
Chapt 42
Kinanti tidak berani mengatakan kebenarannya. Ia merasa isteri Kurasenta berbeda dengan Kurasenta sendiri. Dimana isteri Kurasenta terlihat sebagai wanita yang lembut. Baik hati dan penyayang. Berbeda dengan Kurasenta yang berdarah dingin. Mungkin kasih sayang pun tidak punya.
Kinanti tidak tahu jika Kurasenta memiliki cinta dan kasih sayang. Karena ia memang tidak peduli dengan orang lain. Ia hanya peduli kepada wanita yang selalu menjadi prioritasnya. Seorang isteri yang dicintai dan disayanginya.
"Maafkan suamiku Kinanti. Dia sebenarnya orang yang baik. Mungkin kami hanya ingin mempunyai seorang Puteri. Makanya Kurasenta membawamu kemari. Aku tanya ke kamu. Apa kau masih memiliki orang tua?" Mirah menatap gadis itu dengan seksama.
"Tidak." Jawabnya.
Kinanti memang tidak memiliki orang tua. Kedua orang tuanya yang dibunuh oleh murid dari perguruan Gendani Ireng tanpa sepengetahuannya. Dan Kinanti diangkat sebagai murid. Tetapi kini ia harus berakhir di sini. Dalam genggaman Kurasenta dan isterinya.
"Baiklah. Bagaimana jika kau menjadi puteriku sekarang? Aku sering sendirian saat suamiku pergi. Mungkin ada murid murid yang akan menemaniku. Tetapi mereka semua lelaki. Aku tidak mau ditemani mereka. Aku ingin ditemani oleh seorang gadis sepertimu. Kuharap kau akan betah di sini." Mirah harus memastikan. Kinanti harus jadi anak angkatnya.
"Baik."
"Syukurlah. Akhirnya aku memiliki seorang gadis yang menemani. Jika kau ingin menikah, kau boleh memilih salah satu dari murid kami. Atau kau bebas memilih siapapun. Tetapi kau harus selalu menemaniku." Mirah tersenyum. Ia juga tidak akan membatasi Kinanti dengan sebuah hubungan asmara.
__ADS_1
Bagi Mirah, hubungan asmara adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Seperti dirinya yang dahulu yang berjuang demi bisa bersama Kurasenta. Dahulu, Mirah adalah anak seorang tabib terkenal bernama Dewandaru. Yah ini ada hubungannya dengan guru Nehan tersebut. Mirah berasal dari desa Guntur. Dan ia harus meninggalkan desa demi orang yang di cintainya.
Dua puluh tahun lalu, ia bertemu Kurasenta saat mereka sama sama berada di desa Papringan. Sebuah desa yang menjadi pusat pertemuan pendekar. Desa itu tidak terlalu jauh dari desa Banyuasih. Desa itu pula yang paling dekat dengan desa Guntur. Saat mereka berpapasan di pasar dan saat itu Kurasenta mengalami luka yang sangat parah. Mirah membantu untuk mengobatinya. Karena saat itu, ia tidak sengaja menemukannya terbujur kaku tak jauh dari arena pertarungan.
Pertemuan pertama mereka saling kenal dan bibit bibit cinta mereka telah tumbuh. Mirah yang selalu datang ke desa Papringan dengan alasan menjual obat obatan, sebenarnya hanya ingin bertemu Kurasenta. Saat itu Kurasenta pun berjanji akan bertemu dengan Mirah setiap minggunya.
Karena setiap minggunya mereka saling bertemu. Dewandaru mulai curiga dengan puterinya yang selalu senang setelah ke desa Papringan. Akhirnya Dewandaru mengetahui hubungan Mirah dengan Kurasenta.
Dewandaru yang emosi karena puterinya berhubungan dengan pendekar aliran hitam tersebut, akhirnya melarang Mirah untuk menjual obat obatan ke desa itu. Dan ia yang akan menjual obat obatnya sendiri.
Dan yang namanya cinta itu buta. Pada akhirnya Mirah nekat menemui Kurasenta. Dan mereka pun memutuskan untuk menikah. Tentu saja Dewandaru murka. Ia berusaha memisahkan puterinya dengan Kurasenta. Hingga akhirnya Kurasenta membawa Mirah ke dalam perguruan Golok darah.
Mirah masih mengingat ayahnya yang hingga kini tidak merestui hubungannya dengan Kurasenta. Ia tentu ingin bertemu dengan ayahnya itu. Tetapi ia tidak bisa. Ia terlalu takut untuk pulang. Maka ia berlatih bela diri di perguruan Golok darah tersebut.
Mirah harus puas menjadi guru tingkat tiga. Ini adalah bakat yang menakjubkan. Mengingat ia adalah seorang tabib. Ia mulai belajar bela diri dari nol. Untuk mengalahkan dua puluh murid senior, ia harus berlatih hingga sepuluh tahun lamanya.
***
__ADS_1
Ayo Kinanti. Kita makan bersama. Ajak ayahmu ke dalam." Mirah telah selesai masak.
"Ia Bu." Kinanti menghampiri Kurasenta dengan perasaan takut.
Dengan hati hati, ia menghampiri Kurasenta yang berada di kursi depan rumah. Ia sedang mengasah goloknya yang berukuran besar. Dengan gagang berwarna merah.
"Tuan." Panggilnya. Kinanti menunggu respon Kurasenta yang belum menjawabnya beberapa saat.
"Kau jangan panggil aku tuan. Kau anak angkatku sekarang." Kurasenta berhenti sejenak. Ia menatap Kinanti yang merasa takut kepadanya.
"Ayah?" Akhirnya Kinanti menyebut panggilan itu. Walau ia masih merasa takut.
"Ada apa hmmm?" Ia kembali ke goloknya.
"Ibu menyuruhku untuk mengajak ayah makan." Ia mengatan itu dengan menundukkan kepala.
"Baiklah. Aku akan selesai sebentar lagi. Kau bilang ibumu. Aku akan segera bergabung." Kurasenta tanpa menoleh ke arah Kinanti. Ia masih sibuk dengan goloknya.
__ADS_1
"Baik." Kinanti masuk ke dalam.
***