
Chapt 33
"Indera. Aku punya saran. Mungkin dengan angin, kita bisa mematikan api mereka. Tetapi aku perlu waktu untuk menyerap energi. Apa kau bisa bertahan?" Bayu yang masih menghindari serangan serangan mereka.
"Oke. Baiklah. Kau coba gunakan elemen anginmu. Aku akan menahan mereka." Perintah indera kemudian.
"Baiklah kalau begitu. Tolong tahan mereka lima menit." Bayu melempar pedangnya ke arah Indera.
"Yah... Baiklah. Kuharap aku bisa." Ucapnya sambil menangkap pedang tersebut.
Bayu berlari menjauh dari tempat tersebut. Sementara indera kini memakai dua pedang ditangan kanan dan kirinya. Untuk melawan dua ninja sekaligus memang lebih sulit. Apalagi ninja ninja tersebut terlihat lebih hebat dari yang mereka temui sebelumnya.
"Seandainya ada Raditya. Ia paling ahli menggunakan pedang. Tetapi sayangnya..." Indera menangkis senjata yang mengeluarkan api yang mendekat kearahnya.
Seakan tidak ada habisnya. Senjata senjata itu terus menerus menyerangnya. Kini beberapa luka telah ia dapatnya. Ia merasakan sakit karena luka dari goresan dan terasa panas saat tersentuh kulit.
"Tak bisakah lebih cepat?" Kesal indera. Ia masih menahan sakitnya.
Walaupun indera dapat menggunakan elemen api, tetapi perlu waktu. Menurutnya, api harus dilawan dengan air. Tetapi diantara kedua pendekar tersebut tidak ada yang bisa menggunakannya. Maka satu satunya cara adalah dengan menggunakan elemen udara.
Bayu menutup matanya. Menyerap energi angin yang perlahan masuk kedalam tubuhnya. Ia berkonsentrasi penuh. Mungkin lima menit waktu yang singkat. Tetapi tidak untuk sekarang. Karena kondisi mereka, lima menit itu sama saja mempertaruhkan sebagian nyawanya.
Sementara indera masih menghadapi kedua ninja yang menyerangnya bersamaan. Ia sangat kewalahan karena pedang mereka mengeluarkan hawa api yang sewaktu waktu bisa membakar indera.
__ADS_1
Pertempuran malam hari membuat para ninja bisa mengeluarkan kehebatan sesungguhnya. Karena malam hari, membuat musuhnya kewalahan. Ya malam yang gelap merupakan waktu yang tepat untuk penyerangan.
Mata mereka sudah terbiasa dengan kegelapan. Bahkan gelap total sekalipun. Membuat ruang gerak para pendekar terbatas. Karena minimnya cahaya.
"Kalau begini terus, bisa mati kita." Keluh indera kini. Ia tengah tergores di beberapa bagian tubuhnya. Luka bakar ia dapat.
"Lama sekali Bayu. Aku sudah tidak kuat lagi!" Teriaknya.
Seketika gelombang angin tercipta. Pusaran angin yang membuat kedua lawan indera kini mundur. Kini indera mundur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Kau tidak apa apa kan?"
"Sialnya aku dalam kondisi tidak baik sekarang." Keluhnya. Ini mungkin pengorbanannya. Yah sebagai pengukur waktu. Usahanya tidak boleh sia sia.
**"
"Kalau kau bertarung menggunakan banyak senjata, nanti senjatamu cepat habis." Gayatri memperingatkan lawannya. Tetapi lawannya itu seakan tidak peduli. Sudah ribuan senjata yang telah dilempar. Tetapi ninja itu seperti memiliki senjata tidak terbatas.
"Sial. " Karena tidak mendapati jawaban , Gayatri mengeluarkan bom iblis. Melemparkannya.
"Prang!" Lempengan lempengan logam itu menyebar. Kini lawannya mendapatkan luka serius.
"Matilah kau. Hyaaatt!" Gayatri menghunus pedangnya. Berlari menebas lawannya.
__ADS_1
"Sial!" Ternyata ia hanya menebus bayangan.
"Hei." Ninja tersebut berada di belakangnya.
"Sejak.. kapan? Aakkhh..." Gayatri menahan sakitnya.
Sebuah tusukan dari pisau yang digunakan ninja tersebut mengenai punggungnya. Kirana yang melihat ibunya pun menjerit histeris.
"Ibu..." Kirana berniat lari, tetapi ditahan Nehan
"Tunggu Kirana. Biar aku yang hadapi orang itu. Kau bawa ibumu ke dalam." Nehan memberi instruksi.
Dari tadi, Nehan menyembuhkan dirinya. Mengambil beberapa obat lalu memperbannnya. Ia juga mengambil pedang dari dalam rumah. Walau ia yakin racunnya belum sembuh sempurna. Karena terburu buru ia tidak sempat mendeteksi racun tersebut. Sehingga ia hanya asal mengkonsumsi penawar racun.
"Hei. Kau lawanku." Nehan membuka kain merah tersebut.
"Hmmm... Menarik. Akhirnya kau yang akan mati selanjutnya." Ninja tersebut menoleh kearah Nehan.
Nehan menghunus pedangnya. Seketika itu, bumi bergetar. Tanah dan bebatuan disekitar Nehan melayang sendirinya. Angin berhembus dengan kencang. Seakan menyambut kembali terbukanya pedang legenda.
Sebuah pedang dengan mata berwarna merah darah tersebut membuat orang orang disekitar merinding.
"Pedang bumi. Tidak. Itu lebih tepatnya pedang neraka. Tetapi mengapa manusia yang bisa memegangnya? Ini tidak mungkin." Ninja tersebut mengeluarkan sebuah peluit dan meniupnya.
__ADS_1
Dari dalam tembok tanah, kedua orang tua tersebut tengah bertarung menghadapi sembilan orang tersisa. Ninja ninja tersebut menggunakan senjata aneh. Ada yang menggunakan pedang bermata dua. Ada yang menggunakan tombak trisula. Adapula yang menggunakan senjata seperti cangkul. Dan senjata aneh yang ukurannya tidak biasa.
***