
Nindiya tidak tahu apa yang terjadi,pedang berwarna biru transparan itu mengeluarkan cahaya. Membuatnya ingin menggapainya. Hal yang aneh lainnya terjadi, ketika pedang itu melesat ke arahnya. Wanita itu menangkap pedang itu dengan tangan kanannya dan seketika pedang itu berhenti dan tidak ada lagi cahaya yang muncul dari pedang itu. Pusaran angin juga telah berhenti mengitarinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Tapi ini lumayan, bisa digunakan untuk senjata. Anggap saja ini pedangnya berjodoh denganku, seperti pedang langit yang sekarang entah ke mana, ada pedang lain yang sepertinya juga sama-sama hebat."
Nindiya ingat dengan pedang miliknya, yang diturunkan dari ayahnya, Daniswara. Pedang Langit memerlukan banyak tenaga dalam untuk menggunakannya. Tapi saat memegang pedang itu, ia merasa seperti kekosongan. Hanya saja ada rasa aliran darah yang mengalir lebih cepat dari biasanya. Ini memang berbeda dengan pedang sebelumnya yang ia miliki.
Tiba-tiba tubuh Nindiya merasa sehat kembali. Ia mampu berdiri dengan pedang sebagai tumpuannya. Ia juga merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat karena menggenggam pedang itu. Tapi di sisi lain, ia merasa tenaga dalamnya juga ikut melemah.
"Ahh ... bahkan pedang ini juga menyerap tenaga dalam. Apa bedanya dengan pedang langit? Tapi pengguna pedang langit akan segera mendapatkan kembali kekuatannya bahkan lebih, setelah terserap habis."
Nehan susah payah mencari tanaman obat untuk Nindiya. Ia beruntung karena ada beberapa tanaman obat yang tersisa. Tapi itu seperti sudah bertahun-tahun ia tinggalkan kebunnya. Membuat beberapa tanamannya sudah membesar. Bahkan ada yang tumbuh tidak benar. Membuatnya harus memilah dan membuang rumputnya. Ia juga menemukan beberapa alat untuk mengolah bahan obat. Seperti cobek dan kendi. Ia yakin dengan adanya obat yang ia dapat, ia biasa menyembuhkan Nindiya.
Dengan senang, Nehan berjalan ke tempat di mana ia meninggalkan istrinya. "Lihatlah, apa yang sudah aku bawa–" Karena melihat kejadian yang tidak biasa, ia menjatuhkan obatnya di lantai.
Nindiya menoleh ke arah Nehan dengan sebuah senyum. Ia sudah merasa lebih baik sekarang. Ia sudah sembuh dari luka yang ada di punggungnya. Tapi wajahnya masih menyisakan luka bakar.
__ADS_1
"Hei, kamu masih sakit! Kenapa malah berdiri? Ayo kembali duduk! Dan kenapa kamu pegang pedang? Pedang dari mana ini?" tanya Nehan penasaran. Ia melihat pedang yang terlihat bagus dan mengambilnya dari Nindiya. Melihat pedang yang terlihat elegan dengan gagang yang berwarna keemasan. Mata pedang yang berwarna biru muda transparan.
"Aku melihatnya di bekas ledakan tadi, keluar dari dalam tanah, sana!" tunjuk Nehan ke arah di mana ledakan itu berasal.
Nehan menengok ke arah yang ditunjuk oleh Nindiya. Ia juga mengingat kembali, letaknya persis di mana ia meninggalkan pedang batu yang ia bawa dari perguruan Bukit Lebah Hitam. Ia mengangguk mengerti, pedang yang ia pegang adalah sebuah pusaka yang terkurung di dalam sebuah batu. Pedang itu muncul karena darah Nindiya yang keluar dan diserap oleh pedang itu.
"Ohhh ... aku paham sekarang. Ini adalah sebuah pusaka yang tertinggal di perguruan Bukit Lebah Hitam. Kamu sekarang adalah pemilik pedang ini. Tapi kita tidak tahu bagaimana mengendalikan pedang. Karena ini, darah yang membuat pedang ini keluar, kemungkinan ini akan membutuhkan darah untuk membuat pedang ini semakin kuat."
Nindiya mendengarkan penjelasan dari suaminya. Ia juga mengingat, dulu Nehan yang telah mengajarkan banyak hal padanya. Dari mulai yang terkecil hingga sesuatu yang penting. Dengan adanya ilmu dari sang tabib, ia juga bisa sedikit ilmu pengobatan. Ia juga mempelajari banyak hal, yang awalnya hanya tahu tekhnik bertarung dari sang kakek Mahadri.
Kini kakek dan ayahnya juga sudah tidak ada di dunia ini. Ia hanya memiliki Nehan di dunia ini. Tapi ia belum berani mengatakan kalau dirinya adalah istri dari tabib itu. Nama yang sama dengan nama istri dari Nehan, bukanlah hanya sekedar nama yang sama. Tapi memang orang yang sama. Hanya dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya.
"Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah sembuh juga?" tanya Nehan. Ia memeriksa punggung Nindiya yang ternyata sudah tidak mengalirkan darah lagi.
Nehan menyuruh Nindiya untuk duduk dan ia membuka kain itu. Melepaskan obat yang ia tempelkan di punggung yang tertusuk ranting itu. Memang sudah tidak ada bekas luka. Hanya ada bekas darah yang bisa ia bersihkan dengan tangannya.
__ADS_1
"Ini kamu sudah tidak apa-apa. Lukamu sembuh, mungkin karena pedang ini. Tapi wajahmu dan tubuhmu masih belum sembuh dari luka bakar. Hemm, aku membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka bakar di tubuhmu. Tapi wajahmu yang sudah hancur, aku akan membuat wajahmu cantik lagi. Tapi tidak bisa mengembalikannya seperti semula. Mungkin orang yang kamu kenal, tidak tahu siapa dirimu."
"Iya, Nehan. Asalkan aku bisa bersamamu, tidak masalah bagiku. Yang penting kamu mengingatku selalu, Nehan." Nindiya tidak menangis, menahan perasaan itu agar tidak timbul. Namun tetap saja, dalam hati kecilnya, ia ingin pengakuan sebagai seorang istri dari Nehan.
Nehan menutup kembali pakaian istrinya. Lalu ia duduk sebentar di atas kayu tumbang yang sudah lapuk itu. Menunggu sampai rasa lelahnya hilang setelah mencari tanaman obat.
Nindiya yang sudah mulai bisa bergerak bebas, mulai mengayunkan pedangnya. Lalu menggunakan berbagai jurus yang ia kuasai. Sambil melayangkan tubuhnya, melompat dan melakukan gerakan menangkis dan menyerang. Dengan gerakan itu, ia tahu kalau tenaganya sudah mulai pulih. Walau belum sepenuhnya, harus lebih giat berlatih dan meningkatkan kanuragannya.
"Wah, sepertinya pedang itu juga bisa memberinya kekuatan lebih. Aku tidak perlu terlalu khawatir karena wanita itu bisa membela dirinya sendiri. Gerakan itu seperti seorang yang berpengalaman. Membuat Nehan kagum dengan wanita di depannya.
Nindiya membuat gerakan memutar dan juga mundur. Gerakan dan juga teriakan, "Hyaaat! Hiyaa!" bercampur menjadi kesatuan. Lalu ia membuat gerakan mengipas dan keluarlah gelombang angin yang membuat pepohonan terhempas. Gerakan itu cukup hebat, kipasan pedang itu adalah tekhnik yang ia pelajari sendiri. Walau ia bisa menggunakan ajian yang membuat orang tidak bisa melihatnya, itu membutuhkan banyak tenaga dalam. Ia sekarang tidak memiliki banyak tenaga dalam. Tidak ingin menunjukkan hal itu kepada siapapun. Karena itu adalah senjata terakhirnya untuk mengalahkan atau melarikan diri dari lawan.
"Wah, hebat! Hebat! Permainan pedangnya sungguh hebat!" puji Nehan ketika Nindiya sudah selesai berlatih pedang di hadapannya. Tidak lupa ia juga memberikan tepuk tangan pada wanita itu.
"Ehh ... hehehe," kekeh Nindiya, merasa malu karena mendapat pujian itu. "Ini biasa saja sebenarnya. Hanya saja ini pedang sangat ringan digunakan. Dan ini juga cocok dengan apa yang kuinginkan. Hemm ... Nehan, apakah kau tahu, nama pedang ini? Ini bisa mengeluarkan angin yang besar jika diayunkan."
__ADS_1
"Oh, aku juga tidak tahu. Kalau begitu, kita namai saja Pedang Angin. Mungkin ini hanya nama sederhana. Seperti angin yang sederhana tapi bisa membuat perubahan besar. Seperti hembusan angin lembut dan suatu saat bisa membuat pusaran dahsyat. Karena pedang itu mengeluarkan angin juga, di mana angin bisa bermanfaat atau bisa juga menimbulkan bencana. Tapi dengan itu di tanganmu, semoga kau bisa mengontrolnya agar tidak menimbulkan bencana."
***