Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Luka Nindiya


__ADS_3

Nindiya menunduk. Ia duduk diatas batu dan meletakkan kedua wadah airnya. Gadis itu menatap kearah sungai yang jernih. Perlahan ia menitikan air matanya, mengingat kejadian suram masa lalunya. Menyakitkan memang, ketika seorang anak yang mengami kejadian yang membuatnya ketakutan.


"Mereka semua dibunuh. Sekarang hanya tinggal aku dan kakek." Nindiya hanya bisa membenamkan wajahnya ke kedua lututnya.


"Maaf saya ...." Hanya itu yang keluar dari mulut wanita tersebut. Gayatri merasa ada titik kesedihan di hati Nindiya. Namun ia tidak bisa berbuat apapun untuknya.


Namun Nindiya hanya diam. Hanya terdengar suara isakannya. Nehan melihat itu semua. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah sungai yang jernih. Dirinya pun sama halnya dengan gadis itu. Namun ia tidak akan selemah itu.


'Entah apa yang telah terjadi pada gadis itu. Semoga saja dia akan baik-baik saja,' ucap Ken di dalam hati.


"Gadis yang malang. Kasihan sekali nasibmu, Nak." Wanita itu tidak tega menanyakan hal lainnya. Hanya bisa turut bersedih di dalam hatinya.


Sementara Nehan meletakan pedang yang digendongnya ke tanah. Ia menuju kearah sungai yang airnya sangat jernih. Meminum air yang menyegarkan lalu tidak lupa untuk membasuh wajahnya.


Tidak ada kata-kata yang dikeluarkan. Karena ia memang tidak banyak bicara. Ikan-ikan di sungai itu sangat melimpah, karena tidak semua orang berani melangkahkan kaki ke tempat tersebut. Sungai yang mengalir dengan tenang dan membuat ikan-ikan di dalamnya bergerak dengan bebas.


Ini berawal dari kejadian Lima belas tahun lalu. Saat seluruh penduduk di desa Banyuasih ini dibantai oleh para pendekar dari aliran hitam. Mereka tidak hanya membunuh, tetapi mereka merampok dan memperkosa wanita yang ada di desa. Meninggalkan luka yang teramat sakit bagi Nindiya.


"Ehh, maaf, aku pergi dulu. Kakekku sedang menunggu aku di rumah." Nindiya beranjak dari tempat duduknya duduknya. Hendak meninggalkan dua orang yang baru datang ke tepi sungai yang jernih itu.


"Nak, apa kamu tidak apa-apa?" Wanita paruh baya itu menyentuh rambut di kepala Nindiya. Walau ia tidak mengenal sebelumnya, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki seorang putri. Walaupun ia juga seorang pendekar wanita yang sangat kejam terhadap lawan.


"Maaf Bibi, aku ada perlu. Rumah kami tidak jauh dari sini. Bibi tinggal lurus saja ke sana, jika ingin menemuiku dan kakek. Bibi ikuti jalan setapak ini." Nindiya menunjuk suatu tempat yang menunjukan letak rumah kakeknya.


"Terima kasih, Nak. Maaf mengganggumu di saat seperti ini." Wanita paruh baya itu melepaskan Nindiya, membiarkan gadis itu pergi dengan tenang.


"Tidak apa apa. Aku permisi." Nindiya meninggalkan tempat itu. Menggendong air dalam wadah bambu dan membawa rumput di tangan kanannya.

__ADS_1


"Gadis itu ... Nehan?" ujar Gayatri dengan rasa ingin melihat ke arah gadis yang telah pergi.


"Iya, Bibi." Hanya perkataan singkat dari Nehan untuk membalas ucapan bibinya. 'Mungkinkah di sana ada orang yang sangat kuat itu?' pikirnya dengan memicingkan matanya.


"Apa kau suka gadis itu? Dia sangat cantik. Dia juga baik. benarkan, Nehan?" goda Gayatri terhadap keponakannya. Ia juga melihat bahwa Nindiya cukup cantik dan ia juga sedang mencarikan jodoh yang cocok untuk pemuda yang sangat pendiam itu.


"Iya, Bi," balas Nehan singkat. Walaupun ia tidak ada perasaan itu. Tapi ia fokus untuk membawa pedang yang ia miliki. Akan sangat sulit jika terus membawa pedang yang membuatnya selalu dalam bahaya.


"Bibi akan melamarnya untukmu. Apa kau mau dengannya Nehan?" Menatap Nehan yang tengah duduk di batu.


"Terserah Bibi saja." Nehan tidak memperdulikan itu semua. Menikah saja ia tidaklah mengapa dengan usianya saat ini.


"Baiklah, sudah bibi putuskan. Setelah istirahat, kita akan pergi kerumahnya."


Wanita tersebut tersenyum. Menatap kepergian Nindiya yang berjalan lewat jalan setapak. Sementara Nehan hanya bisa menuruti apa kata wanita paruh baya itu.


***


Nindiya hanya melihat sekejap. Ia masukan air yang dibawanya ke wadah yang disediakan. Sebuah gentong air yang terbuat dari tanah liat. Ditaruhnya di Pawon/tungku. Lalu ia memasukan beberapa kayu bakar. Lalu menyalakan api.


Tak butuh lama, kayu-kayu tersebut terbakar. Nindiya duduk tidak jauh dari tungku api yang berada di belakang rumahnya.


"Cimut. Aku lupa. Pasti kamu udah lapar, yah?" Dilihatnya kelinci putih yang selalu menemaninya dalam kesendiriannya. Di saat sang kakek tidak ada di rumah.


"Sini cimut. Kelinci imutku, muachh!" Gadis itu mencium kelinci yang sudah ia tangkap.


Nindiya mengambil rumput yang hijau. Memberikan kepada kelincinya. Sambil bermain main sebentar. Dielusnya kelinci yang sedang makan rumput.

__ADS_1


"Bapak, ibu ...." Terbayang wajah kedua orang tuanya yang telah lama tidak ia temui lagi. "Apakah kalian melihatku di sini? Aku sangat rindu kalian."


Hanya sedikit kenangan yang dia ingat dimasa kecil dulu. Saat ia bermain dengan kedua orang tuanya. Dan yang tidak pernah ia lupakan selama hidupnya. Ingatan yang dahulu, luka luka terdahulu saat mengetahui orang keadaan desanya.


Saat itu, siang hari saat Nindiya sedang membantu ibunya memasak, tiba tiba terdengar suara teriakan dari luar. Dan orang mendobrak pintu. Nindiya kecil takut dan memeluk ibunya.


Beberapa orang membawa senjata tajam. Ada yang membawa pedang, golok, celurit dan ada yang bawa obor tuk membakar rumah rumah di desa.


"Ibu, aku takut," ucap Nindiya kecil. Memeluk ibu yang selalu ada untuknya. "Mereka itu siapa?"


"Tenang, Nak. Ibu akan menghadapi mereka semua. Kamu sembunyi di lemari dulu, yah. Kamu juga jangan menangis. Apapun yang terjadi, kamu jangan keluar dari lemari!"


"Ibu, apa yang terjadi? Kenapa mereka sangat kejam sekali?" Gadis kecil itu melihat di depan matanya, perlakuan para pendekar hitam itu, bertindak semena-mena.


"Tenang, Nak. Nindi anak baik yang akan bernasib baik juga." Tidak ingin putrinya melihatnya mati di depannya, membuat wanita itu memutuskan untuk menyembunyikan anaknya.


"Brakkk!" Suara pintu didobrak. Beberapa dari mereka berwajah beringas yang menghancurkan apa saja yang dilihatnya.


"Wah, ternyata ada wanita cantik di sini. Hai cantik, maukah kamu ikut bersamaku? Hahahaha!"


"Ini hari yang bahagia untukku. Lihat betapa cantiknya dia. Hmmm ..." gumam pendekar lain, yang seakan terlena dengan kemolekan wanita yang ada di hadapannya.


"Hohoohh ... saya rela nggak tidur tujuh hari tujuh malam untuk bersenang senang denganmu, wahai wanita-wanita cantik."


"Diam kalian!" bentak wanita itu dengan amarah memuncak. Juga rasa gemetar karena ketakutannya.


***

__ADS_1


__ADS_2