Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 85 Hubungan Ayah Dan Anak


__ADS_3

Chapt 85


Sesuai dengan ucapannya, Mahadri kemudian melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyerang Nindiya yang kerasukan iblis tersebut. Pertarungan keduanya sangat cepat dan sama-sama menggunakan ajian sepi angin.


Berbeda dengan ajian sepi angin yang diajarkan Mahadri kepada Nindiya. Kecepatan gerakan Nindiya yang dirasuki pun berbeda. Karena terlihat jelas aura hitam yang terpancar, membuat gerakan Nindiya mudah terbaca.


"Mereka sangat hebat. Pertarungan mereka pun tidak bisa dilihat!" sebenarnya Gayatri baru tahu, kalau Nindiya memiliki ajian tersebut. Atau bahkan ia tidak tahu.


Karena dirasuki oleh iblis, membuat kesadaran Nindiya diambil alih oleh iblis tersebut. Selain itu, karena jiwanya yang lemah, membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Bagaimana sekarang? kita tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Andaikan saya masih memiliki kekuatan utuhku, pasti kan kuselamatkan puteriku!" Daniswara mengepalkan tangannya dan tidak bisa berbuat banyak.


"Tenanglah, pasti menantuku bisa mendapatkan kembali kesadarannya. Walaupun iblis itu sangat kuat, terapi kita mungkin masih memiliki harapan bukan?" dengan memberi semangat kepada Daniswara, Wardana terus mengamati setiap celah gerakan yang dibuat oleh iblis yang menguasai kesadaran Nindiya.


Pertarungan keduanya berlangsung lama. Saat ini yang bisa menghadapi Nindiya hanyalah Mahadri. Karena hanya Mahadri yang memiliki ajian sepi angin. Sementara karena Daniswara kehilangan kekuatannya, untuk saat ini kemampuannya tidak bisa diandalkan. Mungkin ia masih menguasai ajian tersebut, tetapi saat ini ia di level yang berbeda dengan puteri dan gurunya.


Hari semakin malam, tetapi pertarungan mereka masih berlangsung. Mereka masih berjaga-jaga agar tidak terkena efek serangan mereka yang mungkin akan mengenai mereka. Para penduduk desa Guntur pun tidak ada yang berani mendekat. Karena mereka tidak memiliki bakat pendekar. Mereka hanya warga biasa yang bekerja di sawah, perkebunan atau lainnya.


Mungkin karena sudah terlalu lama bertarung atau efek kelelahan, Mahadri kini terdiam dan memegang dadanya yang sudah terkena beberapa pukulan. Ia merasakan dadanya sesak seketika. Dan Nindiya pun sudah tidak menggunakan ajian sepi anginnya. Mungkin karena tubuhnya yang tidak kuat karena iblis yang merasukinya, memiliki kekuatan luar biasa, sedangkan tubuh Nindiya tidak memiliki ketahanan tinggi.


Iblis itu pun tidak lagi mengendalikan tubuh Nindiya. Dan Nindiya pun terjatuh tidak sadarkan diri. Daniswara yang melihat puterinya tergeletak di tanah, ia pun berlari untuk menggendongnya.


"Ooh ... Nindiya, apa yang terjadi padamu, nduk?!" ia memeluk puterinya dengan erat. Ia tidak tahu, iblis itu masih menguasai Nindiya atau tidak. Tetapi ia tidak tega memihat puteri semata wayangnya itu terjadi apa-apa.


"Sepertinya iblis itu tidak lagi menguasai tubuhnya. Biar aku periksa." Dewandaru menyentuh kening Nindiya, ia memejamkan matanya untuk menerawang untuk memastikan sudahkah iblis itu pergi.


"Sepertinya iblis itu tidak mudah untuk pergi dari menantuku. Tetapi untuk saat ini, ia sudah tidak dikendalikan iblis itu. Sebaiknya kita jangan memancing iblis itu keluar." pernyataan dari Wardana kepada Gayatri, karena ia mengetahui, pertama kali ia melihanya, ketika sedang mencengkram leher wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa kau memandangku seperti itu? kau menuduhku yang memancing kemarahan iblis terkutuk itu, Hah?!" dengus kesal Gayatri karena tidak terima ucapan Wardana.


"Ooh ... sepertinya saya salah paham?" balas Wardana.


Tetapi Wardana masih memikirkan sesuatu yang lain. Ia memang tidak bisa melihat makhluk seperti jin secara langsung. Tetapi ia merasakan keberadaannya yang begitu kuat, berada di tubuh Nindiya.


"Apakah benar, Nehan telah tiada?" gumamnya sambil melangkah pergi.


Wardana membutuhkan waktu untuk sendiri, dimalam yang hanya terlihat beberapa bintang, ia melihat sebuah menara terbuat dari bambu. Ia pun memutuskan untuk memanjat keatas. Ia melihat tangga yang dipijakinya terlihat kokoh.


"Pemilihan tempat yang tepat, dan bambu-bambu ini juga cukup kuat dan ternyata ada juga orang yang mampu membuat menara seperti ini. Mungkinkah orang tua itu yang membuatnya? (Dewandaru) atau apakah Nehan yang membuat?" ia membayangkan seperti apa wajah puteranya, Nehan.


Entah seperti apa wajah Nehan sekarang. Sejak ia ketahuan menikahi seorang wanita yang dicintainya, membuatnya tidak bisa bersama. Ini karena Ubhaya yang mengekangnya selama ini. Ia tidak bebas untuk mencinta. Tetapi itu bukan penyesalan yang berarti. Penyesalan yang benar-benar ia sesali adalah, ia tidak bisa melihat Nehan tumbuh.


"Lokahita ...," ia menyebut isterinya yang saat ini pun belum bertemu dengannya.


Wardana duduk, lalu berbaring melihat bintang-bintang. Ia membayangkan dahulu, ia tertawa bersama Lokahita, dan Nehan yang masih bayi. Tetapi saat itu, mereka berpisah karena kekejaman dari Ubhaya yang tidak menginginkan adanya keturunan dari Wardana.


Shuuut! tarrr!


Sebuah anak panah, melesat dan menancap pada bambu, Wardana tidak bisa melihat dari mana anak panah tersebut berasal. Karena malam hari, membuat pandangannya tidak bisa memantau dari jarak jauh. Tetapi ia menunggu, mungkin akan ada serangan anak panah lagi. Tetapi lama ia menunggu, tidak ada anak panah yang melesat lagi.


Wardana melihat anak panah tersebut, ada gulungan kertas yang melingkarinya. Lantas, ia membuka kertas yang ada di anak panah tersebut. Dengan bintang sebagai pencahayaan, ia membaca tulisan yang ada di kertas itu, dan ketika selesai membaca itu, sunggingan senyum terpancar di bibirnya.


*"


Sementara keadaan Nindiya sekarang, masih belum sadarkan diri. Saat ini, ia terlelap di rumah yang dibuat Nehan untuk mereka tinggali. Tetapi karena peristiwa pembunuhan terhadap Nehan, membuat mereka tidak bisa tinggal lagi. Sebenarnya selama sebulan, Nindiya tinggal bersama Mahadri dan Daniswara. Tetapi selama sebulan itu, tidak terlihat Nindiya mengalami kesurupan atau apapun yang berhubungan dengan itu.

__ADS_1


"Kau tidurlah nduk! ayah akan ada disni!" Daniswara duduk di samping Nindiya yang terlelap.


"Ayah?" lirih Nindiya, ketika ia sudah sadar dan melihat Daniswara yang sedang menungguinya.


"Kau sudah bangun? apa yang kamu rasakan? sakit? atau bagaimana?" karena terlalu khawatirnya, Daniswara melontarkan beberapa pertanyaan tanpa jeda.


"Tidak apa-apa, ayah. Apa yang terjadi padaku?" Nindiya memegangi kepalanya yang sakit.


Daniswara melihat Nindiya yang memegang kepalanya. Ia jadi tidak tega untuk mempertanyakannya lagi. Ia tidak ingin terjadi apa-apa lagi. Melihat Nindiya yang sudah tidak dikuasai iblis itu pun susah merasa lega. Untuk saat ini, ia bersyukur Nindiya tidak sedang dikuasai oleh iblis. Tetapi ia harus memikirkan cara agar makhluk yang merasuk ke tubuh Nindiya segera keluar dan tidak mengganggu lagi.


"Kamu tidak apa-apa. Mungkin karena kamu kelelahan. Sekarang apa yang kamu rasakan?" ia bertanya dengan lirih. Tidak mau membebani pikiran Nindiya dengan rasa cemasnya.


"Aku sedikit pusing dan ...,"


"Apa yang kau rasakan? kamu sakit? mana yang sakit?" ia bahkan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Ayah!" panggilnya lirih.


"Hmm?"


"Aku lapar." ucapnya memegang perutnya yang memang dari pagi belum terisi makanan.


"Iya, iya nduk. Ayah akan ambilkan makanan untukmu." senyum Daniswara mengembang.


Tidak perlu khawatir dengan Nindiya. Karena Nindiya pun masih ingat makan, Daniswara merasa Nindiya akan baik-baik saja. Daniswara pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Nindiya.


***

__ADS_1


__ADS_2