
"Nggak apa apa hujan hujanan?" Nehan khawatir karena Nindiya kehujanan di gendongannya.
"Enggak." Jawabnya. Ia semakin menenggelamkan pelukannya.
Nehan berjalan dengan cepat. Sebentar lagi mereka akan sampai di desa Guntur. Akan tetapi pandangan Nehan terhenti saat ia melihat tenda tenda sudah berdiri tidak jauh di tempatnya berada.
Nehan yang sedang menggendong Nindiya yang masih menangis di gendongannya itu tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang terlihat seperti prajurit kerajaan.
"Hei anak muda. Apa kau pernah lihat rombongan kerajaan lewat jalan ini?" Seorang prajurit menanyainya.
Tampak prajurit tersebut berlari kehujanan. Ia yang melihat seseorang yang kehujanan dan membawa perempuan yang digendongnya membuat prajurit itu penasaran.
"Tidak." Jawab Nehan singkat.
"Hmmm... Gadis ini? Apakah..." Prajurit itu penasaran, mengapa ada sepasang muda mudi yang berada di hutan.
Mungkinkah mereka sepasang kekasih yang sedang berbuat yang tidak senonoh. Atau mereka sedang melakukan apapun itu, tetapi melihat manusia yang berada di hutan, mereka bisa saja menjadi penunjuk jalan atau setidaknya memberikan informasi.
Sebelum prajurit itu menyelesaikan kalimatnya, Nehan menjelaskan siapa perempuan yang ia gendong. Ia adalah isterinya. Dan itu membuat sang prajurit manggut manggut. Ia juga mengatakan ada mayat segerombolan prajurit dan orang orang berpakaian serba hitam.
"Jadi. Bagaimana dengan Puteri?" Prajurit tersebut bertanya karena Nehan belum mengatakan dimana sang Puteri berada.
"Puteri?" Nehan tetap waspada. Karena bisa saja mereka bukan orang baik.
"Iya. Kami dari kerajaan Lokapraja. Kami sedang mencari Puteri kami yang saat ini belum pulang. Mungkinkah sang Puteri sudah tiada?"
Karena Nehan melihat prajurit itu tidak sedang berbohong atau mencurigakan, maka Nehan percaya pada prajurit tersebut.
__ADS_1
"Mungkin maksudmu Puteri Padmasari?" Ia membuka suaranya.
Sang prajurit itu menatap lekat pemuda yang terlihat tenang. Ia tahu tentang Puteri mereka. Padahal sang Puteri tidak banyak yang tahu. Hanya orang yang berpendidikan atau orang penting yang pernah tahu tentang sang puteri.
"Iya. Ah kau tahu itu. Kurasa kau orang berpendidikan." Tebak sang prajurit.
"Tidak juga. Saya tahu dimana sang Puteri berada. Dia masih hidup."
"Syukurlah. Baiklah kalau begitu, kau antarkan kami. Agar kami bisa mengantar sang puteri kembali ke istana."
"Ayo ikuti saya. Tetapi mayat mayat prajurit harus kalian urus juga. Mereka berjarak lima ratus meter ke arah sana. Ikuti jalan setapak ini." Terangnya. Ia menunjuk jalan yang baru ia lewati.
"Ooh... Baiklah. Kalau begitu. Prajurit!"
Beberapa prajurit pun berkumpul. Berarti yang berbicara dengan Nehan adalah pimpinan prajurit tersebut. Terlihat mereka yang patuh atas perintah prajurit tersebut.
Kini prajurit yang berjumlah sekitar lima puluhan, terbagi menjadi dua. Tiga puluh prajurit ditugaskan untuk mengurus mayat mayat para prajurit yang gugur. Sementara dua puluh lainnya mengikuti Nehan.
Hujan yang semakin deras, membuat pakaian mereka basah kuyup. Nindiya masih setia memeluk Nehan yang menggendongnya. Ia merasakan dingin disekujur tubuhnya. Tetapi ia merasa senang karena ia tidak harus berjalan lagi.
"Apa kau akan terus tiduran di gendonganku? Tidak maukah kau turun sebentar wahai sang ratu."
"Hehehe... Aku jadi ratu." Kekehnya.
Akhirnya Nindiya turun dari gendongan Nehan. Ia tidak merasa malu pada para prajurit yang memperhatikan kemesraan yang mereka lakukan.
"Anak muda. Huhh... Sepertinya aku teringat masa laluku." Ungkap sang prajurit yang berada di dekat mereka.
__ADS_1
"Hahaha... Bikin iri saja." Imbuh yang lainnya.
"Tuh. Kamu gak malu?" Tanya Nehan menatap wajah manis isterinya.
"Enggak." Ucapnya polos.
Rambut panjang yang basah karena air hujan yang terus mengguyur badan Nindiya. Wajahnya semakin terlihat putih. Ia menggigil kedinginan.
"Huhh... Kok dingin yah."
"Iya. Sini tanganmu." Nehan mengambil tangan Nindiya untuk digosok gosokan dan ia tiup tangan lembut Nindiya.
"Hhhmmm mendingan." Ia bergumam. Senyuman terlukis di bibirnya yang mungil.
"Apa kalian harus memamerkan kemesraan kalian? Pasti kalian pengantin baru." Tebak salah seorang prajurit.
Nehan tidak menanggapi ucapan prajurit tersebut. Karena mereka sudah melihat rumah besar yang berada di desa tersebut. Nehan tidak membawa mereka ke rumah tabib atau rumahnya sendiri. Ia mengarahkan para prajurit ke penginapan. Dimana puteri Padmasari bersama dua pengawalnya berada disana.
"Puteri." Pemimpin prajurit bersama bawahannya langsung berlutut di hadapan sang Puteri.
"Iya. Kalian bangunlah." Titahnya.
Mereka pun berdiri. Mereka merasa lega. Puteri kerajaan Lokapraja sudah mereka temukan. Dengan ini, tugasnya hanya tinggal mengantar sang Puteri ke kerajaan mereka.
Para prajurit yang berada di sana disambut dengan baik oleh pemilik penginapan. Penginapan ini terbilang kecil karena memang sebenarnya ini hanya sebuah rumah besar dari keluarga besar. Sebagian penghuni kamar sudah bekerja di luar desa. Dua puluh prajurit yang tidak mencukupi tempat, hanya bisa berdiri di balai yang luasnya sepuluh kali tujuh meter.
Sebuah balai yang biasa orang orang desa akan berkumpul untuk saling berdiskusi satu sama lain. Adapun sebuah surau di desa Guntur. Tetapi surau itu hanya digunakan untuk beribadah.
__ADS_1
***