
Chapt 69
"Sudah lama, saya tidak bermain main dengan jebakan yang dibuat sendiri. Ahh... Rasa rasanya saya sudah lupa kemampuanku itu." Tabib tersebut merenungi dirinya sendiri.
Masa lalunya yang membuatnya mengasingkan diri. Dia hidup seorang diri dan hanya mengandalkan kemampuannya untuk hidup. Ia membuat perangkap perangkap untuk mencari nafkah. Ia bisa melukai para perampok dan menjebaknya. Lalu ia mengambil harta yang para perampok itu dapatkan.
Membalas kejahatan dengan kejahatan memang ia lakukan. Tetapi tetap saja itu adalah kejahatan. Saat hatinya berpikir itu salah, Tuhan memberikan sebuah jalan yang lurus untuknya.
Awal bertemunya dengan Dewandaru, membuat hidupnya berubah. Dewandaru mengajari ilmu pengobatan. Dan itu membuatnya sekarang menjadi seorang tabib. Meskipun kemampuan tabib tersebut tidak sebaik Nehan, tetapi ia cukup hebat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Hanya satu yang tidak bisa, yaitu ilmu mengenai racun dan sejenisnya. Walau ia tahu beberapa, tetapi melihat racun yang berada di dada Wirata, ia tidak tahu.
Nindiya dan Kirana berbelanja di pasar. Untungnya, mereka tidak menjumpai orang orang yang berniat tidak baik. Karena kadang mereka muncul atau kadang tidak.
"Kak Nehan cukup kaya. Kita tidak perlu khawatir akan kelaparan." Puji Kirana.
"Benarkah?" Sahut Nindiya yang memegang banyak belanjaan di kedua tangannya.
"Yah. Kurasa begitu." Balasnya.
Hingga mereka sampai di rumah tabib, mereka melihat Nehan yang sedang bersantai tiduran di lincak. Ketika Nindiya dan Kirana datang, Nehan pun bangun dari pembaringannya.
"Kalian sudah datang? Baiklah. Kalian masaklah dulu." Nehan kembali melanjutkan rebahan ya.
"Ah... Kak Nehan ini. Mentang mentang sudah punya isteri. Bisanya nyuruh nyuruh." Umpat Kirana.
"Ayo kak Nindi, kita tinggalkan lelaki tidak berguna ini." Imbuhnya.
"Jangan gitu." Bela Nindiya. Ia tersenyum menatap Nehan yang dengan tenang memejamkan matanya.
"Ahh iya. Aku lupa. Kalian sudah menikah. Pasti isterimu ini akan membelamu." Ungkap Kirana sambil berlalu masuk ke dalam.
"Nehan." Nindiya menunggu reaksi dari Nehan tersebut.
"Terserah kamu aja. Aku orangnya seperti ini." Nehan membuka matanya, menatap Nindiya.
"Aku ke dalam dulu." Ucapnya malu malu. Ia merasa malu ditatap Nehan dengan intensnya.
Nindiya tersenyum lalu berjalan menuju dapur. Dilihatnya Kirana yang sedang menyiapkan air untuk mencuci beberapa sayuran. Mereka akhirnya mereka sama sama memasak hari itu.
"Kita lihat, apa yang bisa kita lakukan dengan sayuran sayuran ini." Gumam Kirana.
__ADS_1
Tangan tangan mungil Kirana mulai memotong motong sayuran tersebut. Bagaimana hasil dari kolaborasi masakan mereka berdua? Mereka akhirnya selesai dan menghidangkan makanan mereka di meja.
"Kurasa isteri dan adikmu, akan menjadi juru masak hebat suatu hari nanti. Jika kalian membuka kedai makanan, mungkin akan ramai pengunjung." Puji tabib tanpa nama tersebut, sambil menatap Nehan.
"Terima kasih paman. Mungkin rekomendasimu sangat bagus." Jawab Nehan. Ia menyuapi makanan ke mulutnya bsendiri.
"Kurasa paman melebih lebihkan." Kirana menimpali.
"Tidak. Sepertinya kalian memang hebat. Eh oiya, kudengar isteri Nehan ini adalah seorang pendekar?"
"Kebetulan kakekku yang mengajariku. Aku tahu sedikit ilmu bela diri." Jawab Nindiya.
"Ohh... Sungguh? Beruntungnya seorang tabib muda, memiliki isteri cantik seorang pendekar. Saya belum pernah mendengarnya. Kurasa ini akan menjadi sejarah baru." Ia tersenyum. Lalu menerawang melihat ke langit langit rumahnya.
"Ada apa paman?" Tanya Nindiya melihat tabib tersebut nampak memikirkan sesuatu.
"Tidak tidak. Kurasa saya sudah kenyang. Kalian lanjutkan makan kalian." Tabib tersebut meninggalkan makanannya. Lalu keluar dari rumahnya.
"Ayo terusin makan kalian." Nehan melanjutkan makanannya.
Usia yang sudah tidak muda lagi, tetapi tidak terlalu tua. Disisa umurnya, ia memutuskan akan menjadi seorang tabib hingga akhir hayatnya. Ia anggap itu adalah sebuah cara untuk menebus dosa dosanya, karena ia telah membunuh banyak nyawa. Walau yang dibunuhnya itu adalah orang orang yang tidak pantas hidup.
Jalan itu tentu dianggapnya keliru. Menghakimi sendiri para perampok, dan para bandit. Ia tidak peduli saat itu. Harus berapa nyawa lagi yang harus dibunuh?
Ia terus menunggu hingga akhirnya Wirata membuka matanya. Ia tidak mengekspresikan raut wajahnya. Ia tahu, lelaki itu akan segera bangun.
"Akhirnya kau sadar juga." Ucap sang tabib. Ia hanya berdiri tanpa maksud mendekat.
"Hehh... Saya belum mati?" Wirata melihat sekeliling, seketika melihat orang yang pertama kali dilihatnya.
"Maaf, apa ada yang aneh? mengapa kau menatapku?" tanya tabib tersebut.
"Hmm ... Kurasa ini bukanlah suatu kebetulan. Akhirnya saya bisa menemukanmu." Wirata menyeringai senyum. Ia yakin seseorang yang dilihatnya adalah orang yang ia maksud.
"Apa maksudmu?"
"Sebagai seorang pembunuh kejam sepertimu, apa harus dijelaskan? Kurasa kau tahu maksudku bukan? Apa kau tidak ingin bertemu lagi dengan puterimu, Sembrada?" Wirata menatap sang tabib yang membelalakkan matanya.
"Apa ... apa?" ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ternyata ada yang mengenalnya.
__ADS_1
"Sembrada. Hahahaha ... Itu namamu bukan? Saya tahu dimana puterimu sekarang. Dan aku bisa membantumu. Asal ...." Wirata menggantung ucapannya.
Tabib yang bernama Sembrada itu, kini merasa lemas. Dunianya runtuh. Ia terduduk di kursi dan menunduk. Tentu ia ingat puterinya. Ia ingat juga isterinya yang tewas mengenaskan karena dibantai oleh para perampok yang memiliki dendam padanya.
Ia berharap, Wirata tidak memberikan persyaratan yang sulit. Setidaknya, apa yang ia bisa lakukan, akan ia lakukan untuk menemui puterinya tersebut. Namun ia tidak tahu sifat Wirata yang memiliki perangai licik dan keji.
"Kau tentu pernah mendengar nama Wirata bukan?"
"Apa?" kini Sembrada harus menelan ludahnya sendiri. Satu lagi kejutan besarnya.
Tentu siapa yang tidak pernah mendengar nama Wirata? Ia adalah salah satu kaki tangan Ubhaya. Seorang pendekar yang sakti mandraguna. Sebutan atau nama lainnya adalah Pendekar lengan satu.
"Kau tidak perlu kaget begitu. Saya sudah tahu dirimu dari dulu. Kau tentu tidak menyangka bukan? Seorang Wirata, akan dengan mudah terkena racun lemah itu?" Wirata bangun dan duduk dengan santai.
"Tak kusangka juga, saya bisa bertemu dengan seorang tabib muda yang hebat. Ia banyak tahu tentang racun. Dan kurasa, saya sudah menemukan apa yang kucari. Hahaha ...." lanjut Wirata.
Ucapan Wirata tersebut membuat sang tabib panik. Ia mengucurkan keringat dingin. Jika memang Wirata tidak sadarkan diri, tentu ia tidak tahu apa yang terjadi dengan durinya.
"Hei. Kau diam saja?" dilihatnya Sembrada yang pucat. Membuat Wirata tersenyum kembali.
"Hei. Apakah kau ingin bertemu dengan Puteri kecilmu?" kembali Wirata memberi pertanyaan pada tabib tersebut.
"Apa ... Apa yang harus kulakukan?" akhirnya ia angkat bicara. Rasa rindunya pada isterinya yang sudah lama meninggal, dan juga puterinya yang sangat ia sayangi.
"Hmmm ... Saya bisa memberitahukanmu. Tetapi kau tentu tahu, ini tidak gratis bukan?"
***
Setelah sekian lama, baru update lagi.
Maaf sebelumnya memang males ngetik.
Kuharap masih ada yang mau membaca
Aku tidak bisa janji akan up tiap hari. Tapi aku usahakan untuk menamatkan cerita ini.
Entah di akun ini, atau akan ganti ke akun satunya. Karena adanya masalah yang tidak perlu kutuliskan disini.
Tunggu informasi selanjutnya yah...
__ADS_1
Apakah akan update lagi atau tidak
.