
Belum sempat mereka bersiap, sebuah pukulan keras telah mereka terima. Akibat dari pukulan yang dilancarkan Nindiya, mengakibatkan mereka tidak berkutik. Dalam sekejap mata, mereka sudah berkelimpungan di tanah. Tak pernah mereka sangka, wanita berparas cantik itu mampu mengalahkan mereka yang jumlahnya mencapai puluhan orang.
"Si-si-al! Kita berhadapan dengan siluman? Akhh!" pekik si gondrong. Ia mencoba bangkit dari posisinya yang terlentang. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Ada-kah ada ... orang memiliki ilmu setinggi ini?" Si botak pun turut bersuara, terkait serangan yang juga menimpanya. "Ki-ta ha-rus per-gi ...."
Puas menghajar mereka, Nindiya memalingkan wajahnya. Dari kejauhan ia melihat orang yang ia kenal. Senyuman mengembang dari bibirnya yang mungil itu. Ia ingat kalau Nehan belum tahu kalau wajahnya sudah tidak seperti dulu lagi. Tidak seperti Nindiya yang dulu dikenal oleh Nehan sebagai istrinya. Melihat sebuah kain tipis yang dibawa oleh para perampok itu, ia mengambil dan memakainya untuk menutupi wajahnya. Tapi ia tidak sadar kalau rambutnya sudah tumbuh panjang. Tidak seperti saat terakhir bertemu dengan Nehan, rambutnya pendek karena terbakar.
"Nehan ... ke mana saja, kamu?" tanya Nindiya, yang langsung mendekat ke arah lelaki itu. "Apalah kamu masih mengingatku?"
Tapi Nehan malah terlihat bingung dengan semua ini. Tabib itu menatap Nindiya sambil berpikir, 'Siapa wanita ini? Apa aku pernah mengenalnya? Kenapa dia kenal denganku?' Bingung, itu sudah pasti. Apalagi melihat seorang wanita berambut panjang itu. Walau ia merasa pernah bertemu dengannya, Nehan masih belum mengenali siapa wanita itu.
"Nehan ... apakah kau tidak mengingatku? Oh, mungkin karena kita sudah berpisah selama lima tahun, yah," kata Nindiya lirih. Ketika ia melihat sebuah pedang di tangan Nehan, ia mengarahkan tangannya dan membuat pedang itu terbang ke arahnya. "Apakah kau ingat aku sekarang? Hanya aku yang bisa mengendalikan pedang ini, bukan?"
Ketika pedang itu berada di tangan Nindiya, Nehan hanya memiliki satu pemikiran yang berkemungkinan, wanita yang memegang pedang itu adalah Nindiya, wanita yang ia tolong dan ia rawat setelah ditemukan di sungai. Tapi yang aneh, wanita itu memiliki rambut panjang dan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.
"Nehan, ini aku Nindiya," ungkap Nindiya, menghampiri Nehan. "Maafkan aku yang meninggalkanmu selama lima tahun. Aku tidak bisa keluar dari hutan. Aku masuk ke dunia yang berbeda dari dunia kita. Dan selama lima tahun, aku menunggu agar bisa keluar dari sana."
__ADS_1
"Lima tahun? Kamu hanya pergi selama lima hari. Dan kau tidak mungkin pergi selama lima tahun, kan? Kau hanya pergi selama lima hari. Tidak sampai lima tahun seperti yang kamu katakan tadi. Lalu kenapa kamu bilangnya selama itu? Jangan-jangan ...." Kini Nehan menyadari kalau Nindiya berada di dunia lain, yang memiliki perbedaan waktu jauh. Dan memang ia pernah mendengar hal itu sebelumnya.
"Oh, tapi aku merasa kalau kita sudah berpisah selama lima tahun. Apakah aku hanya bermimpi? Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Aku melihat makhluk yang berbeda dari kita."
Nehan tidak dapat menerka apa yang terjadi. Tidak mungkin juga kalau wanita itu tiba-tiba berubah seperti itu. Ia bisa melihat rambut yang begitu panjang, yang tidak mungkin kalau rambutnya bisa sepanjang itu hanya dengan waktu lima hari. Juga bagaimana dengan pedang itu? Pedang yang bergerak sendiri ke arah pemilik pedang itu sekarang.
"Hemm ... kalau begitu, kita lupakan saja, oke? Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau kamu bersikeras menjadi Nindiya, aku akan menerimanya, asalkan kamu mau menuruti semua perintahku," tandas Nehan. Dengan adanya orang yang menemaninya, berarti ia memiliki seseorang untuk berbicara.
"Baiklah ... ke manapun kamu mau pergi, aku akan mengikutimu, Nehan." Begitu mendengar pernyataan sang suami, Nindiya langsung setuju. Yang terpenting baginya adalah bisa berkumpul kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Itu lebih dari cukup daripada tidak sama sekali.
Sementara orang-orang yang dikalahkan oleh Nindiya, hanya bisa melihat dari jauh tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Orang-orang itu bangkit karena ingin memperingatkan betapa berbahayanya wanita itu. Tapi mereka tidak berani mendekat. Untuk berjalan saja, mereka masih belum mampu.
Sementara Nindiya mengekor di belakang Nehan sambil tersenyum ke arah para perampok yang sudah tidak berdaya saat menghadapi seorang wanita. Tidak mungkin bagi mereka untuk jujur karena rasa malu mereka ketika melihat tabib itu ternyata dekat dengan pendekar wanita di belakang.
"Hemm, mungkin dia mau berobat padamu, Nehan. Bukankah kalian mau berobat? Kenapa kalian tidak mau mengatakannya dengan jujur? Dengan begitu, kalian bisa segera pergi dari sini." Nindiya mengacungkan pedangnya ke arah para perampok itu.
"Ampuunn ... kami hanya kebetulan lewat. Jadi tolong biarkan kami pergi. Dilain waktu, mari kita tidak saling bertemu dan mencampuri urusan masing-masing." Pria botak itu berusaha untuk kabur dari lokasinya.
__ADS_1
"Kami tidak akan ke sini lagi. Jadi tolong biarkan kami pergi dari sini." Salah satu dari mereka berceletuk dari belakang.
Ada banyak dari mereka yang terluka parah. Apalagi luka mereka adalah karena luka tenaga dalam. Setiap pukulan dari Nindiya, menggunakan tenaga dalam yang terlalu besar bagi mereka. Sehingga tidak mampu menahan serangan yang bahkan tidak mereka lihat.
"Biarkan saja mereka, Nehan. Lebih baik kita tinggalkan saja. Bagaimana kalau aku buatkan masakan untukmu? Aku juga punya buah yang tidak ada di dunia ini. Mungkin ada obat-obatan yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Apa kamu tertarik untuk melihatnya?" tanya Nindiya.
"Ooh, baiklah ...." Nehan lalu melirik ke arah para perampok yang tergeletak di tanah. "Kalau kalian tidak mau mengatakan apa-apa, aku akan segera pergi dengan wanita cantik ini, hehehe," kekeh Nehan, melirik ke arah Nindiya.
"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini. Kalian juga bisa pergi setelah pulih," tandas Nindiya. Ia menarik tangan Nehan untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Dasar wanita siluman, melihat tabib tampan saja sudah tergoda, heleh ... andaikan aku tampan," lirih pria gondrong yang sudah duduk di tanah sambil memegangi dadanya yang sakit.
"Hei, kau jangan lupa, dia itu siluman jahat. Mungkin dia tidak menyukai tabib itu. Tapi hanya ingin menghisap aroma obat darinya. Karena dia seorang tabib, mungkin bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakitnya."
"Iya, mungkin saja, sih. Tapi aku bingung, siluman apa yang memiliki wajah secantik itu? Apakah ada siluman yang secantik itu?"
Mereka menatap kepergian Nehan dan Nindiya yang bergandengan tangan. Membuat pikiran mereka kalut dah hanya bisa diam menunggu tubuh mereka pulih kembali.
__ADS_1
***
Sebelumnya minta maaf karena ini entah kapan akan dilanjutkan. Terima kasih!