Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Mengobati Cempaka


__ADS_3

"Kenapa? Kau tidak ingin aku pergi dari sini? Tenanglah ... aku tidak akan lama-lama meninggalkanmu! Aku pastikan kalau aku akan kembali untuk merawatmu!" tukas Nehan. Ia melepaskan genggaman tangannya dari wanita itu.


Meninggalkan seseorang yang tidak mau ditinggalkan, Nehan tidak tahu mengapa rasanya ia sangat dekat dengan wanita itu. Sementara ia berada di disi wanita lain, hanya sebatas menyukai tanpa perasaan ingin memiliki. Dan mengapa wanita itu selalu yang menjadi orang yang menyadarkan atas kegilaannya itu? Ia juga tidak tahu mengapa.


Terlihat Sekar yang masih terikat dan tidak bisa berbuat apapun. Maka Nehan melepaskan tali itu. Walau wanita itu menahan amarah padanya, tabib itu tidak memperdulikannya. Ia malah melemparkan obat yang sudah dibungkus kepada pendekar wanita itu.


"Itu obat untuk adikmu! Kalau kamu mau membuangnya, terserah kamu! Kamu sendiri yang membuat adikmu mati," celetuk Nehan. Karena melihat Sekar yang hampir melemparkan obat itu padanya.


"Huh, kurang ajar! Untung nggak jadi ku lempar!" geram Sekar. "Orang jadi tabib, pelit banget? Orang dari kemarin saja kamu tidak ngasih aku makan. Eh, mau makan saja nggak boleh," imbuhnya dengan kesal.


Nehan tidak perduli dengan perkataan wanita itu. Ia juga belum makan dari kemarin. Namun ia keluar dari rumah tanpa melihat kembali makanan yang sudah berantakan. Ikan bakar di meja tinggal separo dari satu ikan. Yang berarti Sekar telah memakan bagiannya juga.


"Dasar wanita serakah! Numpang di rumah orang saja pakai nawar segala. Kalau begini, nggak mau mengangkat kamu menjadi istriku. Percuma kalau hanya menghabiskan saja!" celetuk Nehan sambil menunjuk ke arah luar rumah dari depan pintu. "Keluar dari rumah! Kita berangkat sekarang!"


Memang rasa bersalah terlintas di dalam pikiran wanita itu. Ia mengambil pedangnya dan membawa obat dari Nehan, keluar dari rumah tabib itu. Setelah keluar, barulah Nehan menutup pintunya. Hari ini mereka akan kembali ke perguruan Bukit Lebah Hitam. Membuat Sekar merasa lega. Walau tubuhnya masih banyak luka akibat serangan tiga pendekar kemarin.


Ketika keluar dari rumah, Nehan mulai bertingkah lagi. Pria itu mengajak Sekar untuk berjalan dengan bergandengan tangan. Nehan juga mengeluarkan kata-kata yang menggoda lagi seperti sebelumnya.


"Angin berhembus, langit cerah, awan menari di atas kepala kita. Mentari datanglah membawa desir-desir mimpi. Melangkah jauh, kaki ini terantuk batu jalanan. Seorang wanita muda yang jelek ini, aku menuntun bukan karena takut jatuh. Tapi karena wanita ini sejatinya butuh tuntunan, bukan tuntutan."

__ADS_1


"Ihh, lepaskan! Dasar gila, kamu! Ihh, amit-amit dituntun oleh si kunyuk seperti kamu ini, ihhh, jijik aku, iihhh," geli Sekar mendengar perkataan dari Nehan. Ia langsung melepaskan pegangan tangan pria itu.


Lalu Nehan berjalan agak berlari. Sekar mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba Nehan semakin berlari kencang lalu melompat dan bergelantungan di dahan pohon. Sekar juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Nehan tanpa sengaja. Ia menyadari kalau dirinya yang mengikuti pemuda gila itu.


"Ah, kenapa aku bisa-bisanya ikut-ikutan seperti kamu, sih?" cetus Sekar dengan nada emosi. Hari ini ia menahan emosi kepada Nehan yang membuatnya merasa kesal.


"Lah, siapa suruh kamu ikutin? Eh, di mana kau buang obatnya? Kau tidak mau adikmu sembuh, hah?" balas Nehan yang melihat Sekar tidak membawa obatnya di tangan.


"Ah, kenapa jadi ikutan gila seperti ini, sih? Kamu masukin apa pada makananku! Hei, kau pasti sudah kasih racun, bukan?" tanya Sekar, melototi Nehan sambil mengacungkan tangannya pada pemuda tersebut.


Nehan tidak perduli dan terus bermain di dahan pohon. Ia lalu melompat ke atas pohon. Karena kebetulan itu adalah pohon jambu biji yang berbuah lebat. Nehan lalu memetik buah jambu biji dan memakannya.


"Itu sudah seperti monyet beneran, hah! Pantas saja, si kunyuk itu gila. Memang si tabib kunyuk tiada obatnya! Hahaha ... hahahaha!" tawa Sekar kian lantang. Membuat burung-burung berterbangan menjauh.


"Burung pun tidak suka dengan suara tawamu, apalagi manusia? Nanti siapa yang mau menikahi wanita serampangan sepertimu, hah?" ejek Nehan. Ia kembali menikmati jambu bijinya. Ia makan sampai habis dengan biji-bijinya.


Sekar mendengus kesal dan menatap lelaki yang di atas pohon itu. Tapi ia juga sudah kehilangan obat untuk Cempaka. Ia lalu mencarinya di rerumputan. Dan ia temukan letaknya jauh dari pohon itu. Sementara pedangnya juga sudah ia lempar saat ia melompat ke dahan pohon untuk bergelantungan seperti monyet.


"Awas saja nanti kau, Nehan. Aku tidak terima dikerjai olehmu! Aku akan membalas apa yang kamu lakukan hari ini!" gertak Sekar sambil menunjuk Nehan kembali.

__ADS_1


"Usah kau menunjuk-nunjuk aku, seakan aku telah berbuat kesalahan terbesar karena menghamili kamu! Tapi aku tidak mau denganmu, walau ku akui, kau memiliki paras yang cantik." Nehan turun dari pohon jambu sambil membawa dua buah jambu. Yang satunya ia berikan pada Sekar.


Walau kesal, wanita itu juga memakan buah jambu yang terasa manis di lidahnya. Sedangkan pedang dan obat yang telah ia pungut di rumput, berada di tangan sebelahnya. Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di mana Nehan harus menutupi matanya dengan kain. Kali ini Nehan juga menutup matanya dengan kain putih, tanpa diperintah oleh siapapun.


Tanpa lama-lama lagi, Sekar membawa Nehan naik ke atas. Dengan bantuan lebah, mereka bisa naik ke atas dan sampailah mereka di dalam lembah yang dihuni oleh para wanita. Mereka turun dengan perlahan dan disambut oleh para murid perguruan.


Setelah mereka turun, Sekar membuka kain penutup mata Nehan. Lalu mereka berjalan menuju ke menara yang berada di tengah. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kamar di mana Cempaka dirawat. Di sana juga ada sang guru yang sedang menggunakan tenaga dalamnya untuk memberi kekuatan pada muridnya.


Melihat tindakan wanita tua itu, Nehan merebut pedang Sekar dengan masih tersarungkan. Lalu ia menghentikan apa yang dilakukan oleh wanita itu dengan pedang itu.


"Dasar bodoh! Kau mau muridmu cepat mati?" celetuk Nehan yang memukul tangan wanita itu. Walau dengan pelan, bisa membuat berhenti.


"Hei, apa yang kau lakukan? Aku sedang berusaha mengobati muridku! Kau kenapa lama sekali? Kau bisa atau tidak, mengobati muridku? Kalau tidak bisa, akan kubunuh saja, kau!" ancam wanita itu kesal.


"Kalian semua, tinggalkan ruangan ini! Sekar, obatnya bawa ke mari!" perintah Nehan dengan tegas. Ia lalu merebut obat itu lalu dengan cekatan ia menggeledahnya. Melalukan pengobatan dengan cara mengoleskan bubuk itu pada bibir gadis itu.


'Hari ini sungguh aku melihat sikap tabib itu yang bisa berubah-ubah. Entah mengapa saat ia serius, terlihat begitu rupawan? Kalau dilihat lagi, dia memang cukup tampan,' pikir Sekar dalam hati sambil menatap wajah Nehan.


"Hei, kalian ambilkan air untuk membuat obatnya bisa ia telan! Cepatlah!" perintah Nehan dengan tegas.

__ADS_1


***


__ADS_2