Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Penundaan Waktu


__ADS_3

Nehan membawa Sekar ke sebuah rumah sederhana dengan banyak tanaman obat di depannya. Namun yang membuat takjub Sekar adalah sebuah menara yang tingginya lebih dari dua puluh meter. Sekar tidak pernah melihat menara tinggi selain yang ada di perguruan yang ia tinggali. Namun rupanya ada juga yang memiliki menara walau sedikit berbeda. Hanya menara yang dibuat Nehan itu lebih kecil. Terbuat dari pohon hitam yang didatangkan dari tempat yang jauh.


"Wow, ini sungguh luar biasa. Bagaimana mungkin ada menara yang seperti ini? Apakah ini menara sudah berusia ratusan tahun? Seperti milik perguruan Bukit Lebah Hitam, menara sudah berusia seratus tahun lebih."


"Tidak. Ini aku buat beberapa bulan yang lalu," balas Nehan sambil melemparkan buah apel pada Sekar. "Makanlah buah apel itu! Mungkin nanti bukan buah apel saja yang membuat kamu kenyang. Tapi calon buah hati kita nanti, akan membuat kamu kenyang selama sembilan bulan sepuluh hari, hehehe," kekeh Nehan menggoda Sekar.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Sekar bingung. Tapi ia memakan buah apel itu tanpa khawatir. Melihat tingkah Nehan yang menjadi aneh kembali, membuat dirinya bingung.


"Sudahlah, Sekar. Mungkin kamu belum tahu. Tapi kamu akan ku pastikan akan bahagia menjadi ibu dari anak-anak kita, hihihi!" Nehan tersenyum pada wanita di sampingnya, mendekatkan wajahnya pada wajah lawan bicaranya.


"Hush! Menyingkir kamu dari hadapanku!" pekik Sekar, mendorong Nehan dengan sekuat tenaga.


Nehan terdorong hingga sepuluh meter ke belakang dan mengenai pagar. Membuat pagar itu roboh dan Nehan terjungkal. Karena Sekar menggunakan tenaga dalam yang keluar secara refleks.


"Ups, hahahaha! Makanya jadi orang, jangan genit! Kalau nggak tahu, itulah pembalasannya, hahahaha!" tawa Sekar dengan lantang. Ia sangat bahagia hari ini karena telah membuat orang kena batunya. Walau itu tidak disengaja, tetap itu adalah kekuatannya yang besar. Tentu orang biasa tidak akan bisa menahannya.


Yang membuat Sekar berhenti tertawa adalah dengan Nehan yang memuntahkan darah dari mulutnya. Ia memegangi dadanya yang sakit dan mencoba duduk. Ia meringis menahan rasa sakit karena serangan tiba-tiba.


"Eh, kamu nggak punya tenaga dalam? Akh, aku lupa! Bagaimana seorang tabib yang menyembuhkan orang sekarat tapi memiliki tubuh yang sangat lemah?" Sekar mengangkat Nehan dan membawanya untuk duduk.

__ADS_1


Tidak ada kata dari mulut Nehan, hanya batuk kecil yang kemudian mengeluarkan darah kembali. Ia dalam posisi duduk di kursi. Sekar ingin membantu dengan menyalurkan tenaga dalamnya. Namun tangannya ditepis oleh Nehan.


"Kau ingin membunuhku, hah? Kalau kau berniat memberikan tenaga dalammu padaku, aku bisa mati. Tubuhku tidak bisa mengolah tenaga dalam," ungkap Nehan. Ia kembali memuntahkan darah lagi walau tidak sebanyak tadi.


"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak tahu caranya menyembuhkan mu. Aku hanya berpikir dengan tenaga dalamku, kamu bisa disembuhkan." Sekar menyesali perbuatannya. Namun ia juga secara refleks menyerang Nehan. Ia kaget dan tidak sempat mengontrol kekuatannya.


"Sudah biarkan saja! Sebentar lagi ... uhuk ... pasti sembuh," tandas Nehan. Ia membiarkan nafasnya perlahan berhembus.


Tidak seberapa lama, Nehan kembali bisa berdiri. Walau ia masih menahan nyeri di tubuhnya, ia masih bisa berdiri dan melangkah ke dalam. Diikuti oleh Sekar dari belakang. Mereka masuk ke sebuah ruangan di mana banyak obat-obatan yang tersusun rapi di rak.


Sekar meletakan pedangnya di atas meja, melihat sekeliling rumah itu yang terlihat bagus. Bahan obat-obatan itu tertata rapi dan banyak botol dan laci. Ia melihat laci dan menemukan daun akar dan daun kering di dalamnya. Saat membuka laci lain, ia bisa menemukan bunga yang kering juga.


"Benar-benar dia seorang tabib. Rumahnya sangat rapih, kenapa tingkahnya kadang menjadi aneh? Sebenarnya ada apa dengannya?" lirihnya bertanya-tanya.


"Apa itu? Apa itu manusia? Tetapi melihat itu, rasanya sangat tidak mungkin, bukan? Coba aku lihat lebih dekat," putus Sekar. Ia mendekati orang yang berada di atas tempat tidur itu.


Setelah dilihat-lihat dengan teliti, memang itu seorang manusia. Seluruh tubuhnya dibalut dengan perban putih dan masih terlihat bernafas dengan normal.


"Hei, kamu lagi ngapain? Jangan ganggu wanita itu! Dia sedang tidur di sana untuk menyembuhkan diri dari luka bakarnya!" cetus Nehan yang langsung menarik tangan Sekar.

__ADS_1


"Wanita? Dia seorang wanita? Sebenarnya ada apa? Kenapa itu dibalut dengan kain? Apa yang sebenarnya terjadi?" beber Sekar yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku menemukan wanita itu di sungai dengan luka bakar. Lalu kubawa ke sini untuk diobati! Kau jangan ganggu dia, kalau tidak mau, kamu yang menjadi gantinya tidur di tempat tidur itu," kata Nehan, membawa Sekar keluar dari dalam kamar.


Sekar masih penasaran dengan wanita yang berada di kamar itu. Namun ia tidak melanjutkan rencananya karena ketahuan oleh Nehan. Sekarang melihat Nehan baik-baik saja, membuat Sekar lega. Karena ia masih membutuhkan tabib itu untuk mengobati penyakit adik seperguruannya.


Nehan mengambil beberapa bahan obat dan membungkusnya dengan daun pisang kering. Ia sudah menyiapkan beberapa bahan yang diperlukan untuk mengobati Cempaka. Bukan hanya sisik ular weling merah yang diperlukan. Tetapi ada bahan lainnya sebagai campuran obat.


"Sekarang kita bisa kembali ke perguruanmu! Kuharap ini bisa mengobati adik seperguruan kamu. Dan tidak akan makan jamur itu lagi. Karena jamur itu sangat beracun dan bisa saja membuat adikmu kehilangan nyawanya."


"Ayo cepat, kita harus segera kembali ke perguruan Bukit Lebah Hitam!" ajak Sekar buru-buru. Karena ia sudah tidak sabar lagi untuk sampai di sana.


"Sebentar! Kita tidak perlu terburu-buru. Kita punya waktu tiga hari lagi. Kalau kamu terburu-buru, kamu bisa pergi dan ambil obat ini terlebih dahulu! Ini bisa membuat saudaramu sadar sementara. Itu juga bisa meringankan rasa sakitnya. Aku harus mengolah obat terlebih dahulu. Ini akan selesai nanti malam."


"Apa? Jadi percuma aku temani kamu ke sini? Kalau kita harus menunggu sampai nanti malam, bagaimana mungkin kita bisa tepat waktu menyembuhkan adik seperguruanku?"


"Kau tenang saja! Aku pasti akan menyembuhkan adikmu! Tapi bersabarlah sebentar! Kalau terburu-buru, malah bukan adikmu yang sembuh, kamu hanya mempercepat kematiannya. Kalau kamu mau kembali, kembalilah dahulu. Tapi kalau kamu mau menunggu, tunggulah sampai nanti malam!" tandas Nehan.


Sekar tidak ada pilihan lain selain harus menunggu. Walau dirinya sudah tidak sabar melihat adiknya untuk segera bangun dan kembali sembuh seperti sedia kala. Akhirnya ia mengalah dan memilih untuk menuruti perkataan Nehan.

__ADS_1


"Baiklah ... semoga saja kamu tidak berbohong padaku! Tapi awas saja kalau terjadi apa-apa terhadap adik seperguruanku! Kau harus berhadapan dengan pedangku!"


***


__ADS_2