Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 30 Tabib Terhebat


__ADS_3

Chapt 30


"Ada apa dengan pedang itu?" Bayu bertanya karena memang pedang tersebut pun sama misteriusnya dengan Nehan.


"Entahlah. Aku pernah mendengar, pedang itu hanya bisa dipakai olehnya. Jika orang lain menggunakan pedang itu, maka semua tenaga dalamnya akan habis. Bahkan, untuk mengangkat pedang itu?" Tabib tersebut tidak melanjutkan ucapannya.


"Tetapi pedang itu sangat berat. Kami tidak bisa mengangkatnya." Aku Bayu. Indera pun membenarkan ucapannya dengan mengangguk.


"Yah tentu saja. Setidaknya, berat pedang itu, sama saja dengan berat lima ekor gajah. Tetapi aku tidak tahu. Bagaimana Nehan bisa mengangkatnya. Kalian lihat sendiri bukan? Badannya saja tidak seperti orang yang mampu mengangkat berat. Dan aku bisa melihat, tubuhnya itu sama dengan orang biasa. Tidak seperti kalian. Kalian itu pendekar hebat. Badan kalian pun bagus. Kalian pun memiliki kekuatan mengendalikan elemen." Tunjukknya pada kedua pemuda tersebut.


"Bagaimana anda bisa tahu?" Keduanya saling pandang. Berati benar, mereka kini berada di depan seorang legenda.


"Kau yang bernama Bayu, kau menggunakan elemen angin. Walaupun kau bisa,menggunakan elemen lainnya. Tetapi yang paling menonjol adalah elemen angin." Menunjuk ke arah Bayu.

__ADS_1


"Dan kau indera. Kau memiliki elemen cahaya dan api. Tetapi kau jarang menggunakannya. Kau lebih mempertajam kelima inderamu. Tetapi kau sebenarnya memiliki tujuh indera di dalam tubuhmu." Menatap imdera yang nampak berpikir.


"Wah. Anda sungguh hebat." Ucap indera. Sejenak meletakan telunjuknya di kepalanya.


"Tuan tabib. Anda sungguh bisa melihatnya?" Tanya Bayu.


"Tentu. Aku ini memiliki kehebatan yang luar biasa. Dan aku juga tahu guru kalian. Dilihat dari pakaian kalian, pasti dari perguruan pedang dewa." Sang tabib tersenyum.


Selain seorang tabib yang hebat, ia juga adalah salah satu pendekar senior yang kehebatannya luar biasa. Namun karena ia lebih memilih untuk menjadi tabib, maka ilmu pengobatannya adalah yang terbaik. Seorang tabib yang bernama Dewandaru. Seorang tabib yang begitu melegenda, karena sangat sulit untuk menemukannya. Ia bersembunyi dari dunia persilatan.


Desa Guntur. Sebuah desa yang letaknya di sebuah perbukitan yang letaknya jauh dari desa desa lain. Akan sulit untuk menemukan desa ini, karena sejauh mata memandang, hanya akan melihat rimbunan hutan.


Desa yang sulit ditemukan. Bahkan pendekar pendekar sakti pun tidak banyak yang mengetahuinya. Hanya penduduk asli saja yang mengetahui arah hilir mudik desa itu. Jarang sekali orang yang mampu masuk ke desa Guntur.

__ADS_1


Hanya keberuntungan atau kebetulan, seseorang atau orang orang bisa memasuki desa tersebut. Dan inilah dialami oleh putri Padmasari dan rombongannya yang membawa Raditya yang terluka.


Dan untuk Nehan dan Gayatri, termasuk warga desa Guntur sekarang. Tentu jalan masuk desa dengan singkat waktu bisa melaluinya hanya setengah lima atau enam jam perjalanan dari desa Banyuasih. Mereka hanya menyewa kuda dari desa Papringan untuk mempercepat perjalanan.


Sekilas desa Guntur hampir sama dengan denhan desa Banyuasih. Tenram dan masih banyak pepohonan. Air bening yang mengalir dan banyak ikan ikan berenang dengan bebas. Desa itu makmur berkecukupan. Walau hanya ada beberapa pendekar, tidak mudah jika para perampok atau penjarah mengambil harta mereka. Karena pendekar terhebat di desa Guntur termasuk sepuluh besar pendekar terhebat di dalam dunia persilatan.


Saat sumber daya melimpah, penduduk desa akan pergi ke desa lain dengan menggunakan kereta kudanya. Membawa sumber daya yang melimpah untuk dijual atau ditukarkan dengan barang barang yang tidak bisa dihasilkan di desa tersebut.


"Wah desa ini sangat indah." Nindiya kagum setelah mendengar cerita tentang desa ini.


"Yah tentu. Ini kan desaku." Nehan memeluk Nindiya.


Saat ini, mereka tengah berada di sebuah bangunan tinggi. Sebuah rumah panggung dari bambu. Mereka tengah menatap rumah rumah tersebut. Rindangnya pepohonan yang masih asri. Bintang bintang bertaburan di langit. Udara dingin namun tidak terlalu terasa. Mereka kini menggunakan pakaian tebal.

__ADS_1


***


__ADS_2