
Pagi yang begitu cerah untuk memulai aktifitas seru serta menarik. Bagi Nehan, setiap pagi adalah harapan baru. Untuk membuat hidupnya yang baru dan warna yang baru. Ia bangun di samping wanita itu semalam. Saat ia baru bangun, wanita itu dari tadi sudah bangun. Hanya saja ia tidak banyak bergerak.
Nehan melihat wanita itu sejenak. Lalu ia berkata, "Kamu sudah bangun, rupanya. Kalau kamu sudah bangun di pagi buta begini, kamu tidak akan melihat cahaya yang masuk ke ruangan. Hemm, siapa tahu aku bisa menemukan tanaman obat yang bisa mempercepat penyembuhan matamu. Tapi hari ini aku harus pergi."
Nehan menyelimuti wanita itu agar menutupi jika ada lalat atau apapun itu. Walaupun di rumah Nehan tidak mungkin ada lalat atau nyamuk. Ia lalu meninggalkan wanita yang tidak bisa bergerak dengan leluasa itu. Memasak di pagi hari adalah aktifitas setiap pagi. Kali ini ia lebih cepat untuk memberi makan. Karena ia harus segera pergi ke perguruan Bukit Lebah Hitam.
Semalaman Sekar tidak diberi makan oleh Nehan. Ia pun tidak bisa tidur semalaman, sakit perut menahan lapar. Saat mencium aroma makanan, membuatnya terbangun dan langsung bangun dari tempat tidur.
"Ohh, apakah ada makanan? Harum sekali ... rasanya ini akan sangat enak, bukan?" Ia langsung meraih pedangnya lalu keluar dari kamar itu.
Memang benar, Nehan sudah selesai memasak. Porsi masakannya juga cukup untuk tiga orang. Ia sudah menyiapkan dua piring berisi nasi dan satu mangkok berisi bubur yang lembut. Setelah Nehan selesai membuat makanan, ia masuk kembali ke kamar wanita yang terbungkus kain putih itu.
Sementara Sekar sudah sampai di meja makan, melihat dua piring berisi nasi. Ia ambil salah satunya. Ada lauk yang berupa sayuran dan ikan bakar. Aroma ikan bakar menggoda penciuman Sekar. Setelah menyandarkan pedang di kursi yang ia duduki, langsung saja ia mengambil piring berisi nasi itu.
"Dia hanya seorang tabib, atau seorang juru masak? Kenapa ada makanan seharum dan sewangi ini di rumah seorang tabib?" Ia mengambil ikan bakar itu dan terasa begitu nikmat, memanjakan lidahnya yang kelaparan.
Nehan duduk di tempat tidur, di mana seorang wanita terbaring tanpa bisa bergerak dengan leluasa. Ia mungkin bisa menggerakkan jarinya sedikit. Tapi ia tidak leluasa karena perban yang tebal itu menghalangi ruang geraknya.
__ADS_1
"Oh, pagi ini aku harus pergi ke tempat aneh itu lagi. Semoga kamu baik-baik saja di sini. Bagaimana kalau aku suapin kamu dengan suapan cinta dariku? Ayo, buka mulutnya! Aku kasih kamu makan pagi ini. Entah nanti siang, kamu bisa makan atau tidak."
Nehan lalu mencoba menyuapi wanita itu. Namun hanya ada penolakan yang ia terima. Nehan mencium bau yang menyengat dan langsung menutup hidungnya. Ia lalu meletakan makanan itu di meja.
"Ah, kau sudah buang air rupanya? Kenapa kamu selalu membuatku repot? Setelah kau sembuh, aku akan meminta bayaran yang sangat tinggi! Kalau kau orang miskin, aku akan menjadikan kau pengikutku! Kau harus membantuku untuk menjadi seorang asisten tabib seumur hidupmu!"
Karena merasa tidak tega, Nehan membersihkan kotoran itu dari kamar. Tidak ingin wanita itu tidak nyaman juga. Dengan segenap hati, tabib yang saat sedang dalam keadaan normal itu pun bekerja dengan baik.
Membiarkan seseorang tinggal di rumahnya, seharusnya ia memasang kewaspadaan lebih. Apalagi jika itu adalah seorang pendekar. Begitu juga dengan yang dialami oleh Sekar ketika ia akan mengambil satu piring nasi lagi. Ia tiba-tiba mendapatkan serangan yang mengarah kepadanya.
"Ah, sial! Ini apa-apaan?" Ia tidak sempat menghindar ketika ia terkena serangan dari arah yang tidak terduga. Kini tubuhnya tidak bisa bergerak karena terikat oleh tali. "Dasar tabib gila sialan!" teriaknya dengan keras.
Nehan sudah selesai membersihkan kotoran dan bukan hanya buang air besar. Wanita itu juga buang air kecil. Membuatnya harus membersihkannya juga. Setelah selesai, ia lalu meninggalkan kamar untuk membuang kotoran itu. Di meja makan, terlihat Sekar yang sudah ada di atas meja dengan tangan dan kaki yang terikat.
Sekar tidak sempat mengambil pedangnya ketika tiba-tiba tali melesat dan mengikat dirinya. Ia menatap Nehan dengan kesal karena jebakan pria itu membuatnya malu. Sebagai seorang pendekar wanita, ia tidak bisa berbuat apapun terhadap Nehan yang sekarang dalam keadaan normal. Tidak seperti kemarin.
"Heh, kenapa pria itu terlihat lebih normal dari yang kemarin? Ah, palingan dia hanya gila sementara. Atau memang dia pura-pura jadi orang gila? Mungkin karena menyembunyikan wanita sakit itu. Atau gimana? Ahhh! Nehan gila! Tabib kurang ajar! Awas nanti, kalau aku sudah bisa lepas dari ini semua! Nehan, lepaskan!"
__ADS_1
Tabib itu selesai membuang kotoran dan bekas kencing wanita yang ia rawat itu. Setelah itu, Nehan mencuci tangannya untuk membuang sisa-sisa kotoran. Saat masuk kembali ke dalam, terdengar Sekar yang berteriak minta dilepaskan. Namun hanya tatapan sinis dari Nehan.
"Ini adalah jebakan untuk si serakah seperti kamu! Kalau kau tidak bisa merubah sikap yang serakah itu, kau tidak akan kulepaskan!" Nehan lalu meninggalkan Sekar begitu saja.
Pemuda itu kembali ke kamar untuk menyuapi orang yang ia rawat. Ia dengan telaten menyuapkan bubur itu sampai habis. Wanita itu meneteskan air matanya dan merembes ke kain. Membuat Nehan tahu kalau wanita itu menangis.
"Kenapa kau menangis? Apakah kau tidak nyaman hidup seperti ini, hemm? Tentu kamu tidak akan nyaman. Karena hidupmu ini sangat mengerikan. Tubuhmu hampir gosong semuanya. Untung saja hanya kulitmu saja yang gosong. Kalau sampai organ dalammu yang gosong, aku tidak bisa selamatkan kamu."
Nehan membersihkan mulut wanita itu dari sisa bubur. Masih terlihat bibir itu yang sedikit gosong dan mengelupas. Karena kulit itu akan tergantikan oleh kulit baru yang halus. Hanya perlu waktu yang akan membuktikan kebenaran dari pengobatan Nehan.
"Sepertinya kulit bibirmu akan menjadi warna pink yang menggoda. Bibirmu kenapa begitu kecil? Tapi aku suka dengan wanita yang memiliki bibir yang imut seperti ini, hemm. Kamu harus sendiri untuk beberapa waktu. Entah kapan aku akan pulang dan kuharap kau bisa menahan haus dan lapar ketika aku tidak pulang sebelum siang hari."
Mendengar Nehan yang begitu perduli padanya, wanita itu kembali meneteskan air matanya. Walau itu terasa perih karena setiap air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Kenapa kau menangis? Wanita kuat seperti kamu, harus hidup dengan baik. Oh, aku lupa kalau kamu begitu rapuh. Eh, aku tidak tahu bagaimana kamu menjalani hidup sebelumnya. Tapi kurasa kau harus segera hidup dengan damai bersama orang yang kau sayangi. Kau harus tetap jalani hidupmu! Jangan sampai kau putus asa! Semoga kau bisa cepat sembuh! Aku pergi sekarang, yah!"
Nehan berniat pergi dari sisi wanita itu. Namun wanita itu meraih tangan Nehan. Ia tidak ingin Nehan pergi dari sisinya. Wanita itu tidak bisa tahu di mana Nehan karena matanya tertutup. Tapi telinganya bisa tahu dan mendengar letak keberadaan tabib muda itu.
__ADS_1
***