki?" Jagad ikut bertanya karena penasaran.
"Kabarnya, pangeran Andiko, putra kedua yang mulia raja sedang mempersiapkan pasukan untuk mengkudeta posisi yang mulia raja dengan menyewa perampok-perampok dan perguruan-perguruan aliran hitam. Pangeran Andiko tidak setuju yang mulai raja ingin mengangkat pangeran Jatmiko yaitu putra mahkota menjadi raja selanjutnya, karena dia yang ingin menjadi raja".
"Sudah lebih dari 2 bulan yang lalu, pangeran Andiko pergi meninggalkan istana dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya." Sambung pedagang daging itu.
Kelima pendekar muda itu mengerutkan dahi, mereka baru mengerti kenapa pihak kerajaan tidak ada yang mengambil guci obat yang biasa di beli dari Dewa Obat.
"Kalau begitu kami akan menginap disini, bisakah kau mengantarkan kami ke warung makan terlebih dahulu yang ada disini Ki" Arga dan yang lainnya memilih untuk beristirahat dulu sebelum mengantarkan guci obat kepada raja Kartikeyasinga.
"Tentu Den, mari ikuti saya."
__ADS_1
Akhirnya pedagang daging itu mengantar Arga dan yang lainnya ke kedai makanan yang ada di pasar itu.
*****
Kediaman Werku Alit
Werku Alit adalah seorang pendekar dengan ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Werku Alit seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan. Werku Alit berwajah garang, berkumis tebal, dan memiliki bekas luka goresan di pipi kanannya dan juga dia menggunakan kapak sebagai senjatanya. Werku Alit merupakan mantan perampok yang ada di sekitar Kotaraja. Dia berhenti merampok setelah anak buahnya tertangkap oleh pihak kerajaan dan hanya menyisakan dia dan 3 orang anak buah setianya. Kemudian dia mengumpulkan orang-orang lagi dan menjadi pemeras seperti sekarang. Werku Alit memanfaatkan konflik yang ada di istana kerajaan untuk menjadi pemeras. Selain itu, Werku Alit bekerja sama dengan pangeran Andiko untuk memata-matai aktivitas di istana kerajaan.
Akhirnya ketiga orang pemeras itu kembali ke tempat Werku Alit. Mereka mengadukan semua kejadian yang mereka terima di pasar.
Werku Alit yang mendengar hal itu langsung menjadi murka dan memukul meja yang ada dihadapannya.
"Kurang ajar, siapa yang berani-beraninya menggagalkan usahaku."
"Segoro, Kuncoro, Karyo, bawa 3 orang ini dan 4 orang lagi untuk memberi pelajaran kepada orang yang menggagalkan usaha kita."
3 orang maju dan mematuhi perintah Werku Alit, ketiganya memiliki wajah yang garang, berkumis tebal serta memegang golok di tangannya.
"Baik tuan."
Akhirnya kesepuluh orang suruhan Werku Alit itu kembali ke pasar dan mencari Arga.
*****
"Terima kasih Ki, ambil ini Ki." Arga memberikan 5 keping emas kepada pedagang daging itu.
"Itu tidak perlu Den, bantuan Raden tadi saja saya tidak bisa membalasnya." Pedagang daging itu menolak pemberian Arga.
"Tidak masalah Ki, ambil ini." Arga memaksa pedagang daging itu untuk mengambil uang pemberiannya. Akhirnya pedagang daging itu mengambil uang yang diberikan Arga dan berterima kasih kepadanya.
Kelimanya masuk ke dalam warung makan itu. Warung makan itu cukup besar dan mungkin yang terbesar yang ada di tempat itu.
Di dalam warung itu ternyata sudah banyak meja yang terisi, tinggal menyisakan 2 meja lagi yang belum terisi.
Kelimanya duduk di satu meja, kebetulan meja di warung itu sangat besar dan cukup menampung 10 orang.
"Paman." Arga memanggil pemilik warung makan itu.
__ADS_1
"Iya kisanak." Pemilik warung bergegas menuju ke arah Arga dan yang lainnya.
"Mau pesan apa Kisanak?" tanya pemilik warung itu dengan nada lembut dan sopan.
"Kami memesan nasi paman, sediakan juga lauknya ikan, sayur, daging dan juga ayam. Minumnya Arak dan juga air putih."
"Baik, tunggu sebentar kami akan menyiapkan semuanya."
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya semua pesanan Arga sudah siap dan disajikan di atas meja. Kelimanya akhirnya menyantap hidangan itu.
Bedul yang pertama kali mengambil hidangan yang disajikan.
"Wah..wah kelihatannya enak nih, dari aromanya saja sudah enak." Bedul berkomentar sambil menciduk nasi dan mengambil lauknya.
"Pelan-pelan Dul, tidak akan ada yang merebutnya darimu kok." Arga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku temannya itu.
Tak lama setelah mereka menyantap makanan, tiba-tiba ada 10 orang memasuki warung makan itu. Dari kesepuluh orang itu terlihat 3 orang yang pernah Arga lihat. Ketiga orang yang pernah Arga lihat itu adalah ketiga pemeras yang ditemuinya di pasar sebelumnya.
Kesepuluh orang itu melihat-lihat disekelilingnya, dan akhirnya melihat Arga yang sedang duduk sambil menikmati makanan yang ada dihadapannya.
"Itu dia orangnya." Salah satu dari pemeras itu menunjuk ke arah Arga.
Kesepuluh orang itu lalu berjalan menuju ke arah Arga dan yang lainnya.
"Hei bocah tengik, kau yang mencampuri urusan kami saat di pasar tadi?" Segoro menodongkan goloknya ke hadapan Arga.
Arga hanya menanggapinya dengan santai dan masih menyantap makanannya.
"Hei bocah laknat, apakah kau tidak mendengar perkataan kami." Karyo menjadi naik pitam dengan sikap Arga.
Arga masih sama seperti sebelumnya, dia dan yang lainnya tidak menggubris apa yang dikatakan oleh pemeras itu.
"Kurang ajar." Kuncoro mengangkat goloknya dan menyerang ke arah Arga.
Arga menerima serangan itu dengan posisi masih duduk di meja tempatnya makan. Dia menangkis golok itu dengan kakinya.
"Kalau kalian mau bertarung, selesaikan dulu aku makan, nanti akan aku ladeni kalian semua." Ucap Arga yang masih santai dengan wajah datar.
__ADS_1
Segoro dan yang lainnya yang mendengar hal itu langsung naik pitam dan menyerang Arga secara bersamaan.