
Nindiya berlari dengan kecepatan tinggi. Ia sampai di sebuah rumah yang berada di ujung desa Banyuasih. Tepatnya, rumah tersebut berada di pinggir tebing yang tinggi.
Rumah yang kokoh, berdiri dengan kesederhanaannya. Karena rumah tersebut, adalah rumah yang terbuat dari kayu jati dan beratapkan daun Alang Alang yang disekat.
Ia tinggal bersama seorang kakek tua yang kini sedang berada di belakang rumah. Nindiya pun segera menuju ke belakang rumah untuk menemuinya. Ia pun melewati pintu depan. Lalu ia menuju dapur, dan kini terlihat seorang kakek tua yang dipanggil kakek tersebut.
Mahadri. Adalah seorang pendekar sepuh yang telah mengajarkan Daniswara dan Ubhaya ilmu-ilmu persilatan. Hingga akhirnya mereka menjadi pendekar hebat. Kini, Mahadri hidup bersama anaknya Daniswara, karena suatu hal yang membuat Nindiya harus diasuhnya.
Kini usia Nindiya sudah dua puluh tahun. Ia telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, dan jago dalam seni bela diri. Seperti ayahnya, Daniswara, Nindiya dibekali dengan fisik dan tenaga dalam yang luar biasa. Sehingga Mahadri berhasil mewariskan ilmu-ilmu Kanuragan kepada Nindiya.
Saat melihat Nindiya, Mahadri tersenyum, sambil mengingat kejadian lima belas tahun lalu. Ia membayangkan wajah imut Nindiya saat berumur lima tahun. Ia menangis di pelukan Mahadri saat itu. Seorang gadis mungil yang lucu, kini telah tumbuh dewasa.
"Nindiya ... Kamu sudah pulang?" suara Mahadri yang membuat Nindiya tahu, kakeknya memang ada di belakang rumah.
"Iya kakek." Jawab Nindiya yang menghampiri sang kakek.
Saat ini Nindiya berada di belakang rumah. Melihat pria tua tengah duduk sambil makan singkong rebus. Nindiya yang melihatnya langsung mencomot singkong rebus yang ada di piring.
"Dasar anak nakal!" ucap sang kakek, sambil memegang tangan Nindiya.
"Ehh ... kek, aku kan lapar...." Ungkap Nindiya yang memang dari pagi belum terisi makanan.
"Kalau lapar, ya nanam singkong sendiri, ambil sendiri di kebun, masak sendiri." jawab sang kakek sambil merebut singkong rebus tersebut, lalu memasukannya ke dalam mulut.
"Lha kakek pelit," wajah Nindiya langsung cemberut karena ia tidak boleh ikut makan.
"Biarin, wee ...."
Namun Nindiya merebut piring yang masih ada singkong rebusnya. Dan kini menjadi rebutan keduanya. Sang kakek menendang tangan Nindiya. Membuat singkong itu berhamburan ke atas.
"Kakek pelit." Lalu Nindiya mencoba merebutnya kembali.
"Ohhh... beraninya mengambil makananku."
Mereka saling berebut singkong rebus yang berhamburan. Dan ketika Nindiya menangkap salah satu, dengan sigap sang kakek menangkisnya. Dan kembali melayang ke atas.
Seperti adegan slow motion. Gerakannya terlihat lambat. Singkong-singkong itu terjatuh perlahan. Mereka beradu beberapa jurus untuk mendapatkan singkong rebus tersebut.
Saat kedua tangan mereka sedang melakukan serangan, mulut Nindiya pun ikut campur dan berhasil menggigit salah satu singkong rebus tersebut.
"Sial, anak ini licik sekali!" umpat Mahadri sambil tersenyum. Karena ia tahu, kemampuan Nindiya sudah banyak berkembang.
Ia mengambil piring dan menangkap semua singkong yang tersisa. Lalu menaruhnya di lincak. Sang kakek kembali duduk. Dan...
"Uhukk!" Nindiya tersedak karena makan sambil berdiri.
"Rasain. Makanya jadi anak jangan asal nyelonong makanan orang!" Mahadri hanya mengambil singkong yang ada di piring.
__ADS_1
"Uhuk uhhuukk ... lapar kek." Ucapan polos dari Nindiya, membuat Mahadri tidak tega. Ia membiarkan Nindiya agar menghabiskan makanannya.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanyanya setelah Nindiya tidak tersedak lagi.
"Dari sungai kek."
"Gimana. Sudah dapat suami?"
"Belum kek. Ternyata memancing suami itu membosankan. Masa udah dua Minggu nggak dapat dapat." Jawab Nindiya polos. Ia menyunggingkan senyum pada sang kakek.
"Huh, cucuku ini ... Begitu polosnya." Lirih sang kakek.
"Ehh ... Apa kek?"
"Enggak. Cepat makan! Nanti setelah ini kamu harus ambil air di sungai!" perintah Mahadri.
"Iya kek." dengan tangan mungilnya ia mengambil singkong rebusnya lagi.
Sang kakek memandang langit biru yang cerah. Ia menyunggingkan senyum lalu berdiri. Setelah melihat Nindiya yang sedang makan dengan lahapnya, singkong rebus adalah makanan kesukaan Nindiya sejak kecil.
"Tak kusangka, aku telah merawat seorang gadis mungil dulunya. Sekarang tumbuh menjadi gadis yang berparas cantik. Seperti ibunya, kuharap kalian tenang di alam sana. Daniswara, Arini. Gadismu ini sangat cantik. Andaikan kau melihat tumbuhnya. Semoga hidupnya bahagia dan mendapatkan pria yang baik," gumam Mahadri menerawang ke atas langit.
"Kek." Ia memandang sang kakek yang tersenyum melihat ke arahnya.
"Iya?!" jawab Mahadri.
"Makan lagi kek?" Nindiya menyodorkan piring berisi singkong rebus yang tinggal setengahnya.
"Uhh ... kakek. Aku kan udah besar."
"Oh iya?! kamu udah besar. Jadi lupa ...,"
"Hahaha .... Lihat dirimu. Pipimu tembem seperti itu. Kamu makannya banyak."
"Kakek ..." malu lagi.
"Nindiya! Kamu udah dewasa. Mungkin saat ini kamu sudah pantas untuk menikah. Tapi saat ini, kakek belum mencarikan calon suami untukmu."
"Kakek ... kan Nindiya lagi usaha."
"Usaha apa?"
"Memancing suami. Kakek jangan kuatir. Mungkin besok aku akan dapat."
"Gadis bodoh... Sebegitu polosnya kah dirimu ... Sebenarnya siapa yang mengajarimu memancing suami?" tanya Mahadri heran. Karena dirinya tidak pernah mengajarinya.
"Lha kakek nggak tahu? Dulu kan kakek mengajak Nindiya ke desa Kedung Sewu. Disana aku denger mereka ngomong mau mancing isteri dengan uang."
__ADS_1
"Apa yang dikatakannya?" tanyanya penuh perhatian, melihat kelucuan Nindiya.
"Mereka ngomong 'kalau ingin isteri, harus memancing. Mancingnya harus pakai uang.' gitu kek. Aku kan perempuan. Jadi, aku yang mancing suami. Betul kan kek?"
"Dasar bocah. Apa kamu tidak paham maksud yang dikatakan orang itu?"
"Memangnya kenapa kek? aku salah ya?" berhenti mengunyah singkong rebus karena sudah habis.
"Duh ... soal makan kamu jagonya. Tapi soal yang seperti ini, sepertinya kamu terlalu polos."
"Apanya kek?" Nindiya nampak bingung apa yang diucapkan sang kakek.
"Sudahlah nak. Ini mungkin salahku juga. Kita hanya tinggal berdua di sini. Mungkin kakek tidak mendidikmu dengan benar. Maafkan kakek nak." ucapnya penuh penyesalan.
"Kek?!" malah ia semakin tidak maksud.
"Karena kepolosanmu, aku jadi khawatir. Maafkan orang tua ini nak. Aku tidak memperhatinmu. Aku hanya fokus mengajarimu tentang bertarung. Tidak dengan ilmu lainnya." gumam Mahadri pelan.
Karena lingkungannya yang hanya beberapa kali bertemu dengan orang orang luar, ia jadi kurang bersosialisasi dengan orang orang diluar sana.
"Apa kamu benar ingin punya suami?" tanya sang kakek.
"Iya kek. Nanti kalau aku punya suami, kan jadi ada temen. Terus Nindiya punya anak, seperti ayah dan ibu." saat mengingat ayah dan ibunya, Nindiya menjadi murung.
"Maafkan kakekmu ini nak."
"Kakek kenapa? kan kakek nggak salah apa-apa. Kenapa minta maaf terus?" ia semakin bingung dengan sikap kakeknya yang merasa bersalah terus.
"Tidak. Tidak apa-apa. Baiklah, sebaiknya kakek carikan calon suami yang baik. Yang mau mendidikmu dengan benar, agar kau menjadi seorang isteri yang baik."
"Kakek tenang saja. Aku sendiri yang akan mencarinya. Besok aku akan memancing lagi. Semoga besok dapat yah kek!" janji Nindiya sambil menggenggam erat kepalan tangannya.
"Nindiya?" ia mengusap rambut Nindiya yang panjang.
"Iya kek?" balasnya.
"Maafkan kakek nak." Sekian kalinya, Mahadri meminta permintaan maaf.
"Udah aku bilang, kakek nggak salah apa-apa. Kok minta maaf? aku yang salah tadi. Yang merebut singkong kakek. Maaf ya kek. Nindi janji, nggak akan merebut makanan kakek lagi." Ucap Nindiya tulus.
"Bukan itu nak."
"Kek ... Maaf kek. Nindi yang salah."
"Sudahlah. Nak... Kamu ambil air ke sungai."
"Iya kek."
__ADS_1
Nindiya menatap sekilas wajah kakeknya yang keriput. Pria tua yang selama ini menjaganya dan mengajarkan kebaikan. Yang telah menggantikan peran kedua orang tuanya. Ia beruntung memiliki seseorang yang senantiasa menjaga dan merawatnya dengan baik. Seperti anak kandungnya sendiri.
***