
Mereka yang terlalu bahagia karena mendapatkan makanan yang berlimpah di pinggiran sungai tersebut. Dengan keahlian mereka mengolah bahan-bahan makanan menjadi makanan siap saji. Karena mereka sudah terbiasa di perguruan mereka, biasa memasak sendiri sendiri.
"Kurasa ada yang terlihat bahagia hari ini?" ungkap Bayu sesekali melihat Raditya yang senyum-senyum sendiri.
"Sudahlah Bayu, mungkin dia sedang memikirkan gadis gila itu. Hahaha!" tawa Indera yang disahuti oleh Raditya.
"Dasar kalian teman sok tahu. Siapa juga yang memikirkan gadis gila itu?!" belanya untuk menyembunyikan kecurigaan kedua temannya itu.
Namun tetap saja, kedua teman Raditya tetap menggoda Raditya yang terlihat malu untuk mengakuinya. Kalau boleh jujur, Raditya memang menyukai Nindiya pada pandangan pertama. Selain karena kecantikan wajahnya, dia juga terlihat baik juga polos. Walaupun ia adalah gadis bodoh yang berada di hutan. Dan memancing suami dengan koin emas di sungai.
"Hehehe ... lucu." Gumamnya sesekali menerawang jauh kesana. Membayangkan sikapnya yang tidak seperti kebanyakan perempuan.
"Apanya yang lucu woiy!" teriak Indera mengagetkan Raditya.
"Ehh! kau mengagetkanku saja!" ungkap Raditya dengan nada tinggi.
"Sudah, sudah. Ini ikannya sudah matang. Lebih baik kita makan dulu. Kita kan ada tugas menanti," lerai Bayu pada kedua sahabatnya yang becanda. Tetapi ini bukanlah waktunya becanda. Karena tugas penting menunggu mereka bertiga.
Mereka menikmati makanan dengan sesekali melihat hamparan sungai yang jernih. Banyak ikan ikan berenang dengan bebasnya. Seperti tempat yang belum terjamah manusia. Yah inilah yang mereka sebut dengan desa Banyuasih.
Sebuah desa besar yang memiliki keindahan sungai yang jernih, serta kearifan alamnya. Memiliki luas yang menakjubkan. Sehingga pantas disebut desa terluas di kerajaan Lokapraja.
Banyuasih. Sebuah desa yang makmur, sebelum kejadian lima belas tahun lalu, desa ini diserang oleh para pendekar aliran hitam. Membuat semua penduduknya tewas. Dan kini desa Banyuasih hanya menjadi hutan. Dan sejak lima belas tahun lalu, tidak ada yang pernah tinggal di desa.
Dulu desa yang sangat makmur dan rakyatnya damai, ketika seorang pahlawan bernama Daniswara yang membela mati-matian, para penduduk desa. Tapi kini tidak ada lagi senyuman di desa Banyuasih. Desa Banyuasih, hanya menjadi kenangan bagi yang mengenangnya. Namun siapa yang akan mengenang desa tersebut, ketika semua penduduknya telah menjadi abu setelah peristiwa itu terjadi?
Tidak ada saksi atas terjadinya pembantaian penduduk desa Banyuasih yang begitu luas. Termasuk tiga pemuda yang saat ini sedang menikmati hasil dari masakan mereka, yaitu ikan bakar dan ubi bakar. Mereka saat itu, masih belajar di perguruan Pedang Dewa. Itu sebabnya mereka tidak diijinkan, bahkan mereka tidak tahu adanya penyerangan desa Banyuasih. Walaupun letak perguruan pedang dewa berada di atas bukit. Tepatnya, masih satu wilayah dengan desa Banyuasih.
__ADS_1
"Sebaiknya kita cepat pergi, hari sudah siang. Tapi kita baru turun dari bukit. Sebaiknya kita keluar dari hutan ini." Ajak Raditya kepada kedua rekannya.
"Sebaiknya memang begitu. Tapi anehnya, mengapa di hutan ini masih ada orang? Mungkinkan ada orang orang yang masih selamat lima belas tahun lalu? Bukankah kata guru?" ucap Bayu bertanya-tanya, namun kedua temannya pun sama tidak tahu menahu soal itu.
"Yah mungkin itu pendatang. Seperti kita kan bukan berasal dari desa ini. Tetapi kita berguru di desa ini. Bukankah itu jadi kemungkinan terbesarya?" balas Indera berpendapat.
"Yah mungkin. Tapi kata guru, tidak ada yang mau tinggal di desa ini. Kecuali murid 'Pedang Dewa'."
"Yah mungkin ia juga ingin masuk perguruan, atau jangan jangan."
Ketiganya saling menatap. Berharap itu bukanlah sesuatu yang buruk yang akan terjadi nantinya. Tidak mungkin kan, kalau orang yang masih berada di desa Banyuasih adalah sosok hantu? Tetapi tidak mungkin. Karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Kalau gadis yang mereka temui, berjalan diatas tanah. Ia tidak melayang seperti hantu-hantu yang diceritakan para orang tua mereka.
"Tidak mungkin kalau dia hantu kan?" tanya Indera pada kedua sahabatnya.
"Ngawur aja kamu .... Sebaiknya, kita harus hati-hati. Mungkin penduduk desa, arwah mereka masih bergentayangan di daerah sini."
"Kalau kalian ngomong terus, kapan kita sampainya?" karena mereka terus bicara, Raditya mengingatkan Bayu dan Indera.
Untuk alasan-alasan lainnya, mungkin ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Entah apapun itu, tetapi yang jelas, mereka saat ini belum mengetahui apa kemungkinan tersebut.
Mereka bertiga berjalan sambil membahas tentang seorang gadis yang mereka temui barusan. Semakin jauh mereka, semakin meninggalkan hutan tersebut. Mereka akhirnya sampai di suatu tempat lain, yang terlihat ada beberapa perumahan.
Mereka segera mencari-cari seseorang yang telah membuat janji dengan mereka. Bayu dan Indera menanyai setiap penduduk yang berada di desa Papringan. Mereka pun melihat para pendekar-pendekar hebat. Seperti seorang wanita yang sedang menikmati makanan bersama seorang pemuda yang membawa sesuatu di gendongnya, tetapi terbungkus kain.
Ada pula para pendekar yang sedang membicarakan soal pusaka yang di gadang-gadang sebagai pusaka yang memiliki kekuatan magis yang maha dahsyat.
"Sebaiknya, kita tidak perlu berurusan dengan mereka. Meskipun ada kemungkinan kita menang, tetapi kita tidak boleh gegabah. Anggap saja, kita tidak melihat mereka." Raditya membisikannya pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Iya. Aku mengerti." Jawab Bayu.
"Baiklah, aku sih oke, oke ajah." Indera mengacungkan jempolnya di depan Raditya.
"Oke, kalau begitu, lebih baik, kita bertanya pada pedagang atau siapapun. Jangan berurusan dengan pendekar yang belum kita kenal." Raditya memberikan arahannya.
Sebagai seorang yang memimpin dalam sebuah misi pengawalan tersebut, menjadi kunci keberhasilan mereka. Tentu bukan karena mendapat bayaran berharga. Tetapi karena mereka akan merasa terhormat, karena mengawal orang penting di kerajaan Lokapraja.
Setelah Raditya memberikan nasihatnya, mereka berpencar kembali. Raditya memanggil mereka, karena takut mereka berurusan dengan pendekar hebat. Mereka akan kehabisan waktu sebelum mereka melaksanakan tugas pengawalan diam-diam mereka.
"Permisi paman, apa kau melihat rombongan kerajaan lewat sini?" tanya Bayu kepada salah satu pedagang keliling yang sedang berdagang gula gula.
"Ooh rombongan kerajaan yah? hmmm ... sepertinya saya pernah melihatnya tadi pagi. Kurasa mereka rombongan berkuda, jumlah mereka mungkin ada seratus orang?" sang penjual keliling tersebut mencoba mengingat-ingat apa yang dilihatnya tadi pagi.
"Tadi pagi?" tanya Bayu kaget. Ia tidak menyangka, ternyata mereka sudah terlambat semenjak pagi hari. Bayu pun bergegas pergi.
"Hei tunggu, nak! kau tidak bertanya kemana arah mereka?!" teriak penjual gula-gula keliling tersebut.
"Ooh lupa. Kemana perginya mereka?" dengan berlari menghampiri pria paruh baya tersebut, Bayu pun langsung menanyai keberadaan rombongan kerajaan.
"Mereka menuju ke hutan. Aku tak tahu kemana, tetapi mereka kearah sana!" penjual gula-gula keliling tersebut menunjuk suatu arah ke hutan.
"Ooh ... terima kasih paman. Ohh. Akhirnya aku menemukannya.
Setelah bertanya pada penjual gula-gula , mereka pun berjalan menuju arah yang ditunjukan. Langkah mereka semakin cepat, karena tidak ingin tertinggal lebih jauh dengan rombongan kerajaan. Setidaknya, mereka bisa mengawasi dari kejauhan.
***
__ADS_1