Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Penyerangan Ubhaya


__ADS_3

Nindiya berniat meninggalkan tempat itu dengan memapah Nehan, yang tidak bisa berdiri sendiri. Ia membiarkan Raditya tergeletak di tanah, dengan darah terus mengucur di perutnya. Ia sudah mengubur mayat-mayat itu dengan sapuan anginnya. Jadi ia merasa semuanya selesai.


"Tunggu!" perintah Nehan. Nindiya pun melihat Nehan yang di gendongnya.


"Apa?" Suara Nindiya berat. Ia masih memiliki aura hitam di sekitar tubuhnya. Walaupun ia masih memiliki kesadaran, tetapi hatinya telah tertutup. Ia hanya memiliki satu tujuan. Membawa Nehan untuk pulang.


"Kenapa kau membunuh lelaki itu? Coba periksa dahulu. Jika dia masih hidup, obati dia!" pinta Nehan. Pemuda itu ingin mengobati Raditya, biar bagaimanapun, Raditya adalah pendekar hebat. Walaupun masih salah jalan, tetapi dia adalah orang yang baik.


"Tidak! Saya ingin dia mati!" Tidak ada perasaaan Nindiya untuk Raditya sedikitpun. Walau ia sendiri menyayangkan tindakannya sendiri. Aura hitam itu semakin mengecil. Dan akhirnya menghilang.


Pada akhirnya, Nindiya hampir kehilangan kesadaran. Nyaris saja ia pingsan lagi, karena tidak bisa menahan kekuatan iblis yang ada di tubuhnya.


"Nindiya?" Nehan pun terjatuh ke tanah, karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Jumantara dan yang lainnya menyusul Raditya dan Nindiya. Mereka bisa tahu keberadaan mereka, berkat ilmu penciuman macan putih milik Jumantara. Ia mencium ada darah yang mengalir, dan baru saja terjadi. Ia tidak menyangka, saat pertama kali tiba, mereka mendapati Raditya tergeletak di tanah.


"Apa yang terjadi denganmu, Raditya? Pendekar hebat sepertimu, siapa yang bisa melakukannya?" Dengan sigap, pemuda itu membuka baju miliknya, dan merobeknya. Ia kemudian mengikat perut Raditya yang terus mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi dengan Raditya? Hah ... Nehan?!" Bayu begitu kaget melihat Nehan yang tertunduk lemas. Ia tidak tahu, kalau Nehan masih bisa selamat. Padahal ia mendengar bahwa Nehan telah di bunuh dengan keji oleh Wirata.


"Siapa kau?" tanyanya setelah melihat wajah Bayu yang asing baginya.


"Apa kau tidak mengingatku? Aku Bayu! Kenapa kau menjadi pikun begini sih?" Bayu memalingkan pandangan ke arah Raditya.


"Raditya kenapa?" Indera yang baru sampai pun segera mengenali Raditya dari pakaiannya. Ia tidak menyangka, sahabatnya akan mengalami hal yang sama dengan sebelumnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Nindiya yang tidak lagi peduli dengan keadaan Raditya. Ia tidak terima, Raditya ingin membunuh Nehan. Lebih baik, Nindiya yang membunuh Raditya sebelum Nehan di bunuh. Bahkan perempuan itu terlihat tersenyum, ketika Raditya dalam keadaan sekarat.


"Nehan ... bisakah kau menolong Raditya sekali lagi?" pinta Bayu.


"Tidak, Nehan. Biarkan dia mati!" sinis Nindiya. Ia tidak ingin terlibat lagi. Bahkan ia tidak ingin Nehan membantunya.


"Kenapa kau, Nindiya? Dia teman kita. Kenapa kau berkata seperti itu?" Bayu merasa kecewa dengan Nindiya. Ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya.


"Aku tidak bisa membantunya. Kurasa kalian harus mencari tabib yang lebih hebat. Kudengar, di desa Guntur, ada seorang tabib yang sangat hebat. Beliau akan bisa mengobati lukanya." Nehan berbicara lirih, seakan tidak mengenal tabib tersebut.


"Nehan ... ada apa denganmu? Dan ada apa dengan kalian berdua? Aku merasa kecewa dengan kalian! Hehhh ...," dengusnya gusar. Bayu menghampiri Jumantara. Ia sudah tidak bisa mengharapkan Nindiya dan Nehan akan menolongnya.


"Bagus, Nehan. Kau tidak perlu menolongnya. Mari kita pulang!" ajak Nindiya yang masih merasa sedikit pusing.


"Harus aku katakan hal yang sebenarnya padamu, Nindiya." Nehan menghentikan ucapannya. Ini belum saatnya ia mengatakan sebenarnya pada Nindiya.


Nindiya tidak memperdulikannya. Setelah rasa pusingnya hilang, ia menggunakan ajian sepi angin untuk bergerak cepat. Ia melesat cepat menuju desa Banyuasih. Sementara Jumantara dan lainnya membawa Raditya ke desa Guntur, yang letaknya cukup jauh. Dengan perjalanan biasa, akan menempuh waktu tiga hari.


"Bagaimana ini? Desa Guntur sangat jauh. Setidaknya memerlukan waktu tiga hari tiga malam, untuk membawanya kesana!" Bayu mulai frustasi. Ia mengacak rambutnya sendiri.


"Si*l! Bahkan Nehan pun tidak mau mengobatinya!" Rasa kecewa dari lubuk hati Indera, membuatnya sangat murka.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi antara Raditya dengan sepasang suami istri itu? Mengapa mereka berdua, seakan menutup mata hati mereka? Ini pasti ada alasan jelas, untuk mendapatkan alasan itu." Gemani menggelengkan kepala. Tidak tahu harus melakukan apa.


"Beri waktu satu hari. Apakah dia bisa selamat? Aku bisa membawanya dalam satu hari. Tetapi saya meminta bantuan dari kalian!" Jumantara sadar, ia tidak memiliki banyak waktu.

__ADS_1


"Apa kau punya solusi? Bagaimana kau bisa sampai di sana dalam waktu satu hari?" tanya Bayu hampir tidak percaya. Namun jika ada kesempatan itu, ia harus meyakinkan dirinya. Bahwa ucapan Jumantara harus benar.


"Saya yang akan mengantarnya ke desa Guntur. Tetapi sebelum itu, tolong beri aku kain untuk mengikat Raditya. Saya tidak ingin ia mengalami pendarahan di perjalanan. Karena saya akan memanggil macan putih kesini. Saya memiliki macan putih, dengan pendengaran sangat tajam, dan memiliki kecepatan tercepat yang saya ketahui. Kalian bisa menyusulku!" Jumantara meyakinkan semuanya.


Mereka kini memiliki harapan untuk menyelamatkan Raditya. Sebenarnya jika macan putih itu berada di tempat mereka saat ini, maka menuju ke desa Guntur, memerlukan waktu setengah hari. Tetapi karena macan putih yang jaraknya jauh, perjalanan macan putih, harus memakan waktu setengah hari untuk menuju dimana mereka berada. Dan setengah hari lagi menuju ke desa Guntur.


Untuk memanggil macan putih itu, Jumantara menuju tempat tinggi. Ia menaiki bukit dan menggunakan ajian Macan Putih untuk memanggil hewan tersebut.


***


Perjalanan Nindiya tidak terlalu lama, hanya seperempat hari, ia sudah sampai di desa Banyuasih. Mereka langsung menuju ke tempat Mahadri berada. Namun perjalanan mereka terhenti ketika ratusan pendekar golongan hitam sedang berkumpul. Nindiya berhenti sejenak. Nehan yang ada di samping Nindiya, pun terkejut.


"Kenapa mereka ada di sini? Apa tujuan pendekar-pendekar golongan hitam tersebut?" Nehan melihat banyak pendekar yang menuju ke suatu tempat.


"Gawat! Ayah!" Nindiya mulai panik. Ia tahu arah mana yang mereka tuju. Kalau perkiraannya tidak meleset, ia mengira, mereka menuju ke tempat dimana ayahnya berada.


Nindiya tidak lama berpikir. Ia segera melesat melewati para pendekar tersebut. Para pendekar itu sebagian besar tidak mengetahui keberadaan Nindiya. Saat sampai di sana, ia melihat ayahnya sedang bertarung dengan para pendekar golongan hitam tersebut.


Nindiya segera meninggalkan Nehan. Ia segera membereskan pendekar-pendekar itu dengan sapu anginnya. Ia menyapu angin dengan telapak tangannya yang ia gunakan seperti kipas.


Seketika para pendekar yang tidak cukup sakti, akan terlempar jauh. Walaupun beberapa kali ia menyapu mereka, tetapi mereka berdatangan dari berbagai arah. Bukan hanya dari arah Nindiya datang. Tetapi juga dari arah yang berlawanan dengannya. Mereka semakin berdatangan. Hingga seorang pria yang menggunakan golok besar pun muncul. Dia adalah pemimpin dari golongan hitam. Pemilik perguruan Golok Darah, Ubhaya.


"Sepertinya akan ada pertunjukan yang menyenangkan!" Ubhaya melihat ke arah Daniswara yang bertarung dengan serius.


Daniswara tidak memiliki kehebatan seperti dahulu lagi. Tetapi ia cukup melihat Nindiya yang bahkan terlihat lebih hebat dari Daniswara, walau Nindiya adalah seorang perempuan.

__ADS_1


"Putrimu sangat cantik, Daniswara. Seandainya aku yang menikahi Arini, mungkinkah aku akan memiliki puteri yang sangat cantik sepertinya?" gumam Ubhaya. Lelaki itu menyunggingkan senyumnya. Dua puluh tahun lebih ia menyimpan dendam pada Daniswara. Tetapi melihat Nindiya, ia hanya bisa tersenyum getir. Andaikan ia adalah puteri kandungnya, ia akan merasa sangat senang. Tetapi ia harus menerima kenyataan, Nindiya adalah puteri kandung Daniswara.


***


__ADS_2