Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 88 Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Chapt 88


Mereka tidak menyangka akan kedatangan tamu tak diundang yang mampu mengalahkan pendekar-pendekar kelas tinggi. Mereka belum pernah melihat ada orang yang mampu mengalahkan puluhan pendekar hanya sekejap mata.


"Siapa wanita itu?" Seseorang yang merupakan pemimpin dari asosiasi Tengkorak Abadi.


Melihat pendekar-pendekar hebat itu berjatuhan, tentu mereka tidak akan menyangka, kalau ini adalah perbuatan seorang wanita yang mereka pun tidak pernah lihat sebelumnya.


"Baiklah ... kurasa harus kau yang turun tangan." Dia mengeluarkan sebuah kalung tengkorak berwarna hitam pekat.


Kalung tersebut juga mengeluarkan aura dan asap hitam, yang mengelilingi tubuhnya. Mereka sama-sama memiliki aura hitam, namun ada perbedaan pada keduanya. Jika pemimpin dari tengkorak abadi, tidak bisa bergerak secepat wanita yang akan jadi lawannya. Sedangkan wanita tersebut bergerak lebih cepat dan bisa merubah dirinya menjadi asap.


"Ketua?" Beberapa orang yang melihat pemimpin mereka pun tidak menyangka, kalau harus memakai kalung tersebut.


Karena ia melihat lawan yang terlihat berbahaya, pemimpin dari Tengkorak abadi pun tidak ingin terlihat lemah. Ia menggunakan kekuatan maksimalnya. Yah. Dia pun menggunakan ilmu hitam dan telah bersekutu dengan iblis. Jika kalung tersebut ia pakai, maka setidaknya, kalung tersebut harus memakan tumbal darah dari tujuh manusia. Entah itu lawan maupun kawan.


Karena dikeluarkannya kalung tersebut juga, membuat para pengikutnya ketakutan. Mereka tidak bisa menjamin keselamatan mereka. Tetapi wanita tersebut nampak senang dengan senyumnya. Tidak ada yang mengetahui secara pasti, siapa wanita yang telah membunuh sebagian pendekar dari Tengkorak Abadi.


Semua serba tiba-tiba, ketika perempuan itu melesat dan membanting pemimpin asosiasi tersebut. Namun karena ilmu yang dimiliki sang pemimpin tersebut cukup tinggi, ia tidak terlalu merasa sakit. Ia hanya merasa kaget, karena serangan yang mendadak.


"Kau hebat juga!" gumamnya sambil menyeka darah di bibirnya.


Keduanya mengeluarkan kehebatan mereka dengan saling balas serangan. Saat pendekar golongan hitam tersebut melesat dan menendang lawannya, wanita tersebut dengan mudah mengelak, karena bisa berubah menjadi asap hitam.


"Yang kulawan bukan manusia. Dia iblis." Pendekar tersebut memegang kalungnya dan membacakan mantra. Seketika itu, dari kalung tersebut keluar asap hitam pekat.


"Kau memanggilku, Tengkorak hitam?" ucap sosok asap hitam tersebut.


"Seperti yang kau ketahui. Ini tidak adil bukan? saya manusia, sedangkan dia iblis sepertimu. Kurasa iblis harus mengalahkan iblis!"


"Baiklah. Tetapi aku minta seratus tumbal untuk itu."


"Kau tenang saja. Nanti akan kusiapkan."


"Baiklah ...."


Saat mereka belum selesai berbicara, wanita tersebut tidak membiarkan mereka untuk saling berucap. Ia menyerang iblis berbentuk asap hitam tersebut.

__ADS_1


Keduanya saling bertarung, dengan kecepatan tinggi. Beterbangan ke segala arah. Karena tidak ada yang bisa melihat pertarungan mereka. Mereka bertarung dengan cara iblis mereka. Mereka yang hanya bisa menyaksikan asap hitam yang saling membentur dan kadang bercampur, lalu terpisah, terus berbaur lagi.


"Sungguh pertarungan antara iblis. Tetapi mengapa iblis itu bisa menjadi sosok wanita?" gumam pemimpin Tengkorak Abadi.


"Ini situasi sulit bagi kita. Bagaimana kita seharusnya? haruskah kita memanfaatkan kesempatan untuk membebaskan tuan Puteri, atau kita pergi dari sini?" tanya Bayu kepada Jumantara.


"Bagaimana menurut kalian?" jawabnya juga masih bingung. Karena mungkin ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi.


Jika mereka ingin menyelamatkan puteri Padmasari, mereka mungkin akan berhadapan dengan penjaga, yang mungkin masih tersisa di markas Tengkorak Abadi. Tetapi bisa saja, keadaan disana sedang kosong. Mereka tidak tahu, masih ada penjaga atau tidak. Dalam situasi sulit, mereka harus memutuskan dan siap untuk melakukan resiko, atau tidak sama sekali.


"Jadi bagaimana?" Indera yang belum mendapat jawaban pasti, melihat kedua pria yang sudah kehabisan tenaga.


Yah, pertarungan memang melelahkan. Itu sebabnya mereka tidak tahu apalagi yang harus mereka lakukan. Mereka tidak ingin gegabah, atau mereka juga mungkin tidak memiliki kesempatan lagi.


"Sepertinya ...." Jumantara nampak berpikir. Ia harus memutuskannya sekarang.


"Bagaimana?" tanya Gemani.


"Kita akan menyelamatkan tuan Puteri, apapun yang terjadi. Karena kita sudah sejauh ini, jika kita harus mati, kita mati secara terhormat!" Dengan kemantapan hatinya, ia berdiri dan menyalurkan semangatnya.


Jumantara menepuk pundak Gemani, dan memberikan senyumnya. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati.


"Mungkin kita akan mati di sini?" tanya Gemani dengan tatapan sayu.


"Entahlah ...." Jumantara mengelus pipi Gemani, membuat gadis itu tersenyum manis.


Sementara Bayu dan Indera yang melihat kemesraan dua insan itu, hanya bisa mengelus dada. Mereka masih jomblo saat ini, tetapi akankah mereka akan mati dengan status kejombloan mereka?


"Tunggu!" cegat Indera yang melihat pertarungan antara kedua iblis terlihat hampir selesai.


Dan benar saja. Seiring dengan gerakan mereka yang melambat, akhirnya mereka merasa lelah sendiri. Sang iblis dari tengkorak abadi pun masuk kembali ke dalam kalung. Sementara sosok satunya, berubah menjadi seorang perempuan yang tentu Jumantara dan lainnya kenal.


"Tidak mungkin." gumam Indera.


"Nindiya?" Bayu pun tidak menyembunyikan keterkejutannya.


Ketika Jumantara dan Gemani menengok, mereka sama terkejutnya dengan kedua rekannya. Tidak lama kemudian, Nindiya tidak sadarkan diri dan tergeletak di atas tanah.

__ADS_1


Bayu dan Indera pun berlari untuk melihat keadaan Nindiya yang tergeletak di tanah. Jumantara dan Gemani pun mengikuti dari belakang.


"Kalian tidak bisa berbuat apapun lagi. Jadi bersiaplah untuk menemui ajal kalian. Hahaha!" Tawa lantang pemimpin Tengkorak Abadi tersebut.


Karena mereka sudah kehabisan tenaga, membuat para pendekar tersebut merasa nyawa mereka terancam. Para pendekar golongan hitam tersebut semakin mendekat, dengan menodongkan senjata mereka.


"Habisi mereka!" perintah pemimpin Tengkorak Abadi dengan suara lantangnya.


"Hahahaha!" Tawanya begitu kencang, Sehingga membuat Jumantara dan yang lainnya merasa ketakutan.


Sreseet, sreettt


Suara anak panah melesat mengenai kepala salah seorang pendekar. Bukan hanya satu, tetapi anak panah lainnya, segera menyusul. Membuat kewaspadaan mereka meningkat.


"Hai! siapa kau? kalau berani, tunjukan kepalamu!" Suara lantang tersebut, membuat seseorang muncul dari semak-semak.


"Hehehe ... maaf mengganggu." Seorang pemuda membawa panah dan menggunakan topeng.


"Siapa kau?"


"Kurasa tidak perlu tahu namaku. Oh iya, tetapi sebaiknya, kalian pergi dari tempat ini. Karena sebentar lagi, akan ada tiga ratus pendekar yang sedang menuju kesini." ucap pemuda bertopeng sambil menggaruk kepalanya.


"Bagaimana ketua?" tanya salah satu pendekar yang siap mengikuti perintah.


"Baiklah, dasar pendekar kunyuk!" umpat sang ketua.


"Kita kalah jumlah,maka kita mundur untuk mencari bala bantuan."


Mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Mereka tidak tahu, kalau pemuda bertopeng itu telah berbohong. Tak disangka, pendekar-pendekar tersebut akan percaya begitu saja.


Narendra melihat seorang perempuan tergeletak di tanah. Lantas ia melihat keadaan Nindiya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Maaf sebelumnya tuan pendekar, kalau boleh tahu, siapa namamu ini?" tanya Bayu dengan tatapan penuh selidik.


Sementara yang lainnya, tidak terganggu sama sekali. Mereka telah bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup. Mereka berharap, Narendra juga bisa membantu mereka, karena mereka pun percaya dengan kebohongan Narendra.


"Baiklah, namaku Narendra. Saya adalah pemburu, dan sedang berburu hewan di hutan ini." Sambil menyentuh topengnya, ia masih ragu untuk melepaskan topengnya. Tapi ia membatalkan dilihatnya itu.

__ADS_1


Narendra bisa melihat wajah cantik Nindiya, walaupun ada beberapa ranting dan daun kering menempel di rambutnya. Narendra mengerutkan kening di balik topengnya. Ia seperti mengingat sesuatu. Tetapi entah apa itu. Tetapi ia sangat familiar dengan wajah itu.


****


__ADS_2