Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 77 Siasat Licik Wirata


__ADS_3

Chapt 77


Wardana bukanlah pendekar dengan tenaga dalam yang tinggi. Karena ia jarang sekali menggunakan tenaga dalamnya. Bukan karena tidak mau menggunakan tenaga dalam. Tetapi ia dalam kondisi, tidak bisa menggunakan tenaga dalam.


Faktor keturunan adalah penyebab Wardana tidak bisa menggunakan ilmu ilmu Kanuragannya. Tetapi untuk bertarung, ia ahli menggunakan pedang. Bahkan, ia mampu melawan Wirata dalam kondisi tangan Wirata utuh.


Ubhaya mengetahui Wardana memiliki pedang yang tidak kalah saktinya dari pedang langit. Yaitu pedang bumi, saat itu, Wirata secara diam diam, mencuri pedang bumi dari Wardana. Pedang bumi itu sangat berat saat berada di tangan Wirata. Dengan susah payah, ia mengambil pedang tersebut saat Wardana terlelap. Akan tetapi, malam itu, ia menghunuskan pedangnya.


"Akhh!!" teriakan Wirata terdengar sampai Wardana. Saat itu, Ubhaya pun mendengar teriakan Wirata.


Pedang tersebut menyerap semua tenaga dalamnya. Ia mencoba melepaskannya, namun ia tidak dapat melepaskan pedang tersebut. Sehingga, ia memotong tangannya. Dan saat itu, ia tidak pernah mengatakan kebenaran.


Untuk menutupi aibnya, Wirata menyembunyikan kebodohannya dengan mengatakan bahwa ada orang yang mencuri pedang milik Wardana, tetapi pencuri tersebut sangat sakti dan berhasil memotong tangannya.


"Ada apa Wirata?" saat itu, Wardana yang mendengar teriakan Wirata pun menghampiri Wirata. Ia melihat pedangnya tergeletak di tanah.


"Akhh! Sial!" umpat Wirata dengan rasa sakit yang teramat. Darah segar mengalir di tangannya.


"Tanganmu?" Wardana terlebih dahulu segera mengambil kain untuk membalut luka Wirata.


"Apa yang terjadi di sini Wirata?" Ubhaya yang melihat tangan Wirata tergeletak di tanah yang memegan sebuah pedang.


"Sial! tadi ada yang mencuri pedang itu, saat aku berhasil merebut pedang itu, kekuatanku terserap habis!" Wirata menjelaskan itu sambil menahan sakit.


"Ooh, pedang itu?" Ubhaya memegang pedang tersebut, tetapi tenaganya pun terserap sangat cepat.


"Akkh! Pedang sialan!" umpatnya mencoba melepaskan pedang tersebut.


Wardana yang melihat itu, mencoba mengambil alih pedang itu, tetapi pedang tersebut selalu menempel di tangan Ubhaya. Ubhaya mengalami hal serupa dengan Wirata. Tenaga dalamnya terserap dengan pesat.


"Golok Darah, tolong saya!" Ubhaya memanggil makhluk yang berada di dalam golok itu.

__ADS_1


Wuuzzz


Golok darah terbang dengan kecepatan tinggi. Mendengar tuannya yang memanggil, penghuni golok tersebut pun mengendalikan golok tersebut untuk menghentikan pedang bumi.


Terjadilah pertarungan antara iblis penghuni golok darah dengan jin khodam yang mendiami pedang bumi. Pertarungan tersebut terjadi di alam yang tidak bisa dilihat manusia. Itu pun terjadi ketika tangan kanan Ubhaya memegang pedang bumi, tangan kirinya memegang golok darah.


"Iblis sepertimu, berani beraninya mau melawanku?!" ucap makhluk penghuni pedang bumi.


"Berisik sekali kau. Kau juga iblis, sama sepertiku. Jadi apa bedanya kita?" balasnya sambil menghunuskan cakarnya ke arah lawannya.


Srash! srash! srash ...,


Keduanya menyerang dengan saling mencabik cabik tubuh lawannya. Pertarungan mereka berlangsung lama, namun keduanya tidak sudah merasa lelah. Karena kekuatan mereka setara. Sehingga untuk mengetahui siapa yang menang, membutuhkan waktu seharian, tetapi dampaknya, Ubhaya akan kehilangan kekuatannya.


Di alam nyata, Ubhaya tidak sadarkan diri. Semua pengikut Ubhaya tidak ada yang berani mendekat. Karena aura di sekitar Ubhaya sangat berbahaya. Sepuluh meter dari tempat tersebut, mereka tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Semakin dekat dengan Ubhaya, maka semakin besar efeknya. Maka ia semakin berat untuk berdiri sekalipun.


"Huh, sepertinya kedua pusaka itu sangat berbahaya." Ucap salah satu bawahan Ubhaya. Meskipun demikian, mereka tidak ingin mati begitu saja, karena mencoba menolong Ubhaya.


"Baiklah, akan kucoba!"


Wardana yang berada sekitar lima meter dari Ubhaya, ia melangkah maju tanpa terkena efek aura kedua pusaka tersebut. Wardana pun memegang pedang bumi, lalu ia tarik pedang tersebut, sehingga Ubhaya pun terselamatkan.


"Hah, hah ...," nafas Ubhaya tidak beraturan. Walaupun ia sudah terbebas dari pedang tersebut, tetapi ia sudah kehilangan banyak kekuatannya.


Sejak peristiwa tersebut, Ubhaya maupun Wirata tidak berani memegang pedang tersebut, ketika pedang tersebut dikeluarkan dari sarungnya. Wardana segera menyarungkan pedang bumi tersebut.


Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut, menjadi semakin takut terhadap Wardana. Dan mereka berusaha menyingkirkan Wardana dan pedang tersebut. Maka dari itu, dengan berbagai cara, banyak dari mereka yang mencoba menjauhkan Wardana dari pedang tersebut. Maka mereka memberi tuduhan terhadap Wardana, kalau Wardana telah berkhianat.


"Dia telah menghianatiku? beraninya kau berencana menyelamatkan Daniswara, Wardana! bawa dia kemari!" perintah Ubhaya kepada bawahannya.


"Baik tuan."

__ADS_1


"Rasakan itu Wardana. Hehh ...," Wirata tentu merasa senang. Ia bisa tersenyum senang dengan rencana yang dibuatnya bersama bawahan Ubhaya lainnya.


"Apa yang kalian lakukan?" dengan tangan di ikat, Wardana dibawa menghadap Ubhaya yang sedang dalam amarahnya.


"Kau bermaksud menghianatiku, Wardana?!" kata-kata penuh dengan penekanan. Sebenarnya, Ubhaya senang dengan keberadaan Wardana yang selama ini, mematuhinya. Tetapi ia tidak menyangka, bawahan paling setianya beraninya menghianati.


"Apa yang kau maksud? aku tidak pernah menghianatimu." Wardana berkata dengan jujur.


"Lalu, bagaimana kau dengan penghianatanmu saat membawa seorang gadis yang kau nikahi? Dan kau memiliki putera darinya. Itu adalah sebuah penghianatan pertamamu." Sebenarnya tidak masalah, jika Wardana memiliki isteri dan anak, tetapi Ubhaya hanya mencari alasan yang tepat. Ia tentu tidak ingin kehilangan banyak pengikutnya karena Wardana.


"Apa aku salah? Kami saling mencintai." Wardana mengatakan itu dengan percaya diri. Baginya, mencintai seorang gadis adalah sebuah anugerah.


"Itu adalah kesalahan. Dengan adanya seorang wanita di hidupmu, berarti itu adalah sebuah kelemahan besarmu."


Yang membuat Ubhaya tidak menginginkan ada hubungan pria dan wanita di dalam kekuasaannya adalah karena ia pernah mencintai seseorang. Tetapi lagi-lagi, karena cintanya tidak terbalas. Itu membuatnya meyakini, jika mencintai seorang wanita adalah kelemahan terbesarnya.


Ubhaya pernah mencintai seseorang yang lebih memilih Daniswara daripada dirinya. Yaitu seorang gadis desa yang sangat cantik jelita. Penampilannya yang sederhana dan senyumannya itu, membuat ia terbayang bayang.


"Wanita adalah kelemahan terbesar bagi semua pendekar!" itulah kata-kata yang sering diucapkan Ubhaya.


Karena hal itulah, saat mengetahui Wardana menikah dengan Lokahita, maka mereka dipisahkan. Dan Wirata salah satu penyebab terpisahnya Wardana dengan wanita yang pernah ditolong Wardana dan menjadi isterinya.


Peristiwa tersebut tidak pernah dilupakan Wardana. Ia harus berpisah dengan anak dan isterinya. Wardana menjadi pria yang lemah semenjak dipisahkan dengan Lokahita dan Nehan. Dan itulah mengapa, Ubhaya berpikir, ini karena masalah itu, yang membuat Wardana berpaling darinya. Tanpa berpikir lebih lagi. Karena ia beranggapan, anak buahnya tidak akan berbohong sampai hampir separuhnya mengatakan itu.


Wirata yang telah menghasut seluruh anak buah Ubhaya untuk menjatuhkan Wardana. Tentu mereka mau, karena mereka khawatir dengan pedang tersebut. Maka setelah Wardana dibawa ke gua bersama dengan Daniswara, ia tidak lagi bersama dengan pedang bumi.


Untungnya, ia diperbolehkan membawa pedang lain. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk membawa sebuah rahasia untuk menjadi pendekar hebat dalam sekejap. Yaitu sebuah kitab 'Mengumpulkan Tenaga Dalam' bukan kitab biasa untuk mengumpulkan tenaga dalam biasa. Siapapun yang mempelajari ilmu dalam kitab tersebut, maka ia bisa menjadi jagoan terhebat. Karena dalam kitab itu, ada cara agar tenaga dalam bertambah berlipat lipat dengan sekejap.


Agar tidak bisa kabur, Wirata menggunakan rajah khusus untuk menawan seseorang. Dikarenakan Wardana yang tidak bisa menggunakan tenaga dalam, Wirata menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat rajah tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2