
Chapt 83
Setelah berlari cukup jauh, Nindiya menyadari kalau kakinya sedang terluka. Ia merasakan sakit di kakinya. Dan ia pun berhenti berlari.
"Aduh ... kakiku sakit. Tapi kenapa aku lari?" gumamnya melihat kearah kakinya yang terluka.
Ia sudah dalam kondisi duduk di atas rumput. Sesekali meringis sakit, karena memang luka yang di dapat, agak dalam. Ia tersandung batu belah, sehingga luka yang di dapat agak dalam.
"Aku harus pulang. Ini sudah mulai sore, tetapi jalan menuju ke desa papringan ke arah mana?" ia merasa kebingungan karena ia lupa jalan yang ia tempuh.
Karena berlari dengan tergesa sambil menangis, membuat Nindiya tidak tahu telah berlari ke arah mana. Ia hanya berlari terus. Ia berharap ada orang yang bisa menolongnya.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Nindiya hanya duduk-duduk sambil mengambil daun-daun kering yang berjatuhan ke atas tanah. Digenggamnya daun-daun tersebut, lalu dilemparnya ke atas pohon.
Byuuurr
"Eh ... ada orang tidur di atas pohon?" karena penasaran, Nindiya mendekati pohon karena lihat ada orang di sana.
Dengan berjalan tertatih, Nindiya mencoba mendekati pohon tersebut. Setelah dekat dengan pohon itu, Nindiya tahu, siapa orang yang berada di atas pohon sedang tidur dengan santainya.
"Bibi, kenapa kau tidur di atas pohon?" tanya Nindiya kepada Gayatri, yang saat ini tiduran di atas pohon.
"Eh ada orang. Hoamm ...," Gayatri tersadar dari tidurnya.
Kemudian Gayatri turun dari atas pohon dengan cara melompat. Ia melihat Nindiya yang terluka di kakinya, itu membuatnya heran sendiri. Ia menghampiri Nindiya dengan rasa penasaran.
"Nindiya? mengapa kau berada di sini? dimana Nehan?" tanyanya, karena ia belum mendengar berita tentang Nehan.
"Bibi ..." panggil Nindiya, sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa? apa dia menyakitimu? tetapi maaf, aku yakin Nehan anak yang baik. Tidak mungkin kalau dia menyakiti perempuan bukan? hehehe ..."
"Bukan ... maafkan aku, bi." Ucapnya termenung. Ia tidak bisa meneruskan ucapannya karena lidahnya menjadi kelu.
Bagaimana harus ia jelaskan kepada Gayatri, bahwa Nehan telah dibunuh dan dihanyutkan di sungai? bagaimanapun ia harus memberitahukannya. Ia tidak bisa menyembunyikannya karena cepat atau lambat, Gayatri akan mengetahuinya.
"Kamu kenapa Nindiya? sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan? apa kamu sakit? oh benar, kakimu terluka?" ia melihat kaki Nindiya menyadari bahwa Nindiya terluka di kakinya.
__ADS_1
"Tapi dimana Nehan?" tanyanya karena seharusnya Nehan bersama dengan Nindiya.
"Dia nggak denganku." Ucapnya lirih.
"Kenapa? oh baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang! Ayo!" ajak Gayatri sambil menarik tangan Nindiya.
Gayatri membawa Nindiya dengan memapahnya. Untuk mempercepat langkahnya, ia kemudian menggunakan langkah angin untuk segera sampai di desa Guntur. Akan tetapi, ini membutuhkan waktu sekitar tiga jam, karena letak desa Guntur dan hutan warujati, letaknya cukup jauh.
"Kenapa bibi mengantarku ke sini?" tanyanya sembari melihat rumah yang sudah sebulan berlalu tidak di tempatnya.
"Lho. Ini kan rumahmu. Apa Nehan belum pulang juga? Ini sudah malam lho." Tanyanya melihat-lihat, tetapi rumah tersebut terlihat gelap karena tidak ada cahaya dari dalam rumah.
"Heih Gayatri. Darimana saja kau?" tanya Dewandaru yang tiba-tiba datang entah darimana.
"Aku merasakan ada seseorang yang menggunakan tenaga dalam tinggi, jadi saya datang kemari. Dan kau membawa Nindiya juga?"
"Ini sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanyanya kebingungan karena sudah sebulan ia tidak pernah bertemu dengan mereka.
"Itulah sebabnya, kau sukanya berkeliaran. Jadinya kau tidak tahu kabar Nehan yang telah dibunuh Wirata!"
"Apa?!!" tersentak mendengar kabar tersebut. Antara percaya atau tidak, tetapi ia menyayangkan hal itu bisa terjadi.
Memang benar adanya kabar tersebut, tetapi ia tidak menyangka, nasib Nehan akan se-tragis ini. Ia seakan menolak akan kenyataan tersebut.
"Kalian pasti bercanda, bukan?!" pikirannya hanya kalut, tetapi ia tidak akan mudah percaya. Bagaimana kalau mereka sedang berakting? mungkin saja ini adalah kejutan untuknya, karena ia tidak ada kabar selama sebulan.
Namun semua yang diharapkan Gayatri, tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia membayangkan bagaimana wajah Lokahita saat ini. Mungkinkah ia sudah bertemu dengannya di surga? atau malah hidup di neraka?
Sebelumya ia percaya pada Nehan. Ia bisa menjaga dirinya sendiri, atau karena ada Nindiya yang bisa dikatakan adalah seorang pendekar hebat. Tetapi ia tidak pernah berpikir, nasib tragis itu akan menimpa Nehan. Nehan adalah seorang anak lelaki dari adik seperguruannya. Ia telah berjanji akan menjaga Nehan, bagaimana ia telah ditolong oleh ibunya Nehan waktu dulu.
Berkat Lokahita, Gayatri masih bisa menikmati kebebasannya sekarang. Tetapi ia menyesali karena telah meninggalkan tanggungjawabnya. Ia memandang Nindiya dengan amarah di ubun-ubun.
"Kenapa kau biarkan Nehan mati? apa yang kau lakukan, hahhh?!!" dengan nada tinggi, ia membentak Nindiya yang langsung menunduk.
"Sudahlah Gayatri. Ini bukan salahnya." Bela Dewandaru, sang tabib tersebut kemudian memegang pundak Nindiya yang mungkin akan menjadi bulan-bulanan Gayatri.
"Lepaskan anak itu, Orang tua!! saya ingin mengajari perempuan ini!!"
__ADS_1
"Tidak Gayatri. Kau tidak boleh menghakiminya seperti itu. Dia juga tidak ingin Nehan menjadi seperti ini."
"Huuu ... hikss ..." tangis Nindiya kembali pecah. Ia tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak jatuh.
Memang ini kesalahan Nindiya. Ia tidak bisa menjaga suaminya yang memang bukan seorang pendekar. Ia juga tidak ingin menjadi seperti ini. Ia ingin Nehan kembali kepadanya. Dendamnya pun belum ia balaskan. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Nehan yang mendatanginya di dalam mimpinya.
*
"Diya ..."
"Iya?!"
"Kau mau kan, menuruti permintaan suamimu ini?"
"Baiklah, Nehan. Apa yang kau inginkan dariku?"
"Balas dendam!"
"Baiklah, siapa yang ingin aku balaskan dendamu? aku akan melakukannya. Dengan sukarela."
"Ubhaya ..."
*
Ia mengingat-ingat ucapan Nehan yang masuk ke dalam mimpinya. Ia harus berbakti pada suami bukan? kata-kata terakhir dari Nehan, adalah sebuah harapan Nehan untuk Nindiya. Yaitu membalaskan dendamnya. Ketika perasaan itu muncul, dendam yang membuat perasaan Nindiya menjadi tidak terkendali.
"Hei, apa yang terjadi?" tiba-tiba Dewandaru melepaskan tangannya dari pundak Nindiya. Ia tidak tahu aura apa yang muncul dari tubuh Nindiya.
"Hei! kau berani menantangku?!" maki Gayatri karena merasa tidak nyaman dengan tatapan dari Nindiya.
Aura hitam keluar dari tubuh Nindiya. Kedua orang yang berada di dekatnya pun merasakan aura hitam yang begitu pekatnya. Ketika mereka melihat lagi Nindiya, mereka merasakan aura hitam tersebut menekan kekuatan mereka.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? ada apa dengan anak ini?" ia merasakan kekuatan Nindiya tidak bisa dihadapi dengan mudah. Karena aura yang sangat kental tersebut membuat bulu kuduk merinding.
"Kekuatan apa ini?"
Dewandaru yang sudah diusia uzur, sudah melihat berbagai pendekar dan ilmu yang dimilikinya, tetapi ia tidak mengenal kekuatan apa yang ada di tubuh Nindiya. Apakah aura tersebut didapat dari Daniswara, ayahnya? tetapi ia tahu betul kekuatan Daniswara tidak seperti ini. Karena ia pernah bertemu dan melihat aura kekuatan Daniswara sebelumnya. Jadi, aura hitam itu, darimana asalnya?
__ADS_1
***