Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 31 Isteri Manja


__ADS_3

Chapt 31


"Nehan..." Nindiya memanggil Nehan.


"Hmm..." Gumamnya.


"Indah ya?" Nindiya memandangi dan menunjuk sebuah bintang.


"Iya. Tapi lebih indah kamu." Jawab Nehan.


Mereka saling memeluk satu sama lain. Keduanya kini berbaring dan menatap keatas langit. Menunjuk bintang bintang yang bertaburan di langit.


"Nindi..." Panggil Nehan di samping Nindiya.


"Hmm?" Gumamnya.


"Kamu masih takut tidur sendiri? Katanya kamu takut tidur sendirian." Ucap Nehan sambil memegang puncak kepala Nindiya.


"Kan ada kamu. Kok tidur sendiri. Katanya kamu mau nemenin." Jawabnya polos. Ia mengembungkan pipinya.


Semilir angin malam berhembus. Udara dingin membuat mereka menggigil. Apalagi mereka sedang berada tempat yang tinggi. Sebuah panggung yang dibuat Nehan beberapa waktu lalu. Dari tempat tinggi ini, hampir semua rumah rumah di desa Guntur terlihat.


"Dingin." Nindiya sesekali menggigil.


"Hehehhh..." Nehan terkekeh. Dibelainya rambut Nindiya. Diciumnya ujung kepalanya itu.


"Nehan." Panggilnya


"Iya?" Nehan mendekati wajah Nindiya.


"Dingin. Ngantuk." Nindi menenggelamkan kepalanya ke dada Nehan.


"Disini dingin. Tidurnya ke dalam rumah. Udah malam."

__ADS_1


"Gendong." Entah mengapa, Nindiya menjadi manja kepada Nehan.


"Ini tempat tinggi. Masa minta digendong? Kamu turun dulu. Aku tidak bisa menggendongmu." Nehan membangunkan Nindiya. Ia menunjuk kearah bawah.


"Ah gampang. Kita lompat aja." Nindiya hendak melompat.


"Eh... Tunggu!" Nehan meraih tangan Nindiya. Ia tidak akan melakukan hal bodoh dengan meloncat dari ketinggian yang mencapai lima meter.


"Kenapa?" Nindiya memandangi Nehan. Masih terlihat wajahnya yang datar di bawah terangnya bintang bintang.


"Aku nggak bisa. Tinggi."


"Oh iya... Aku lupa. Tenang... Serahkan padaku." Nindiya menggandeng tangan Nehan. Melompat dengan tepat dan mendarat sempurna.


"Wah..." Nehan yang tidak memiliki ilmu Kanuragan itu tentu kaget. Mereka kini berada di tanah.


"Sekarang gendong." Nindiya berbalik ke belakang. Melompat ke punggung Nehan.


"Duh... Punya isteri kok manja banget."


"Hmmm... Baiklah. Sayangku. Jangan sedih lagi."


Nehan mengelus rambut Nindiya dan membawa Nindiya ke dalam rumah. Malam yang larut, tentu penduduk desa telah terlelap. Hanya terlihat dua insan yang baru menjadi sepasang suami isteri tersebut.


Hanya suara jangkrik dan beberapa burung malam yang tetap berjaga. Serangga serangga kecil beterbangan di pinggiran obor obor yang terpasang di setiap depan rumah warga.


Nehan membawa Nindiya ke tempat tidur. Mereka tiduran saling menatap. Pasangan suami isteri tersebut saling tersenyum. Kemudian Nindiya mendekat memeluk Nehan.


"Isteriku yang manja. Hmm..." Nehan memeluk kepala Nindiya


"Hmmm..." Namun ia memejamkan matanya. Ia merasakan kehangatan yang lama tidak ia rasakan.


Keduanya hampir terlelap ketika sebuah suara membangunkan mereka. Dari luar, mereka mendengar suara orang tengah bertarung.

__ADS_1


"Ada apa?" Nindiya segera bangun. Diikuti Nehan yang berlari keluar.


Disana, mereka tengah berkumpul. Ketika ada orang orang berpakaian serba hitam. Melemparkan senjata senjata mereka kearah warga.


"Sial. Ninja ninja itu yang membuat Raditya hampir kehilangan nyawa." Bayu mengendus kesal.


"Benar. Jadi mereka ada disini sekarang." Indera pun merasa geram.


Ini akan menjadi pembalasan dendam mereka. Tetapi waktunya yang kurang tepat. Karena mereka Kini sudah terlalu mengantuk. Namun karena merasakan sesuatu yang aneh. Mereka ternyata belum terlelap.


"Ada apa ini?" Kakek Mahadri telah tiba disana.


"Mahadri. Sebaiknya kita berdua saja yang hadapi mereka. Siapa yang membunuh terbanyak. Maka ia pemenangnya. Lupakan tantanganku tadi." Tabib tua tersebut menyiapkan jarum jarum dari sakunya.


"Hmmm... Menarik. Lagipula sudah lebih dari lima belas tahun tidak olahraga."


"Sudah diputuskan. Kalian semua minggir lah. Biarlah orang tua ini yang menghadapi mereka."


"Baiklah orang tua. Lawanlah kami. Teknik pengendalian elemen. Teknik tembok tanah." Tembok tanah tercipta. Tembok berbentuk kubus selebar sepuluh meter itu berisi lima belas ninja dan kedua orang tua yang berdiri dengan tenang.


"Hmmm... Menarik. Ini teknik yang hebat. Anak muda." Jumantara melemparkan jarum jarum kepada para ninja. Tapi mereka berhasil mengelak.


"Sebenarnya aku ingin melakukannya. Tetapi sayangnya orang tua itu ada disini." Mahadri hanya menghindari lemparan senjata senjata para ninja tersebut. "Merepotkan. Orang tua begini terpaksa menghadapi orang orang tidak berguna ini."


Kedua orang tua tersebut hanya bertahan menghadapi serangan. Lima belas ninja ninja tersebut semakin mempercepat lemparan senjata senjata mereka.


"Kedua orang tua ini cukup lincah."


"Sebaiknya kita selesaikan segera."


"Ayo mulai."


Sementara di luar tembok, mereka masih menyisakan lima ninja yang berdiri dengan tegap. Mereka masing masing letaknya berjauhan.

__ADS_1


"Hati hati, mereka bisa saja menyerang kapan saja." Ucap Bayu.


***


__ADS_2