Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 78 Kekalutan Nehan


__ADS_3

Chapt 78


Seorang pria paruh baya, tengah bergegas dengan obat obatan yang dipegangnya. Sudah tiga hari ini, ia merawat seorang pemuda yang mengalami luka tusukan sebuah pedang.


"Maafkan saya, Nehan. Seharusnya, saya tidak memberitahukan Wirata tentangmu. Dan aku yang bersalah di sini." Ucapnya sembari memandang wajah Nehan yang tidak berdaya di ranjang.


Lelaki tersebut, menyesalinya sekarang. Tidak seharusnya ia percaya ucapan Wirata saat itu. Wirata berjanji padanya, ketika ia membantunya, ia akan dipertemukan dengan isteri dan anaknya. Tapi janji hanya sebuah janji. Tidak terduga saja, kalau Wirata memang bukan orang yang dapat dipercaya.


"Aku terlalu buta, sehingga saya percaya begitu saja ucapan Wirata. Andaikan bisa kuulang lagi, aku tidak akan membantunya." Ia menggenggam tangannya. Sudah cukup baginya percaya dengan orang yang memang hanya menipunya.


Seakan pasrah dengan keadaan, tabib paruh baya itu hanya bisa tersenyum getir. Kiranya ada sebuah harapan untuknya. Harapan untuk menebus dosa dosanya, ia akan melakukan itu. Meskipun ia harus bertaruh nyawa. Atau, ia akan sangat senang, jika orang orang yang ia celakai tersenyum bahagia.


Ia hanya membayangkan, bagaimana kehidupan kedua orang yang paling disayanginya? Anak dan isteri tercintanya. Bayangan itu hanya sekilas dan kembali memudar.


Kini ia merasakan semakin banyak ia melakukan kesalahan dalam hidupnya. Jika ia harus mati, untuk menebus dosa dosanya, maka ia akan rela.


"Nehan. Maafkan saya, yang memisahkannmu dengan isterimu. Jika kalian berjodoh, maka kalian akan dipertemukan lagi." Tabib tersebut pergi meninggalkan Nehan yang masih terpejam.


Suara jangkrik malam, terdengar sampai ke telinga Nehan. Ketika ia sadar, ia hanya melihat langit langit rumah yang terlihat sarang laba-laba. Nehan merasa sakit di perutnya, karena bekas tusukan pedang Wirata.


Nehan tidak tahu berada di mana. Karena ia baru saja sadar, dan tidak ada orang yang bisa diajaknya berbicara. Setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih. Mungkinkah Nindiya yang menyelamatkannya? Atau ia tidak bisa menemukannya?


Ia tidak tahu, setelah dirinya kehilangan kesadaran. Karena ia kehilangan banyak darah.


"Sepertinya takdir, mengharuskan ku untuk berpisah dengannya(Nindiya)." Nehan meraba perutnya yang sakit.

__ADS_1


Mungkin ini adalah takdir. Harus berpisah dengan isterinya, Nindiya. Walaupun isterinya itu tidak menolak lamarannya tempo hari, ia juga merasa membodohi Nindiya yang tidak tahu apa-apa. Haruskah ia pergi dari kehidupan Nindiya?


Mengingat ia pernah mendengar percakapan kedua teman Raditya. Orang yang pernah ia tolongnya saat pernikahan Nindiya dan dirinya dilaksanakan. Saat itu, Bayu dan Indera membicarakan tentang Raditya yang memiliki ketertarikan terhadap Raditya. Tetapi ia juga tidak pernah mendengar langsung dari Nindiya, apa ia suka dengan pendekar hebat itu?


Bukan satu dua kali ia mendengar, jika seorang pendekar wanita, akan lebih cocok dengan pendekar juga. Tetapi seorang pendekar pria, bisa menikahi pendekar wanita atau sebaliknya. Tidak seperti Nehan, yang hanya seorang tabib, tetapi ia telah menikahi seorang pendekar.


"Adakah perasaan cinta antara kita, Nindiya?" ia bertanya pada dirinya sendiri. Entah pikiran bodoh dari mana. Tetapi ia tidak ingin membuat dirinya atau isterinya tersiksa dengan perasaan yang tidak diketahuinya.


Apa arti cinta itu? saling membutuhkan? saling mengerti? saling menyayangi? saling rindu saat mereka jauh? lalu bagaimana perasaan itu bisa tumbuh, kalau mereka saja, baru pertama kali bertemu, Nehan langsung melamarnya? apakah karena kecantikan dari Nindiya? atau karena ia melihat kepolosannya?


Pertanyaan pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya. Bagaimana bisa, dirinya telah membuat kesalahan besar ini? Saat ini ia bahkan tidak mampu untuk berjalan. Tidak, ia bahkan tidak bisa duduk di ranjang tersebut. Tetapi ia lebih parah lagi. Saat ini, bahkan untuk menggerakkan tubuhnya pun tidak sanggup.


Apakah ia lumpuh juga? Mungkin iya ... karena telah hanyut terbawa arus sungai yang deras. Apalagi tubuhnya pasti menghantam bebatuan dan membuat tubuhnya terkena bebatuan tersebut.


"Maafkan saya," ucapnya sambil memandang Nehan yang memejamkan mata kembali.


"Tidak masalah, paman. Saya sudah tahu, pasti kau memiliki masalah sendiri. Bukankah seperti itu?" seakan tahu maksud sang tabib tersebut, Nehan hanya menutup matanya untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


"Kau sudah tahu yah? Kau memang hampir tahu segalanya. Pikiranmu mungkin sedang kacau, tetapi dirimu bisa menebak dengan tepat apa yang kukaksud."


Tidak sulit untuk Nehan mencerna kata kata sang tabib. Nehan tahu sang tabib telah berkontribusi untuk rencana yang dilakukan Wirata. Karena Nehan pikir, sang tabib tidak mungkin bisa tahu akan kejadian yang membuatnya terpisah dengan Nindiya.


"Jelaskan! apa yang telah direncanakan Orang itu!" Nehan tidak ingin banyak tahu, ia hanya ingin tahu rencana Wirata. Ia tidak perlu menanyakan hal tidak penting baginya.


"Aku terpaksa mengikuti rencana Wirata, karena ia mengancamku dengan isteri dan anaku,"

__ADS_1


"Aku tidak peduli keluargamu paman. Aku bertanya, apa rencana Orang itu?


"Wirata?" tanyanya memastikan. Ia tidak ingin kesalahannya karena membohongi Nehan, adalah kejahatan besar.


"Saya tidak peduli nama orang itu. Saya hanya bertanya. Apa rencananya!" dengan nada sedikit penekanan, Nehan sukses membuat sang tabib berkeringat dingin.


Bukan karena takut kepada Nehan. Karena bisa saja, ia membunuh Nehan dengan mudah. Tetapi ia lebih takut terhadap kesalahannya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan kalau hidupnya dipenuhi penyesalan atas kejahatan yang ia perbuat.


Saat ini, Nehan dalam masa sulitnya. Ia sedari tadi memang sudah emosi karena nasibnya sendiri. Ia kecewa, kenapa ia tidak bisa menjadi seorang pria yang dapat diandalkan? Mengapa ia harus merepotkan semua orang? Dalam dilema ini, ia tidak tahu arah jalan keluarnya.


"Jika tidak ingin memberi tahu, sebaiknya kau keluar, paman!" Nehan tidak bisa mengontrol emosinya.


"Maafkan paman, tapi saya janji, setelah kau sembuh, akan kuceritakan semua." Tabib itu berlalu meninggalkan Nehan.


Haruskah ia marah, tapi marah pada siapa? diri sendiri? yah, itu memang bisa saja terjadi. Mengingat, ia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Mungkin Nindiya tidak memikirkannya? Ia tahu Nindiya polos. Bahkan terlihat lebih polos lagi dirinya. Sehingga tidak menutup kemunginan, dengan berjalannya waktu, ia akan menemukan pria lain. Yang hebat dalam seni bela diri misalnya.


Nehan membuka kelopak matanya, memandang langit langit rumah tersebut. Ia bisa melihat atap dari daun alang-alang itu bisa tersusun rapi. Meskipun daun alang-alang tersebut tidak lebar, tetapi bisa dijadikan sebagai atap rumah. Yang dilakukan, hanyalah menyatukan lebih banyak daun.


Mungkin tidak ada hubungannya dengan ini semua. Tetapi pikirannya kini dipenuhi dengan seseorang yang terbesit di kepalanya. Wajah seorang wanita yang ia cintai. Ia perlahan meneteskan air matanya. Ia mungkin akan dibilang cengeng atau apapun itu. Setiap manusia itu memiliki masalah tersendiri, baru kali ini, perasaan kalut itu bergejolak di dalam hatinya. Saat itu, tanpa sadar, tangannya bergerak ke kantong celananya. Ia tidak berharap. Tetapi ia merasakan kehilangan sesuatu.


"Tidak! Inilah sebabnya." Nehan menyadari. Mungkin Nindiya yang panik saat itu, tanpa mengetahui semuanya, telah meminumkan pil eksperimennya, kepadanya.


"Huh ... Dasar! pantas saja. Perasaanku menjadi kacau. Mungkin Nindiya meminumkan pil yang membuat hati dan pikiran menjadi kacau.


***

__ADS_1


__ADS_2