Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 56 Perjalanan Bayu Dan Indera


__ADS_3

Chapt 56


Meninggalkan Raditya ditangan Tantri adalah sebuah keterpaksaan. Yah, Indera dan Bayu harus menyerahkan Raditya kepada gadis tersebut.


Sementara Raditya dirawat Tantri, indera dan Bayu harus ikut bertanggung jawab atas menghilangnya Puteri Padmasari. Karena sang Puteri dalam pengawalan mereka seharusnya.


"Apa kau tenang meninggalkan Raditya kepada Tantri?" Tanya Bayu kepada indera.


"Tidak. Kurasa kau juga sama bukan?" Tanyanya balik.


"Iya. Aku juga sama. Aku tidak akan tenang kalau gadis itu berada di sisi Raditya. Pasti Raditya menderita sekarang."


"Yah. Semoga saja Raditya tidak akan gila karenanya. Sebenarnya aku lebih suka Raditya dengan gadis bodoh itu." Indera memberikan pendapatnya.


"Nindiya maksudmu?" Tanya indera sambil melihat sahabatnya itu.


"Yah... Kau tahu itu kan?" Tanyanya balik.


"Yah... Aku setuju denganmu. Semoga ada keajaiban untuk itu."


"Semoga."


Kedua pemuda tersebut, kini telah sampai di desa Banyuasih. Tepat di sungai yang dulu mereka lewati saat pertama kali bertemu Nindiya.


"Sepertinya kita memang berjodoh dengan sungai ini. Kita akhiy kembali lagi di sungai ini." Ungkap Bayu.


"Kau benar Bayu. Kurasa kita memang berjodoh. Aku ingin makan ikan disini. Ah... Aku pun tidak membawa panah. Bagaimana cara kita menangkap ikan?"


Indera bingung. Karena ia hanya membawa pedang sebagai senjatanya. Ia lupa akan anak panah beserta busurnya.


"Tenang. Kau lihat dan perhatikan." Ucap Bayu dengan bangganya.

__ADS_1


Bayu tentu menggunakan pusaran anginnya. Siapa lagi yang suka menggunakan elemen angin selain Bayu. Karena hal inilah, ia adalah seorang murid pedang dewa dengan tingkat permata. Ia termasuk jenius dalam tenaga dalam dan mengendalikan elemen. Tetapi ia tidak ahli senjata.


Berbeda dengan indera yang mengandalkan senjatanya. Meskipun bisa mengendalikan energi cahaya. Bahkan ini hanya bisa dilakukan oleh murid peringkat legenda. Tetapi ia bahkan tidak bisa, atau lebih tepatnya, ia tidak mau mempelajari elemen.


Alhasil, indera harus puas dengan pencapaian sebagai murid perguruan tingkat emas. Sama tingkatannya dengan Raditya. Tapi sebenarnya ilmu Raditya lebih ke dalam tingkatan batin.


Raditya memiliki ilmu kebatinan. Ia bisa merasakan kehadiran seseorang yang tidak terlihat. Ia juga memiliki mata yang bisa melihat dalam gelap. Itu sebabnya ia bisa melawan para ninja itu dalam pertarungan terakhirnya. Pertarungan yang membuat nyawanya hampir hilang.


***


Bayu dan Indera, saat ini sedang memakan ikan ikan yang mereka bakar. Mereka sangat senang dengan desa ini. Makanan begitu melimpah tanpa harus membeli. Yang membuat mereka kehilangan koin emas mereka.


"Kita hanya berdua sekarang. Sebaiknya kita mulai dari mana? Kita tidak tahu keberadaan Puteri Padmasari." Ucap Bayu.


"Menurutku, kita tidak perlu memikirkan itu. Kita akan mengembara. Jika Tuhan menghendaki, maka kita akan dapat menemukannya." Usul indera.


"Kau pintar indera. Kita bisa mengukur kemampuan kita juga. Sampai mana kekuatan kita."


"Kita memang dilahirkan pintar. Tidak usah memuji. Sebaiknya kita ikuti saja kaki melangkah."


Mereka mulai langkah mereka dengan berjalan beriringan. Mereka benar benar mengikuti langkah kaki mereka. Awalnya mereka berjalan kaki, tetapi lama lama, mereka melesat dengan ilmu meringankan tubuh.


Tapi sayangnya, mereka tidak terlalu menguasai ilmu meringankan tubuh. Karena mereka hanya berlari cepat diatas tanah. Mereka bahkan tidak bisa berlari di atas ranting. Mereka hanya berlari dengan tenaga dalamnya saja.


"Kau harus lebih cepat lagi, Bayu." Indera mengejar Bayu yang sedang santainya.


"Hahaha... Sejak kapan Bayu bisa kalah dari indera?"


Bayu melesat lebih cepat dari indera. Ia menambah kecepatan lebih. Sehingga meninggalkan indera yang sudah mulai kehabisan tenaga.


"Udah. Aku capek!" Keluhnya.

__ADS_1


"Hahaha.. sama."


Mereka pun terengah engah. Kini mereka sudah berlari jauh dari desa Banyuasih. Mereka kini memasuki hutan. Mereka entah sudah berada dimana. Hutan itu dipenuhi dengan aura mistis, yang membuat mereka bergidik.


"Sepertinya kita sudah berada di hutan larangan." Tebak indera.


"Apa kau yakin?" Bayu menengok ke indera dengan masih ngos ngosan.


Keduanya memang sudah sangat lelah. Nafas mereka tersengal. Mereka sama sama tergeletak di rerumputan.


"Hahhhh lelah..."


"Hahahah... Kita malah berlari terlalu cepat."


Mereka sama sama tertawa. Dengan mengistirahatkan tubuh mereka, berharap tenaga mereka akan segera pulih. Merasakan dinginnya hembusan angin yang lewat.


Di dalam hutan itu, terdapat hewan hewan buas. Diantaranya adalah sekumpulan harimau putih yang ukurannya sangat besar. Harimau harimau itu memiliki tinggi dua meter dan taring mereka terlihat sangat tajam.


Harimau harimau tersebut mendekati Bayu dan indera yang sudah kelelahan. Mereka terkejut bukan main. Melihat harimau raksasa yang jumlahnya mencapai belasan.


"Sial! Harimaunya besar sekali." Gumam indera.


Keduanya gemetar ketakutan. Tidak menyangka, dalam hutan ini terdapat harimau yang sangat besar dan membuat mereka tidak dapat bergerak. Aura harimau itu sangat pekat.


Saat harimau harimau itu semakin dekat dengan mereka. Melingkari mereka yang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk bangun pun mereka sudah tidak sanggup.


"Apakah kita akan mati disini?" Bayu sudah sangat pucat. Ia memejamkan matanya.


"Ayah. Ibu. Maafkan anakmu yang belum menikah ini." Indera pun sama dengan Bayu.


Jarak harimau dan mereka tinggal satu meter lagi. Dan harimau harimau itu menerkam kedua pemuda tersebut.

__ADS_1


***


***


__ADS_2