Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 94 Wajah Asli Narendra


__ADS_3

Nindiya ingin memejamkan matanya kembali. Tetapi ia merasakan ketakutan. Ia pun hanya rebahan sambil memikirkan ucapan Narendra. Ia tidak bisa, walau hanya memejamkan mata. Maka ia menunggu sampai benar-benar pagi. Hingga matahari mulai menampakan sinarnya. Mereka belum juga bangun.


"Kenapa mereka belum juga bangun?" gumamnya beranjak dari tempat tidur


Nindiya memutuskan untuk keluar dari gubug. Saat ia keluar, ia melihat Raditya sedang berdiri di tepi sungai. Entah apa yang sedang dilakukannya. Nindiya pun menghampirinya.


"Kau sedang apa?" tanya Nindiya yang sudah berada di belakang Raditya.


"Kau sudah bangun? Syukurlah ...." Raditya berbalik dam tersenyum pada Nindiya. Ia berjalan mendekati perempuan itu.


Nindiya tidak tahu harus melakukan apa. Ia merasa canggung berada di situasi seperti ini. Raditya pun demikian canggungnya. Keduanya hanya saling menatap, lalu tersenyum.


"Kau ..." ucapnya bersamaan.


Keduanya saling pandang. Mereka mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang mengganjal dalam benak mereka.


"Kamu duluan!" Raditya mempersilahkan.


"Tidak. Kamu duluan!" sahut Nindiya.


"Setidaknya perempuan yang duluan. Nanti akan aku jawab!" Raditya tetap kekeh untuk mempersilahkan Nindiya mengatakannya. Setidaknya ia memikirkan hal yang sama dengannya. Atau perasaan mereka sama.


"Apakah kau pernah berpikir?" Nindiya berhenti berucap. Ia memandang Raditya dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Kupikir, apa yang kita rasakan itu sama. Kita tentu satu pemikiran. Bukankah seperti itu?" Raditya tersenyum. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Ia dan Nindiya akan saling mengungkapkan perasaannya.


"Iyah? Kau tahu apa yang ku maksud?" tanyanya dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Iya ... tentu aku tahu. Kurasa kita memang jodoh. Aku ju-" ucapan Raditya terhenti saat Nindiya memotongnya.


"Benarkah? Kalau begitu, ayo ikut denganku!" Nindiya menarik tangan Raditya.


"Kemana? Eh kenapa secepat itu? Ini dilarang! Sungguh ini perbuatan terlarang, Nindiya! Kita tidak bisa melakukan ini!" pekiknya setelah ia diseret jauh, ke tempat dimana tidak ada orang.


Nindiya menarik Raditya, menuju ke tebing. Namun Raditya merasa ini keterlaluan. Raditya mungkin memiliki perasaan yang sama dengan Nindiya, tetapi ia tidak pernah berpikir, jika mereka melakukannya sejauh itu.


"Nindiya! Kurasa kita akan melakukan kesalahan besar!"


"Katanya pemikiranmu sama denganku. Jadi ayo cepat!" Nindiya menarik Raditya. Mereka tidak berlari, tapi berjalan dengan cepat.

__ADS_1


"Tapi ini tidak boleh terjadi. Kita harus menikah terlebih dahulu, sebelum melakukan ini."


"Apa yang kamu katakan?" Nindiya tentu tidak mengerti arah pemikiran Raditya. Ia berhenti menarik tangan Raditya, ketika ia sampai di tempat di mana ada banyak mayat yang tertimpa batu dan kayu besar.


"Ini?" Raditya sampai tercengang. Ia tidak menyangka, ia akan dibawa ke tempat yang tidak ada hubungannya dengan perasaannya.


"Katanya hati dan pemikiran kita sama ... ayo kita bantu dia menguburkan mayat-mayat ini!" ajak Nindiya yang membuat Raditya semakin terkejut.


"Jadi ... ini yang kamu maksud?" ucapnya tidak percaya. Raditya berpikir, Nindiya akan mengajaknya ke lembah dosa yang membuat mereka dalam kehinaan. Tetapi tidak disangka, ternyata Nindiya mengajaknya untuk mengurus mayat.


"Hei, Nindiya! Kau kembali lagi?" sapa Narendra yang melihat Nindiya sudah berada tidak jauh darinya.


"Apakah kami boleh membantu?" Nindiya sudah memutuskan untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Walaupun ia sama sekali tidak membunuh, dan juga ia masih trauma, ia harus melawan rasa takut itu.


"Ooh tentu saja ... ayo kemari!" panggil Narendra. Ia melihat Raditya yang berjalan dengan Nindiya. "Mereka sangat serasi. Mungkinkah mereka adalah jodoh?" gumamnya kemudian. Ia lalu meletakan cangkulnya.


Lubang yang di buat Narendra cukup lebar. Bisa untuk menampung seratus orang juga. Narendra tidak menyangka, mereka pendekar dari golongan putih pun tidak segan untuk membunuh. Apakah nyawa begitu tidak bergunanya? Melihat banyak mayat terkapar menunggu pembusukan berlangsung. Setidaknya mereka harus mengubur mayat-mayat itu, agar tidak membusuk.


Mungkin mayat-mayat tersebut, akan dimakan hewan-hewan buas. Tetapi mereka tidak akan mampu menghabiskannya. Setidaknya untuk mencegah hewan-hewan tersebut punah karena wabah yang bisa saja menyerang.


"Kenapa kau mau melakukan ini?" tanya Raditya kepada Narendra. Ia tidak habis pikir, kenapa Narendra mau mengurusi orang-orang jahat itu.


"Aku juga akan menanyakan hal yang sama denganmu! Mengapa kau melakukan ini?" tanyanya dengan tegas. Narendra menatap Raditya tajam dari balik topengnya. Auranya pun tidak bersahabat dengan Raditya.


"Cuih ... pendekar tidak punya hati seperti kalian ini, mana bisa mengerti? Kalian seenaknya membunuh! Apa dengan membunuh, kalian anggap itu kebenaran? Kalian para sampah, memang pantas untuk saling membunuh!"


"B*jing*n! Kalau berani, hadapi saya! Akan ku bunuh sekalian kau!" teriaknya dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.


"Itulah yang ku benci dari para pendekar. Mereka semua itu hanya kumpulan sampah yang saling membunuh satu sama lain. Dan mereka tidak memikirkan dampaknya. Mungkin tidak sulit bagi kalian untuk membunuh. Tapi tidakkah kau tahu? Berapa banyak isteri yang menjadi janda, karena pembunuhan yang kau lakukan? Berapa banyak anak menjadi yatim yang akan menjadi gelandangan? Dan mereka akan menjadi orang jahat sejak kecil. Mereka terpaksa menjadi kriminal karena orang tua mereka kalian bunuh.


Apakah kau tidak berpikir ke depannya? Siapa yang mau mengurus mayat-mayat ini? Apakah kau juga akan membiarkan mayat-mayat itu membusuk, lalu menimbulkan wabah penyakit? Dan pada akhirnya hewan-hewan di hutan ini akan punah, karena wabah itu. Dan ini dimulai oleh kalian yang membunuh mereka dengan kejinya.


Kau sebut kalian pendekar dari golongan putih. Dan kau tahu apa itu golongan putih? Kau tahu golongan hitam? Kurasa tidak ada ke dua golongan itu." Narendra tersenyum dari balik topengnya. Ia mengutarakan apa yang ada dalam benaknya.


"Kau jangan banyak bicara! Atau aku buat kau menjadi salah satu dari mereka!" gertak Raditya yang kini sudah ada di depan Narendra.


"Heh ... kau ingin membunuhku juga? Kau juga mau membunuh orang lemah sepertiku juga? Aku bukan seorang pendekar seperti kalian. Aku tentu tidak bisa bertarung denganmu. Tentu kau akan membunuhku bukan? Hahaha ... sungguh ironis! Kalian yang disebut sebagai pendekar golongan putih pun tidak memiliki hati ..." Saat mengatakan itu, Narendra sampai bergetar. Mungkin nyawanya tidak berguna saat ini. Yah, pada akhirnya ia menyadari kelemahannya.


"Kau akan ku bunuh!" Raditya sungguh-sungguh dalam ucapannya. Siapapun yang menghina golongan putih, akan ia musnahkan.

__ADS_1


Raditya memukul Narendra di topengnya. Seketika itu, Narendra tersungkur dan topengnya pun pecah, karena pukulan itu.


"Heh ... ternyata orang lemah sepertimu cukup bermulut besar. Berani melawanku? Pergilah ke neraka!" teriaknya sambil mengumpulkan tenaga dalamnya di telapak tangan. Dengan satu pukulan itu, akan membunuh Narendra.


"Tetapi aku penasaran. Aku ingin melihat ekspresi wajahmu. Ijinkan aku untuk melihat wajahmu untuk pertama dan terakhir kalinya." Satu tangan Raditya membuka topeng itu. Ia tersenyum, wajah Narendra tidak setampan dirinya, tetapi tidak buruk juga.


"Tunggu!" Suara Nindiya menghentikan Raditya.


"Tidak usah kau halangi saya. Ia adalah orang yang menghina pendekar golongan hitam! Ia harus mati! Hyaaa!!" Raditya melancarkan serangannya.


"Tidak! Nehan!" Teriak Nindiya.


Aura hitam menyelimuti tubuh Nindiya. Ia langsung menyerang Raditya dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu pun tidak merasakan apapun ketika ia sudah terkena pukulan Nindiya.


"Ke ... kenapa?" ucapnya terhenti sebelum tak sadarkan diri.


Kejadian itu begitu cepat. Hanya satu detik, Nindiya berhasil menembus tubuh Raditya dengan tangannya. Saat ini, Raditya kembali mengalami luka yang sama, seperti sebelum diobati oleh Nehan.


"Aku tidak rela kau membunuh suamiku! Lebih baik, kau saja yang mati. Raditya! Hahaha!" Tawa Nindiya menggelegar. Ia menertawakan dirinya sendiri. Mengapa hidupnya harus seperti ini?


Ia berjalan mendekati Narendra yang ternyata adalah Nehan. Ia hanya diam menyaksikan Nindiya tertawa dengan lantangnya.


"Nehan? Suamiku! Ohh ...." Nindiya sampai meneteskan air matanya. Betapa ia merindukan sosok itu. Ia memeluk tubuh suaminya itu.


Pertemuan yang tidak disangka itu, membuatnya sangat senang. Tetapi ia juga merasa sangat sedih diwaktu yang bersamaan. Entah apa yang ia rasakan. Tetapi ini seperti perasaan yang tidak diduga-duga.


"Nehan ... apa kau mendengarku?" ucap Nindiya yang melihat kondisi Nehan yang lemah.


Semalaman ia telah menggali tanah. Tidak tahu sudah banyak tenaga yang terkuras. Dan ia mendapat pukulan keras di wajahnya. Tubuhnya sebenarnya sudah lemah. Namun ia tidak menyangka saja, kalau Raditya akan mudah terpancing emosinya. Begitu halnya dengan Nindiya.


"Kenapa kau lakukan itu? Apakah dia juga mati? Kau juga akan melakukan itu padaku ... Hemmm?" ucap Nehan pelan.


"Tidak ... aku tidak akan melakukan itu semua. Ayo kita pulang!" ajak Nindiya. "Aku lelah, Nehan." Nindiya menitihkan air matanya. Menangis sesenggukan di hadapan suaminya itu.


Nindiya tersenyum, mengusap wajah Nehan. Ia tertawa kecil disela tangisnya. Satu tangan menutup mulutnya. Ia terus memandangi wajah Nehan.


"Ah ... air mata apa ini? Aku sungguh tidak mengerti. Kenapa ini terjadi padaku, Nehan?" Nindiya memeluk Nehan. Perempuan itu pun mengangkat Nehan, dan ingin membawanya pulang.


"Tunggu! Siapa yang akan mengubur mereka?" Dalam kondisi lemahnya, ia tidak lupa dengan mayat-mayat itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengurusnya!" Nindiya mengayunkan tangannya. Seketika pusaran angin besar tercipta. Angin tersebut mengumpulkan mayat-mayat itu.


***


__ADS_2