Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Warga Memadamkan Api Di Rumah Nehan


__ADS_3

Sekar tiba di rumah Nehan yang sudah terbakar. Ia melihat rumah yang terbakar oleh api yang semakin besar. Rumah yang tadinya baik-baik saja, kini sudah tidak terbentuk lagi. Bahkan terlihat api malah semakin besar.


"Nehan! Bagaimana nasib tabib gila itu? Apakah dia sudah mati, sekarang? Ya Tuhan, kenapa malah seperti ini? Aku yang tidak menyangka, aku tinggal sebentar tapi rumah ini sudah terbakar."


Jika ada orang di dalam, sudah pasti akan mati terbakar. Sekar berkeliling dan berusaha mencari keberadaan Nehan. Ia juga tidak berani masuk ke dalam karena terasa sangat panas. Untuk mendekat saja ia tidak berani, menahan panas yang terlalu itu.


"Huh, bagaimana rasanya berada di dalam sana? Oh, Nehan ... kamu bagaimana nasibnya? Apa kau terbakar di dalam? Aku tidak bisa menyelamatkan kamu. Ohh, kenapa jadi seperti ini?" Air mata tiba-tiba keluar tanpa diperintah. Pendekar wanita itu jarang menangis. Tapi melihat kebakaran itu, ia merasa tidak tega melihatnya. Membayangkan tubuh Nehan yang terbakar dan betapa sakitnya. Apalagi rumah itu banyak sekali barang-barang yang mudah terbakar.


Sekar mundur menjauhi rumah yang terbakar itu karena merasa semakin panas. Ia mundur dengan melompat dengan masih melihat ke arah rumah itu. Ia tersangkut di pohon dan ia duduk di dahan yang bisa untuk melihat keadaan dari jauh.


Lama Sekar melihat ke arah rumah yang terbakar itu. Namun tak lama kemudian, ada sekelebat bayangan dan seorang wanita tua telah berdiri di depan rumah terbakar itu. Sementara Sekar mengenali wanita tua itu.


"Guru! Kenapa guru berada di sini?" tanya Sekar. Ia lalu melesat ke arah sang guru untuk menemuinya. Ia turun dan berada tepat di belakang gurunya.


"Kenapa kau begitu kejam begini, Sekar? Aku menyuruhmu untuk membunuh tabib itu. Bahkan kau tidak menyisakan sedikit obatpun untuk kita? Oh, ya sudahlah ... yang penting tabib itu sudah mati. Karena orang yang mati, mulutnya bisa kita redam selamanya." Guru itu tanpa melihat ke belakang, tahu kalau yang berada di belakangnya adalah muridnya sendiri.


Sekar tidak mengelak dari itu semua. Walau ia tidak merasa membakar rumah itu. Tapi ia yakin kalau Nehan sudah mati bersama dengan wanita yang dirawatnya. Entah ini kabar baik atau malah kabar buruk. Karena ia bingung dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, Sekar. Apakah kau yakin, tabib itu sudah mati? Awalnya guru khawatir kalau kamu tidak berhasil membunuhnya. Tapi kurasa kamu malah berlebihan."


Tak lama kemudian, banyak orang yang berdatangan. Mereka melihat dua orang wanita yang hanya diam di depan rumah yang terbakar itu. Mereka tahu rumah kebakaran dan tidak menyangka kalau itu adalah rumah sang tabib yang dianggap gila.


"Ah, kenapa rumah tabib ini terbakar? Purwa, kita sudah kehilangan musuh gila kita. Bagaimana kita akan bermain nanti? Kita tidak ada target lain untuk dikerjai," ujar Sakha, pemuda yang masih dalam keadaan sakit di badannya. Ia juga datang untuk memeriksa rumah terbakar itu.


"Oya, Sakha! Bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah kita benar-benar kehilangan dia? Ah, rasanya tidak akan seru lagi kita berada di desa ini. Ah, kita cari korban untuk dikerjai, di mana?" Purwa juga menyayangkan itu terjadi. Ia tidak mengira akan seperti itu nasib sang tabib muda itu.


Sakha dan Purwa belum berterima kasih karena telah diobati oleh Nehan. Walau mereka jahil pada tabib hebat itu, mereka masih tetap dianggap teman. Walau membalas mengerjai, jebakan dari Nehan tidak pernah menyakiti siapapun. Walau bikin kesal, mereka tidak terluka yang berarti. Malah mereka berdua membalas dengan jebakan yang berbahaya tempo hari. Dan mereka juga kaget saat melihat Sekar.


Sedangkan orang-orang yang berdatangan pun sudah semakin banyak dan bersama-sama mencoba memadamkan api. Mereka mulai mengambil air dari sungai yang letaknya cukup jauh. Walaupun ada sumur, sumur itu juga berada di dalam rumah besar itu. Mereka juga tidak ada yang berani masuk ke dalam untuk menimba air. Karena sudah pasti akan ikut terbakar.


Orang-orang beramai-ramai memadamkan api. Tidak perduli dengan dua pendekar wanita yang hanya melihat saja. Bahkan keduanya meninggalkan tempat itu. Sang guru pendekar wanita itu, mengajak muridnya untuk meninggalkan tempat kejadian. Membiarkan orang-orang bekerja keras mencoba memadamkan api.


"Kalau dia sampai mati, kita berobatnya ke mana? Karena hanya berobat di sini, biayanya terserah kita. Kita kehilangan dia! Ayo! Cepat padamkan apinya!" seru seorang pria yang pasti akan kehilangan tabib di desanya.


Dulu waktu masih ada Nehan, mereka selalu mengejeknya. Terutama para wanita yang selalu menghina Nehan karena tingkahnya. Tapi mereka tetap berobat pada Nehan karena tidak lagi tabib yang bisa menyembuhkan di dekat desa. Mereka kini harus pergi ke luar desa untuk berobat. Dan biaya juga tidak murah. Apalagi mereka harus menyewa kereta kuda yang juga tidak murah.

__ADS_1


Setelah seharian, hingga siang harinya mereka akhirnya bisa memadamkan api. Itupun karena ada yang membuka jalan agar bisa sampai ke sumur di dalam. Mereka yang pernah masuk ke rumah Nehan karena pernah berobat dan dirawat. Jadi mengetahui di mana letak sumur itu. Dan yang menjadi perioritas mereka untuk memadamkan arah sumur terlebih dahulu. Setelah itu mereka beramai-ramai masuk ke dalam dan bergantian menimba air.


"Ayo, cari di mana Nehan berada? Di mana tabib itu? Ayo cepat!" seruan dari berbagai orang yang terdengar begitu keras.


Para lelaki banyak yang mencoba mencari ke segala arah rumah yang sudah hancur dan atapnya juga sudah turun semua. Menyingkap puing-puing untuk menemukan Nehan. Lebih dari setengahnya telah terbakar. Kini hanya tinggal arang dan abu serta asap yang keluar dari sisa-sisa kayu yang masih ada sedikit api.


Sakha dan Purwa juga ikutan mencari walau tubuh mereka masih sakit karena dihajar oleh Sekar. Tapi sekeras apapun mencari, tetap tidak menemukan Nehan. Hingga sore menjelang pun tidak ada tanda-tanda dari Nehan. Mereka pun sudah pasrah dan menganggap Nehan sudah mati.


"Heh, kita sudah berusaha untuk mencari Nehan. Tapi sepertinya takdir berkehendak lain. Mungkin ini karma untuk kita yang menyepelekannya. Padahal kita butuh dia untuk mengobati kita kalau sedang sakit." Seorang pria paruh baya mengatakan itu di depan umum. Memutuskan untuk berhenti mencari.


"Kalau begitu, kita harus bagaimana? Apa kita biarkan saja seperti itu? Apa kita kuburkan saja beserta rumahnya?" usul salah seorang pria.


"Iya, itu mungkin ide yang bagus. Karena tidak tahu, mungkin dia sudah menjadi abu. Kita kuburkan saja semua dengan rumahnya!"


Mereka pun memutuskan untuk mengubur beserta rumahnya. Mereka berbondong-bondong mengambil cangkul dan mengubur sampai pada malam hari.


***

__ADS_1


__ADS_2