Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Perjalanan Pulang Nehan


__ADS_3

"Aku hanya mengantar sampai di sini! Kalian bisa meninggalkan tempat ini segera!" lontar Kenanga. Ia lalu melepaskan Nehan yang baru ia bawa keluar.


Nehan membuka tutup matanya dan melihat sekeliling. Memang mereka sudah keluar dari dalam perguruan. Ia melihat pedang milik Sekar dengan sebuah senyuman. Tabib itu juga tidak tahu kenapa wanita paruh baya itu, mau menyerahkan Sekar dan pedang batu yang sangat berharga itu. Tapi yang paling penting, dirinya sangat bersyukur karena tidak dibunuh oleh mereka.


Sekar meletakan pedang batu ke rumput. Lalu mendekati kakak seperguruannya. Membiarkan Nehan menunggu karena ia masih ingin berbicara dengan wanita yang lebih dahulu menjadi murid perguruan Bukit Lebah Hitam itu.


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu, kami pergi dulu! Semoga kita akan kembali bertemu lagi, jaga guru baik-baik." Sekar memeluk kakak seperguruannya. Tidak tahu sampai kapan ia kembali lagi ke perguruan.


"Sudah ... kamu juga harus menjaga dirimu baik-baik. Kalau urusan menjaga guru, serahkan saja pada kami. Sekarang, kamu pergi dengan tabib gila itu. Dan bunuh dia dengan cepat ... dalam waktu tiga hari, pasti kau bisa membunuhnya, bukan?" tanya Kenanga lirih.


Sekar tidak yakin tapi menganggukkan kepalanya. Entah apa yang harus ia lakukan. Antara membunuh atau membiarkan Nehan hidup dengan baik. Sementara ia masih teringat dengan wanita itu. Dengan luka yang terlihat sangat parah, sangatlah sulit untuk mengobati wanita itu tanpa adanya tabib sehebat Nehan.


Nehan masih menunggu mereka berdua untuk saling berpelukan. Ia melihat ke sekelilingnya, banyak tanaman langka dan tentu kebanyakan adalah tanaman obat. Ia mengambil pisau dari balik pakaiannya. Lalu memotong sebuah tanaman yang ada di dahan pohon. Lalu ia simpan tanaman itu di kantong bajunya.


"Baik adik. Kalian pergilah! Aku akan menunggu kamu pergi. Setelah itu, aku akan kembali ke perguruan!" ujar Kenanga, melepaskan pelukannya adik seperguruannya.


Nehan dan Sekar meninggalkan Kenanga yang melihat mereka pergi. Tapi kali ini Nehan yang memanggul pedang itu di bahunya. Walau berat batu itu lebih kuat dari berat badannya, ia puas mendapatkannya. Walau rasanya begitu berat, sampai badannya terhuyung karena saking beratnya batu itu.


"Apa kau tidak bisa mengangkatnya? Oh, aku lupa, kau tidak bisa memakai tenaga dalam untuk menambah staminamu, hemm," gumam Sekar mengejek. Tapi ia biarkan saja, Nehan yang terlihat kesulitan.

__ADS_1


Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai di rumah Nehan. Tapi Nehan tetap membawanya dengan sekuat tenaga. Bahkan Sekar sendiri tidak tertarik sama sekali dengan pedang tersebut. Ia lebih baik membiarkan pedang itu hilang atau ia hancurkan.


"Dasar bodoh! Ini hanya batu biasa! Kenapa masih saja dibawa, sih? Ini hanya bentuknya saja yang seperti pedang. Tapi ini benar-benar hanya sebuah batu, tch," decak Sekar pelan.


Nehan menjatuhkan pedang itu ke tanah. Ia sudah tidak kuat lagi dan memegangi pinggangnya yang terasa ngilu. Ia menjatuhkan dirinya, tiduran di tanah.


"Huahhh! Pedang sakti seperti ini memang sangat berat, huahhhh!" teriak Nehan dengan cukup keras. Ia tidak perduli dengan omongan orang-orang yang menatapnya sinis.


"Tuh, si tabib gila itu lagi. Dasar gila, orang batu, diangkat ya berat, lah. Tapi batunya keren juga, seperti pedang, huahaha! Mau main pedang-pedangan apa, yah?"


Orang-orang di sekitar yang melihatnya, mengerti keadaan tabib itu. Memang sudah terkenal akan kelakuannya yang tidak biasa. Seperti tiduran di tanah seperti saat ini. Kadang ia tertawa sendiri atau menggoda wanita yang ditemuinya.


"Hehh! Minggir!" pekik Sekar, menyepak tangan Nehan. Ia melompat ke belakang karena kaget. "Dasar orang gila bodoh!" umpatnya dengan kesal.


Orang yang melewati mereka, hanya bisa menyindir Nehan. Ada pula perkataan mereka yang terdengar begitu menyakitkan. Sekar tidak habis pikir dengan tabib yang terbaring di tanah, memegangi tangannya yang sakit karena ditendang oleh Sekar.


"Huuhhh, kenapa kamu seperti ini dengan calon suamimu ini? Harusnya kamu perhatian sebagai seorang wanita. Seorang wanita itu harus lemah lembut dan tidak boleh galak sepertimu," keluh Nehan. Ia lalu duduk bersila. Lalu mengeluarkan sebuah bambu kecil sebesar jari telunjuk. Isi dari bambu itu adalah sebuah cairan seperti minyak. Nehan mengolesi tangannya yang habis kena tendangan pendekar wanita itu.


Sekar merasa bersalah tapi ia tidak berani mendekat. Memang pedang batu itu cukup berat. Tapi ia sendiri juga malas untuk membawa pedang itu. Ia sudah tahu pedang itu berada di perguruan Bukit Lebah Hitam. Tapi tidak ada yang tahu, bagaimana pedang itu digunakan. Banyak orang yang mencari tahu apa kekuatan yang dimiliki oleh pedang batu seperti itu.

__ADS_1


Tidak selang beberapa lama, Nehan kembali membawa pedang itu. Sementara Sekar masih mengikuti Nehan di belakang. Kalau untuk membunuh tabib itu, bisa saja ia melakukannya saat ini. Tapi ia harus bersabar selama beberapa hari lagi. Jika memang haru membunuh, ia akan membunuh dengan kejam.


'Dasar tabib gila, kenapa dia juga tidak mau membuang batu tidak berguna seperti itu? Apa harus aku hancurkan saja batu itu? Hehh, rasanya lama banget untuk sampai ke rumah tabib gila itu,' pikir Sekar dalam hati.


Nehan berjalan sangat pelan, sementara mereka baru seperempat perjalanan untuk sampai di rumah Nehan. Sementara ini sudah semakin siang. Jika seperti ini terus, mereka baru sampai pada malam hari. Dan Sekar sudah lapar sejak tadi pagi.


Kembali Nehan menjatuhkan pedang itu ke tanah. Membuat Sekar harus lebih sabar lagi. Hal tidak terduga datang tiga pendekar yang pernah bertemu dengan Sekar kemarin.


"Hehehe, ada pendekar cantik ini lagi? Hei, baru sehari kita tidak ketemu, rupanya kau sangat merindukan kami, yah? Kalau main semalam dengan pendekar secantik kamu, kayaknya akan menjadi sesuatu yang nikmat bagi kita, hahaha!" tawa pendekar yang membawa sebuah rantai panjang. Dengan ujung berbentuk bola dan memiliki duri seperti durian.


"Kenapa ada kalian lagi, sih? Kurasa kalian masih mau berurusan dengan Pendekar Seruling Neraka, hah?" ujar Sekar dengan nada mengancam. Walau ia hanya untung-untungan saja. Tentu ia tidak tahu apakah penolongnya akan datang atau tidak.


"Hei, ini seperti orang mabuk, kah? Atau ini yang disebut sebagai tabib gila itu? Hehh, beruntung sekali, kita bisa bertemu dengan tabib gila ini." Pria besar memegang sebuah gada yang melihat Nehan, ia tersenyum dengan mengernyitkan dahi.


"Hei, kalian tiga pendekar gendut? Apa kalian juga mengenalku? Tapi maaf saja, yah. Julukanku bukanlah tabib gila, seperti yang kamu katakan. Tapi kau bisa menyebutku dengan tabib tampan, oke?" Nehan tersenyum lalu bangkit dari duduknya. "Mari kita selesaikan dengan cara tabib, hemm?"


"Nyali sekali kau sebagai seorang tabib yang tidak memiliki ilmu kanuragan, hah. Tapi karena ini hari keberuntungan kalian, ini akan menjadi hari yang menyenangkan, bukan?"


Nehan masih tersenyum lalu ia memeluk satu persatu pendekar tanpa penolakan. Tapi beberapa saat kemudian, tiga pendekar itu memainkan Nehan dengan saling mendorong Nehan seperti sebuah bola yang dioper sana oper sini.

__ADS_1


***


__ADS_2