Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 29 Pesta Kecil Pernikahan


__ADS_3

Chapt 29


"Orang tua sialan!" Teriaknya menjentikan biji semangka dan sukses mendarat di kepala tabib tua tersebut.


"Aduuhh... Kalau kau terus memukulku, bisa mati muda aku." Ia menahan sakitnya.


"Sialan. Sudah lupa umur. Sudah bau tanah masih saja berpikiran kotor." Mahadri menatap tajam tabib tersebut.


"Sialnya aku bertemu dengan orang sepertimu lagi. Baiklah. Besok pagi, kutantang kau di tepi sungai." Sambil telunjuknya ia tunjuk lawan bicaranya.


"Baiklah. Aku terima tantanganmu."


Dari tadi, warga sekitar hanya menonton. Juga Nindiya Nehan, Bayu serta lainnya. Mereka tidak akan menghentikan kedua orang tua itu bernostalgia.


"Kakek kenapa kok berantem?" Nindiya tak bisa menahan keinginannya untuk memisahkan kedua orang tersebut.


"Tenang. Nindi." Nehan menahannya. "Biarkan mereka. Mereka sedang mengenang masa lalu." Bisiknya. Tetapi orang orang yang ada disana menatapnya dengan penuh kecemburuan.


"Duh yang pengantin baru." Kirana melempar senyum. Ia menatap Nehan dan nindiya.


"Kirana." Panggil Gayatri


"Iya Bu." Sambil menatap ibunya.


"Udah jangan ganggu kakakmu."

__ADS_1


"Iya Bu." Menunduk.


Kirana memang sangat dekat dengan Nehan. Ia akan terus menempel padanya. Tetapi untuk saat ini, ia harus menahan semua itu. Ia sadar bahwa Nehan kini telah memiliki isteri. Tidak mungkin kan akan terus menempel dan saling becanda.


"Kirana." Kini Puteri Padmasari yang memanggil.


"Iya?"


"Bisa bicara sebentar. Kita jalan jalan sebentar."


"Baiklah. Aku juga bosan. Biasanya kak Nehan akan bermain denganku. Tetapi aku sadar. Ia sudah menikah. Sebagai adik yang baik. Aku harus mengalah."


Puteri Padmasari diam. Ia menggenggam tangan Kirana dan membawanya keluar dari keramaian. Mereka memutuskan untuk keliling sejenak. Mereka terlihat akrap tanpa memperdulikan asal usul mereka yang berbeda jauh. Ini karena Puteri Padmasari tidak ingin membatasi pertemanan dengan siapapun.


Malam semakin larut. Beberapa orang tetangga sudah beranjak. Hanya tinggal beberapa yang belum mau beranjak. Menikmati indahnya bintang bintang. Nehan memutuskan mengajak Nindiya jalan jalan sebentar.


Sementara Bayu dan indera, kini sedang berada di ruangan dimana Raditya tengah terlelap. Sepi dan hanya mendengar beberapa orang tertawa. Dan saling Senda gurau.


"Kasihan teman kita ini." Bayu memandangi sahabatnya itu.


Raditya masih terbaring lemah. Nafasnya sudah mulai teratur, namun ia belum juga sadarkan diri. Kedua rekannya hanya bisa menatap Raditya dengan rasa kasihan.


"Kasihan dia. Kurasa dia sudah tidak punya kesempatan lagi. Gadis itu sudah menikah sekarang." Gerutu Bayu.


"Iya betul. Hei Raditya. Kapan kamu sadar? Kamu harus merebut gadismu itu. Lihatlah, gadismu sudah menikah. Gadis gila itu." Imbuh indera.

__ADS_1


"Heiy apa yang kalian bicarakan?!" Tiba tiba, seorang pria sepuh berjalan menggunakan tongkat.


"Ehh... Enggak kakek tabib. Hanya..." Indera tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia menyenggol lengan Bayu agar membantunya menjawab.


"Ehh enggak kek. Kami hanya menyemangatinya. Iya kan ndra?" Mereka berdua saling memandang. Indera pun hanya mengangguk.


Kedua pemuda itu memandang sang tabib itu dengan senyuman. Tetapi sang tabib tidak menghiraukannya. Memang anak muda kadang tingkahnya demikian. Tidak terkecuali dirinya dulu saat masih muda.


"Anak muda. Baiklah. Aku ingin memeriksanya. Nehan tidak punya ilmu Kanuragan. Jadi tidak tahu, sudah ditangani dengan tepat atau tidak. Tetapi, sepertinya Nehan bisa mengobatinya dengan baik." Sang tabib mendekati Raditya. Ia mengarahkan telapak tangannya diatas tubuh Raditya.


Dari tangannya, terlihat cahaya hijau yang memancar. Ia berkonsentrasi untuk menyalurkan tenaga dalam. Ia juga memeriksa luka luka tersebut. Sesekali ia tersenyum. Berarti pengobatan yang dilakukan Nehan telah berhasil.


"Bagaimana dengannya?" Kedua sahabat Raditya penasaran.


"Ohhh. Baiklah. Sepertinya Nehan sudah melakukannya dengan baik. Aku sangat bingung. Pengobatannya sungguh luar biasa. Mungkin dari sekian ribu tabib, hanya dia yang melakukan pengobatan tanpa ilmu tenaga dalam."


"Wah hebat." Gumam Indera.


"Tidak menggunakan tenaga dalam? Memangnya, seorang tabib juga harus memiliki tenaga dalam?" Tanya Bayu penasaran.


"Ya tidak harus. Tetapi mungkin dia satu satunya tabib yang tidak pernah menggunakan tenaga dalam selama hidupnya." Terang sang tabib.


"Mungkinkah ia tidak punya tenaga dalam?" Indera pun penasaran.


"Entahlah. Anak muda itu sangat aneh. Dan pedang itu..."

__ADS_1


Saat ini Nehan hanya menjadi sebuah misteri. Karena setiap manusia itu pasti memiliki tenaga dalam walau sedikit. Pendekar terhebat pun tidak bisa mendeteksinya. Yah mungkin sebenarnya ia punya. Hanya saja ia adalah seorang pemuda yang istimewa. Dengan keadaan yang tidak biasa.


***


__ADS_2