Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 32 Serangan Ninja


__ADS_3

Chapt 32


Kini Bayu, indera, Gayatri dan nindiya mulai waspada. Kirana berada di pinggir Puteri Padmasari. Mereka yang tidak bisa bertarung memilih berada dibelakang Nehan.


"Kak Nehan. Kutahu kamu nggak bisa bertarung. Tapi setidaknya kau punya pedang." Ungkap Kirana


"Tapi mana pedangmu?" Puteri Padmasari tidak melihat Nehan membawa pedang ditangannya.


Memang ia tidak selalu membawa pedangnya. Tentu pedang itu berada di kamarnya. Nehan berpikir jika hari ini tidak akan ada penyerangan tiba tiba. Apalagi desa Guntur adalah desa yang selama ini aman dari tindak kejahatan.


Kedua gadis tersebut saling menatap. Mereka tidak menyadari Nehan kini tidak punya perlindungan. Seandainya pedang itu berada di tangan Nehan. Maka dapat dipastikan mereka aman. Mereka hanya memikirkan berlindung pada orang yang mereka temui paling dekat. Tetapi kini mereka mulai panik.


"Sial. Mengapa aku harus berlindung kepada orang yang tidak bisa bertarung." Sesal Puteri Padmasari.


"Tuhan, tolonglah hambamu ini." Doa Kirana.


Kirana tidak dapat berkata lagi. Lidahnya kelu. Ia melihat sosok berpakaian hitam mendekat kearah mereka. Kedua gadis tersebut mematung di belakang Nehan yang masih memasang wajah datarnya.


Yang dilakukan ninja ninja tersebut adalah bergerak masing masing satu melawan satu. Dan kini satu ninja menghampiri Nehan yang bersama kedua gadis yang ketakutan.


"Hmmm... Kurasa lawanku tidak terlalu sulit. Belum apa apa sudah ketakutan." Ucap ninja tersebut. Senyumnya mengembang di balik cadar yang menutupi mulutnya.

__ADS_1


"Kurasa kau harus menarik kata katamu itu." Nehan dengan raut tanpa ekspresi itu berdiri tak gentar sedikitpun.


"Hmmm... Bahkan kau tidak memiliki tenaga dalam sekalipun." Ninja tersebut sudah semakin mendekat. Ia yakin nyawa pemuda tersebut akan segera tercabut.


Nehan masih berdiri ditempat. Kedua gadis tersebut semakin panik. Mereka tidak bersuara dan memilih untuk memejamkan mata.


"Bersiaplah. Hyaat!" Ninja tersebut melesat dan kini telah berada dihadapan Nehan bersiap menusukan pisaunya.


"Srang!" Nehan melempar sesuatu ketika jarak mereka berjarak satu meter. Nehan bergerak mundur untuk menghindar.


"Kalian berdua. Mundur!" Perintahnya menengok ke arah belakang. Dimana dua orang gadis ketakutan tersebut pun menuruti perkataan Nehan.


"Akhh... Sial." Ninja tersebut terkena bola iblis. Kini tubuhnya penuh dengan luka. Tetapi ia masih bisa bergerak. Ia mengeluarkan senjata senjata rahasianya. Melemparkannya pada Nehan. "Matilah kau."


"Kau... Kau curang!" Teriaknya menahan sakit. Ia tidak menyangka akan kelalaiannya. Ia tidak berpikir lelaki yang tidak memiliki tenaga dalam tersebut memiliki senjata rahasia.


"Untuk bertahan hidup, dan untuk membela diri. Apa ada yang namanya curang? Kupikir kau salah memilih lawan." Nehan kini berjalan mendekati ninja tersebut.


'Baiklah. Mendekatlah. Maka kau akan mati oleh senjataku.' pikir ninja tersebut. Ia mengambil sebuah pisau beracun dari sakunya.


Nehan semakin mendekat. Ini membuat ninja tersebut tersenyum. Ninja itu melemparkan senjatanya kearah Nehan. Tetapi senjata itu mengenai bahu Nehan. Nehan menghindar tetapi masih tersayat senjata itu.

__ADS_1


"Cepat atau lambat, kau akan mati oleh racun ku." Gumamnya sebelum ninja itu tidak sadarkan diri.


"Akh..." Nehan menahan rasa sakit. Racun tersebut mulai beraksi. Kini tubuhnya lemas dan tidak sanggup berdiri kembali.


"Kak Nehan." Kirana berlari. Bersama Puteri Padmasari mereka menghampiri lelaki yang telah melindungi mereka.


Pertarungan masih berlangsung di tempat lain. Nindiya berhasil memukul ninja yang kini menggunakan senjata kipas beracun. Nindiya harus menghindari serangan serangan tersebut dengan tangan kosong.


"Perempuan yang cantik. Tetapi sayangnya kau melawan. Seandainya tidak, tentu sangat menyenangkan bukan? Huh..." Keluhnya. Ia kembali menyerang Nindiya. Bergerak dengan sangat cepat bagaikan angin.


Nindiya pun dengan gerakan yang tidak kalah cepat. Bagi orang orang biasa, maka tidak akan melihat mereka dengan kecepatan pertarungan mereka.


Bayu dan indera, bertarung bersama. Mereka bertarung melawan ninja pengendali api. Api kuning terus keluar dari tangan tangan mereka.


"Sial. Mereka merepotkan sekali. Mereka menggunakan api. Senjata yang dilempar pun terbakar juga. Apa kita benar benar melawan manusia?" Keluh indera.


"Kau takut? Ayolah. Kita sudah bisa menghindari serangan serangan itu. Sekarang kita berpikir bagaimana kita harus menyerang."


"Ada saran?"


"Tidak!"

__ADS_1


Jawaban tersebut membuat mereka yakin. Mereka tidak punya ide atau cara untuk memenangkan Pertarungan tersebut.


***


__ADS_2