
Sekar tidak pernah berpikir kalau dia harus diusir oleh Nehan. Ia sangat kesal dan terus menggerutu di sepanjang jalan. Ia menebas setiap yang menghalangi jalannya. Ini sebagai pelampiasan yang ia tunjukan karena sikap Nehan padanya.
"Dasar tabib sialan! Padahal aku sudah membantumu dengan usahaku! Tapi apa yang kamu lakukan? Kalau aku ketemu lagi denganmu, akan kubunuh saja kamu, Nehan!" umpat Sekar dengan nada emosi.
Sudah tidak terhitung lagi berapa pohon yang tumbang karena ulah Sekar. Apalagi pohon-pohon itu adalah pohon yang baru ditanam oleh warga sekitar. Ada beberapa orang yang melihat wanita itu mengamuk dengan pedangnya. Hal itu membuat mereka mengumpulkan orang untuk menangkap orang itu.
"Itu pendekar dari mana? Kok semua pohon ditebangi? Mana ini baru ditanam beberapa bulan yang lalu. Wanita itu meresahkan sekali! Coba kita laporkan pada kepala desa! Biarkan dia ditangkap dan diadili!" ujar seorang warga yang bersama dengan dua lainnya.
"Iya, kamu lebih baik pergi temui kepala desa untuk menangkap wanita itu! Mungkin dia sedang dalam gangguan kejiwaan! Ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut!" ujar yang lainnya, memberi solusi terbaik adalah melapor kepada yang berwajib. Yang nantinya akan diproses dan diserahkan kepada pihak kerajaan. Dan pasti prajurit kerajaan akan menangkap dan mengadili wanita itu.
***
Nehan merawat lukanya sendiri yang mulai membaik. Hari ini ada beberapa orang yang datang untuk mengambil obat kepada Nehan. Karena obat racikan Nehan dikenal mujarab untuk menyembuhkan penyakit dengan cepat, membuat toko obat menaruh kepercayaan pada tabib itu. Hal itu yang membuat Nehan semakin sibuk dan tidak perduli dengan kesehatannya.
"Huh, ini lukaku belum sembuh benar. Tidak bisa pergi ke Alas Igir Randu. Aku harus mencari solusi lain agar mereka tidak kecewa," lirih Nehan sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Pasti organ dalamnya yang merasa perih.
__ADS_1
Nehan mencari-cari obat yang harus disiapkan untuk hari ini. Yang sebentar lagi akan ada orang mengambil obat. Bahkan hari semakin siang dan ia sampai belum makan. Untungnya ia bisa membuatkan bubur untuk wanita yang ia rawat itu. Dengan sabar dan telaten, Nehan merawat semua orang tanpa kecuali. Tapi untuk merawat seorang wanita, hanya pada wanita itu ia merawat seluruh tubuh. Selain dia, ia tidak pernah mau merawat wanita lain. Ia hanya beraninya sekedar memegang tanpa melihat bentuk tubuh secara menyeluruh.
"Ayo, kita harus cepat! Ada banyak orang yang menunggu obatnya! Kita harus cepat ke rumah tabib gila itu! Karena hanya dia yang memiliki banyak jenis obat yang langka dan mujarab." Seorang pria paruh baya membawa orang-orangnya yang menuntun kuda. Ia hari ini harus mengambil obat dari Nehan untuk toko obatnya yang besar.
"Iya, Tuan. Kita akan mempercepatnya. Tuan jangan khawatir, sebelum siang, kita akan segera sampai ke tempat tinggal tabib itu!" balas pelayannya yang mengikuti dari belakang. Ia menuntun kuda yang besar bersamanya.
Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Mengikat kuda yang akan membawa obat-obatan dalam jumlah banyak. Karena sudah dekat dengan rumah Nehan, mereka cukup senang dan masuk ke pekarangan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman obat.
"Oh, kita sudah sampai! Kita masuk saja langsung! Pasti tabib itu sudah menyiapkan obatnya!" ujar sang pemilik toko obat itu.
Nehan menyiapkan obat-obatan itu dengan susah payah dan meletakannya di lantai. Hari ini mereka masuk dan mendapati Nehan belum selesai menyiapkan obat-obatan itu.
"Hei, kenapa obatnya belum siap? Ah, kau sebagai tabib, tidak mematuhi aturanku! Baiklah ... yang sudah disiapkan, angkut semua! Saya tidak punya banyak waktu!" perintah pria paruh baya itu pada bawahannya.
"Maafkan saya, Tuan. Hari ini belum tersedia semua obatnya. Saya berjanji, dalam waktu seminggu, semua obat kekurangannya akan kuberikan," tutur Nehan dengan menahan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Sebagian kecil obat pesanan dari pria itu sudah Nehan gunakan untuk mengobati wanita yang ia tolong. Adapun beberapa yang sudah dihancurkan dan dibakar oleh Sekar. Karena ada cukup banyak obat yang harus Nehan olah. Tapi karena ulah pendekar wanita itu, obat menjadi berkurang cukup banyak.
"Hei, saya aku butuh alasanmu? Pokonya hari ini harus lengkap! Tidak ada toleransi untuk orang rendahan sepertimu! Apa mau saya laporkan kamu kepada kerajaan? Biar saja menggantung kamu hidup-hidup karena tidak memenuhi janjimu! Klien kami sudah menunggu obat racikan mu. Sayang sekali kalau kau sudah tidak bisa menyerahkan obat-obatan itu. Maka kau harus dihukum! Hancurkan dan bakar rumahnya! Dan bawa semua obat-obatan ini terlebih dahulu! Ikat badannya sekarang!" perintah pria itu dengan tegas.
"Baiklah, Tuan. Kami akan mengikatnya sekarang." Walaupun tidak tega melakukannya, para pekerja bawahan itu harus melalukan semua perintah atasannya. Apalagi ini menyinggung keluarga kerajaan. Tentu akan terkena hukuman yang berat.
Pria itu menyeringai senyum kepada Nehan dan melihat orang-orang itu mulai mengikat Nehan. Sementara Nehan sendiri tidak bisa berbuat apapun lagi. Karena menyangkut keluarga bangsawan, tidak mungkin menyinggung atau membela dirinya sendiri. Dan yang membuatnya tidak bisa melawan lainnya adalah dengan luka di perutnya. Jika ia membela dirinya, ia juga tidak mungkin sanggup. Apalagi bawahan pria paruh baya itu adalah sepasang pendekar hebat. Sedikit jebakan yang dibuat Nehan di rumahnya hanyalah jebakan mainan hanya untuk menggertak lawan. Tidak bisa melukai atau menghentikan lawan yang memiliki kanuragan tinggi.
"Bagus, ayo kumpulkan semua obat-obatannya! Dasar tidak berguna, lihat saja nanti, kau akan menerima akibatnya karena melawan hukum." Pria itu dengan sombongnya menyentuh dagu Nehan dan menyeringai jahat pada tabib itu.
"Heh, hehehehe," kekeh Nehan. Ia sudah merasakan sakit tapi ia tahu betul, dirinya tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini. "Kalau kau membunuhku, bagaimana kau akan mendapat obat-obatan ini lagi, hemm?"
"Kamu tidak akan tahu, saya adalah orang yang sangat terpengaruh dalam dunia medis. Selain itu, tidak ada yang bisa mengalahkan ilmu pengobatan yang ku pelajari selama ini. Mungkin tidak mau mencari obat dari orang lain. Tapi saya punya resep obat milikmu, hemm? Bagaimana aku bisa berbisnis tanpamu? Huahahaha! Kau tak akan tahu itu, saya sudah tahu semua resep rahasiamu!"
"Heh, seharusnya kau malu pada dirimu sendiri. Walau resep yang kugunakan itu tidak rahasia pun, tidak akan bisa sama dengan kualitas obat yang kuracik. Kau harus tahu, hanya aku yang bisa membuat obat itu tanpa kesalahan," pungkas Nehan dengan senyuman mengejek.
__ADS_1
***